Mahfud MD Kritik Seruan Jihad yang Beredar di Media Sosial

Mahfud MD Kritik Seruan Jihad yang Beredar di Media Sosial

JAKARTA, dawainusa.com Sebuah poster dengan wajah Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab dan bertuliskan pesan-pesan yang dinilai sangat provokatif beredar luas di jagat media sosial.

Dalam poster tersebut dituliskan demikian, “Rezim semakin ngawur. Negara semakin kacau. Terlalu lama menanti 2019. Saya serukan kepada segenap umat Islam Ayo…Jihad…!!!”

“Jika wasit sudah ikut main bola Maka tinggal tunggu penonton turun ke lapangan. Jika polisi & Preman sdh berkolaborasi, hanya ada satu solusi Ayo Revolusi, Kejar & Hajar.”

Baca juga: Cuitan Mahfud MD yang Memantik Respon Sejumlah Elit Parpol

Tulisan tersebut kemudian mendapat tanggapan dan kritikan dari mantan Ketua Mahkamah Konstitusi RI Mahfud MD. Lewat cuitan di akun Twitternya, ia menuliskan sebuah bantahan terhadap paham jihad yang termuat dalam poster tersebut serta memberikan penjelasan terkait maksud jihad yang sesungguhnya.

Bagi Mahfud, pada arti yang sesungguhnya, jihad harus dipahami sebagai upaya seorang beriman untuk mengendalikan hawa nafsunya. Dalam konteks Indonesia, kata dia, hal itu dilakukan dengan cara menahan amarah agar tidak terjadinya perpecahan di antara sesama anak bangsa.

“Jihad yg sesungguhnya adl mengendalikan hawa nafsu. Utk konteks Indonesia kini jihad adl bgmn menahan nafsu ammarah agar tdk bermusuhan sesama anak bangsa,” tulis Mahfud MD melalui akun Twitter pribadinya yang diunggah pada Minggu (26/8) pukul 8:29 PM WIB.

Karena itu, melalui cuitan itu ia juga mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak mudah terjebak dalam seruan provokatif tersebut.

“Adalah lebih baik menempuh jalan damai, berembuk dari hati ke hati, daripada bertatung habis2an hny utk agenda 5 tahunan,” lanjut dia.

Ajakan untuk tidak terpengaruh oleh seruan provokatif dalam poster itu juga ditegaskan oleh Mahfud lewat pesan yang dilansir oleh CNN. Ia mengatakan, sebagai sesama anak bangsa, setiap warga negara Indonesia mesti tetap menjaga kerukunan dan keharmonisan di antara satu dengan yang lainnya.

“Mari berdamai sesama anak bangsa. Itu kalimatnya provokatif. Siapapun yang membuat itu terlalu berlebihan. Saya kita itu bukan dari Habib Rizieq juga. Siapapun yang membuat seruan provokatif itu harus berhenti,” kata Mahfud, Senin (27/8).

Terkait sumber tulisan yang ada di dalam poster tersebut, sebelumnya, Juru Bicara FPI Slamet Maarif mengklaim bahwa hal itu memang diserukan langsung dari mulut Rizieq Shihab yang saat ini masih berada di Mekkah.

Slamet menerangkan, ungkapan itu disampaikan Rizieq karena ia merasa geram atas berbagai aksi persekusi dan penolakan yang dilakukan kepada aktivis Neno Warisman dan Ahmad Dhani beberapa hari lalu yang diduga terlibat dalam Gerakan #2019GantiPresiden.

Seperti diketahui, pada saat itu, Neno dilarang untuk menghadiri acara deklarasi #2019GantiPresiden di Pekanbaru. Hal sama juga dialami oleh Ahmad Dani di Surabaya. Keduanya dihentikan secara represif oleh pihak aparat untuk melaksanakan deklarasi itu.

Poster Rizieq Shihab

Poster Rizieq Shihab yang beredar di media sosial – ist

Golkar Geram

Terkait dengan peristiwa penolakan terhadap Neno dan Ahmad Dani yang terlibat dalam Gerakan #2019GantiPresiden tersebut, Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Aburizal Bakrie juga angkat bicara.

Meskipun partainya telah mendeklarasikan diri untuk mendukung calon petahana  (Jokowi-Ma’aruf) pada Pilpres 2019, ia tetap tidak sepakat dengan berbagai tindakan yang dinilai bertentangan dengan iklim demokrasi tersebut.

Baca juga: Pola Riau Berbahaya Jika Dibiarkan, Jokowi Diminta Turun Tangan

Dasar Bakrie mengambil sikap demikian ialah bahwa setiap orang di negara ini memiliki hak yang dijamin secara konstitusional untuk mengekpresikan kebebasan pendapatnya di depan publik.

“Kami menolak dengan keras cara-cara represif dan premanisme terhadap gerakan #2019GantiPresiden tersebut, oleh karena kebebasan menyatakan pendapat dijamin dan diatur oleh undang-undang,” ujar Bakrie, Senin (27/8).

Menusuk Jokowi

Bakri sendiri berpendapat, tindakan yang dilakukan oleh aparat tersebut sangat merusakan citra Jokowi di hadapan publik. Ia menilai, apa yang dilakukan aparat kepada pihak yang ingin mendeklarasikan #2019GantiPresiden itu justru menusuk Jokowi dari belakang.

“Meskipun berbeda pilihan akan tetapi kita harus saling hormat dalam perbedaan itu dan kebebasan dalam menyatakan perbedaan itu dapat dijamin,” kata dia.

Baca juga: Ditolak di Surabaya, Ahmad Dhani Sebut Pendemo Idiot

Walaupun begitu, mantan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat tersebut juga menyanyangkan sikap Ahmad Dani yang dinilai telah mengeluarkan pernyataan berbau provokatif.

“Kami juga menghimbau kepada aktivis #2019GantiPresiden untuk tetap bergerak dalam koridor peraturan perundangan dengan cara-cara santun, bermartabat dan kepatuhan terhadap hukum,” ujar dia.

“Akan tetapi aparat juga hendaknya memberikan pembelajaran demokrasi kepada masyarakat dengan tidak memihak, dan dapat memfasilitasi serta mengatur masing-masing unjuk-pendapat sehingga terhindar dari konflik di lapangan,” lanjut Bakrie.

Bakrie pun berharap agar seluruh masyarakat Indonesia dapat menyambut Pilpres 2019 dengan sikap yang demokratis serta tetap menjaga kerukunan dan perdamaian di antara sesama.

“Mari kita sama-sama saling menjaga aset bangsa terbesar kita yaitu demokrasi agar tidak rusak dan ternoda oleh tindakan provokatif dan represif,” tutur dia.*