Mahasiswa dan Kontestasi Ide Menuju Era Milenial

Mahasiswa dan Kontestasi Ide Menuju Era Milenial

KIRIMAN PEMBACA, dawainusa.com Kembali kita berkutat pada perbincangan seputaran dunia mahasiswa yang selalu disoroti publik, bahwasannya mahasiswa menjadi harapan sebuah bangsa dalam mengisi ruang kompetisi di era milenial.

Proses dialektika yang terus-menerus guna mengasah dan mempertajam nalar adalah bagian daripada menambah wawasan dan kemampuan intelektual. Label yang melekat pada jiwa mahasiswa sebagai pemacu dalam gerakan pembentuk idelisme secara perlahan belakangan ini mulai tergerus oleh arus zaman dan format gerakan yang sedikit demi sedikit hilang.

Dalam mengisi ruang peradaban, mahasiswa adalah elemen penting dalam menjaga keutuhan, kekokohan dan maju atau mundurnya sebuah bangsa. Deretan kisah panjang mengenai perjuangan mahasiswa dalam merebut bangsa ini dari tangan kolonial maupun terhadap rezim yang lalim telah menguras banyak tenaga serta energi yang tak terbayarkan.

Baca juga: Kaum Intelektual di Tengah Realitas ‘Kesakitan’ Demokrasi

Merefleksi kembali perjuangan mahasiswa Indonesia pada tahun 1908 sampai 1998, rentetan perjuangan yang berkepanjangan demi sebuah nation yang bebas dari belenggu asing maupun belenggu dari dalam negeri itu sendiri. Rasa perih yang melilit raga seakan memberi spirit akan perjuangan mengusir mereka yang secara sewenang-wenang bertindak subversif terhadap rakyat.

Dalam kondisi gegap gempita mulai dari persimpangan jalan sampai pada pusat melontarkan beragam aspirasi, mahasiswa terus menujukkan tajinya untuk menjaga keadaban menuju kemakmuran sebuah bangsa. Api semangat yang terus menyala-nyala membuat mahasiswa untuk tidak pernah mundur dalam mengkritisi berbagai regulasi yang tidak sesuai dengan yang diharapakan mahasiswa.

Mandel dengan pidatonya yang menggetarkan ribuan mahasiswa di Universitas Leiden, Negeri Belanda pada tahun 1970, mengatakan, mahasiswa memiliki kewajiban menerjemahkan pengetahuan teoretis, yang mereka peroleh di universitas ke dalam kritik-kritik yang radikal terhadap keadaan masyarakat sekarang dan tentunya relevan dengan mayoritas penduduk.

Mahasiswa harus berjuang di dalam universitas dan di balik itu untuk masyarakat yang menempatkan pendidikan untuk rakyat di depan penumpukan barang. Menurut penulis, salah satu hal menarik yang disampaikan oleh Mandel sebagai pemicu semangat mahasiswa adalah bahwa mahasiswa harus mampu menerjemahkan pengetahuan teoritisnya lewat perjuangan dan gerakan untuk mengkritisi kebijakan yang kontra dengan kepentingan sebuah masyarakat.

Meneguhkan kembali semangat mahasiswa dalam menghadapi berbagai dinamika dan tantangan zaman tentunya tidak hanya sebatas sebuah kata-kata yang terapit rapi dilontarkan ke ruang diskusi. Predikat educated midle class dari dulu hingga kini akan selalu memiliki fungsi strategis bagi mahasiswa guna mengambil bagian dalam menjaga keseimbangan sosial antara pemerintah sebagai pengelola dan rakyat sebagai yang dikelola.

Peran strategis tersebut akan memberi daya dorong serta spirit dalam menjaga label sebagai mahasiswa, sehingga tidak menimbulkan pemikiran serta persepsi yang kontradiktif dari masyarakat. Membangun sense of crisis serta moralitas sebagai sikap menjaga idealisme tanpa melupakan realitas yang sedang terjadi di masyarakat.

Dalam mengisi ruang peradaban, mahasiswa adalah elemen penting dalam menjaga keutuhan, kekokohan dan maju atau mundurnya sebuah bangsa.

Tantangan Zaman

Perkembangan dunia yang semakin modern menuntut manusia untuk harus mampu menguasai dan mengisi ruang global dengan spirit yang tak pernah padam. Apalagi bicara mengenai peran mahasiswa di era yang modern tentunnya, mahasiswa harus mengambil posisi strategis dalam setiap kesempatan yang ada.

Bukanlah suatu perkara mudah bahwa dalam diri mahasiswa tertanam sejuta harapan rakyat dalam memperjuangankan kepentingan-kepentingan masyarakat kecil. Menjaga idealisme agar tetap utuh dan tidak terkontaminasi oleh berbagai virus peradaban.

Di tengah kemajuan dengan kondisi yang serba elitis, mahasiswa akan semakin dininabokan oleh kemewahan dunia dan perlahan akan cuek dengan apa yang menjadi tuntutan orang lemah. Kiranya ini menjadi perhatian serius dari mahasiswa itu sendiri agar mampu merespon peristiwa yang terjadi.

Baca juga: Persoalan Jargon yang Tidak Substantif

Selain itu, bersahabat dengan rakyat adalah tugas maha penting dalam memupuk sinergisitas antara mahasiswa dengan rakyat kecil. Membangun jejaring melalui media sosial akan sangat membantu mahasiswa dalam membangun hubungan kerjasama yang baik di jagat maya.

Budaya westernisasi, munculnya idelogi-idelogi baru di tengah kehidupan bermasyarakat serta budaya hoaks yang tiada ujungnya terus menjamur dan mempengaruhi masyarakat. Inilah yang menjadi tugas mahasiswa untuk tidak pernah memejamkan matanya dalam melawan dan memerangi kegetiran yang tengah muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Kontestasi Ide

Ruang peradaban di era milenial ini, mahasiswa mesti menjadikannya sebagai tempat menciptakan kreasi-kreasi (locus of makes) baru sebagai bentuk bahwa mahasiswa turut berpartisipasi dalam mengisi ruang kompetisi yang kompleks ini.

Kontestasi ide bagi mahasiswa di era milenial ini membutuhkan kecepatan dan kecekatan dalam merespon setiap isu yang bergulir di ruang jagat ini. Kecakapan intelektual harus dikedepankan oleh mahasiswa, sehingga tidak tergiring dan terhempas oleh derasnya gelombang zaman.

Membiasakan diri untuk bergabung dalam club-club diskusi dan kesempatan lainnya yang bernuansa ilmiah sebagai upaya membangun dan menghasilkan gagasan-gagasan yang visioner. Kontestasi ide menuju era yang milenial ini, mahasiswa dituntut untuk terus meyalakan api semangatnya di tengah gempuran zaman yang kian datang silih berganti.

Membangun paradigma berpikir yang konservatif bukan lagi menjadi produk intelektual yang akan mengasah nalar, melainkan membangun paragdigma berpikir yang konstruktif dengan melihat realitas yang terjadi sesuai konteks dan perkembangan zaman. Pertarungan ide dan gagasan akan terus mendenyut dan mengiringi arus peradaban yang makin sengit dan kompetible.

Kiranya mahasiswa tetap menjaga dan mempertahankan idealismenya sehingga tidak terkontaminasi oleh virus yang menggerus api semangat dan daya juang Mahasiswa. Mahasiswa dengan ketajaman nalarnya untuk terus menjaga reputasinya dalam mengisi ruang kompetisi menuju era yang milenial ini.*

Oleh: Robertus Dagul* (Aktivis PMKRI Cabang Kupang)

COMMENTS