Mahasiswa dan Kegusaran Ilmiah

Mahasiswa dan Kegusaran Ilmiah

Mahasiswa dituntut agar lebih peka dengan masalah yang ada. Jangan sampai menjadi mahasiswa yang tak berdaya, mahasiswa yang cuek dengan ketimpangan-ketimpangan sosial di sekitarnya. (Foto: Astra Tandang - ist)

Tulangmu Masih Putih
Merah Darahmu Masih Mengalir
Jangan Kau Coret dengan Nista
Jangan Kau Hias dengan Dusta…

SENANDUNG, dawainusa.com Realitas kampus sebagai wadah diskursus akademis akhir-akhir ini menarik untuk diamati. Jika kita menghadiri diskusi, seminar atau ceramah di kampus-kampus, tema-tema mengenai kebinekaan, keberagaman dan nasionalisme seakan menjadi santapan civitas akademica di kampus-kampus. Mulai dari rung kelas hingga bersua saat melepas lelah di kantin kampus.

Keadaan tersebut sulit disangkali, jika kita tak mengaitkanya dengan potret pilkada DKI Jakarta pasca Basuki Tjahaja Purnama di tahan dalam jeratan kasus penodaan agama, Mei 2017 lalu. Peristiwa itu, secara sporadis merangsang reaksi dan geliat mahasiswa di lingkungan kampus untuk menyemarakan propaganda kebinekaan dan rasa nasionalisme.

Apakah teriakan kebinekaan dan nasionalisme mahasiswa sungguh lahir atas kesadaran kritis terhadap realitas sosial Indonesia yang betul-betul krisis?

Baca juga: Bunuh Diri dan Ideal Manusia sebagai ‘Ens Rationale’

Bak jamur di musim hujan, mahasiswa menjelma dari pribadi generasi Z yang padanya disematkan label pragmatis, individualis, kreatif dan paham teknologi menjadi lebih inklusif dan peka terhadap situasi kemanusiaan di sekitarnya, sambil mendengungkan jargon “NKRI HARGA MATI” dan berbagai pekikan aforistis lainya.

Yang menarik untuk ditelisik gejalah yang latah ini adalah, apakah teriakan kebinekaan dan nasionalisme mahasiswa sungguh lahir atas kesadaran kritis terhadap realitas sosial Indonesia yang betul-betul krisis? Atau secara pragmatis dan reaktif merespon gejala yang ada di masyarakat agar tampak partisipatif dan konsistensi dengan situasi sosial yang ada?

Demikian juga, masih tegarkah mahasiswa berkumandang tentang kebinekaan di tengah masalah Digiyai Berdarah di Papua, Human Traficking di NTT, Persoalan Bandara Kulon Progo di DIY dan ribuan masalah lainya?

Adahkah yang lebih heroik dari sikap acuh tak acuh kepada para petani Lampung yang masih berjibaku dengan persengketaan agraria dengan PT BNIL. Persengketaan yang meyeret salah satu pendeta ke jeruji besi dengan vonis 1,5 tahun penjara karena berupaya memihak para petani.

Juga, sempatkah mahasiswa menarik benang kusut tentang masalah kebinekaan kita, saat komunitas Muslim di Sulawesi Utara yang kesulitan membagun Masjid, kaum Buddhis di jawa Timur yang tidak bisa sembayang di Wihara mereka, umat Hindu di Yogyakarta yang kesulitan membagun Pura walaupun sudah mendapat izin atau umat Kristiani yang kesulitan membangun dan menggunakan Gereja di beberapa kota di Jawa Barat.

Dimana semuanya bisa ditelisik akibat partikularisme keagamaan, kemudian buruknya ia bersetubuh dengan sikap militansi dan radikalisme yang mulanya dibumbui oleh doktrin keagamaan yang ekslusive (Samsu Rizal Panggabena dkk:125).

Apakah roh nasionalisme mahasiswa yang tampak berwujud suci masih menyediakan ruang tipis untuk kritis pada situasi kesejangan sosial, bahaya laten korupsi, masalah agraria, dan beragam potret destruktif lainnya di negeri ini.
Inilah realitas kebangsaan kita yang sesungguhnya! Dan juga, inilah wajah mahasiswa yang mengalami degradasi imajinasi politik dalam membaca realitas kebinekaan yang ada.

Apakah roh nasionalisme mahasiswa yang tampak berwujud suci masih menyediakan ruang tipis untuk kritis pada situasi kesejangan sosial, bahaya laten korupsi, masalah agraria, dan beragam potret destruktif lainnya di negeri ini.

Mahasiswa Posisikan Kebenaran Secara Tepat

Keberadaan diri sebagai mahasiswa sesungghnya turut mengantongi hasrat atau naluri akademis yang tinggi disertai libido nalar kritis yang menggelora setiap saat. Realitas sosial yang kritis adalah kecamuk intelektual yang mesti diteggarai. Inilah yang disebut kegusaran llmiah.

Kegusaran ilmiah itu, mari kita simak pada apa yang dituliskan Rene Descartes (1596-1650), filsuf yang memperkenalkan sebuah ide filosofis termasyhur, yan disebutnya ‘methodicum doubth’ atau ‘kesangsian methodis’ yang secara mendalam dapat dimanfaatkan untuk mempertanyakan dan menguji sesuatu yang diangap absolut (Max Regus:134).

Ruang akademis adalah tempat persemaian bibit-bibit imajinasi tentang masa depan. Di sinilah mahasiswa mengambil peran strategis dalam menyikapi konflik sosial yang ada.

Baca juga: Sepri dan Pilihan Hidupnya

Descartes mengehendaki agar kita senantiasa menimbang realitas yang ada, meragukan segala sesuatu hingga sesuatu itu tidak dapat diragukan lagi, serta memposisikan kebenaran secara tepat. Disni, mahasiswa dituntut agar secara tepat cepat dan tepat merajut sebuah pilihan sikap diri yakni; mahasiswa harus sanggup mengambil ‘tempat intelektual’ yang tepat untuk menegasikan segala sesuatu yang diskriminatif, salah dan sesat.

Namun, turut disadari secara serius, sikap kesangsian yan diambil mahasiswa bukan seperti sebuah syair tanpa realitas. Ia adalah gelora kuriositas dan akumulasi dari sikap kritis berbentuk argumentasi yang didasari telaah terhadap suatu kebenaran, keyakinan atau ideologi.

Pada tataran inilah baru kita meyakini diri atas tindakan kita dengan menyebut kesangsian methodis, serta menjadi absah dalam sebuah tindakan yang diorientasikan untuk mengukur rasionalitas dan kejernihan melihat relaitas. Di tengah degradasi imajinasi politik yang terjadi pada mahasiswa, teolog Marxis Jerman abad ke-20, Ernst Bloch juga turut menyuguhkan prespektif yang menarik.

Dalam trilogi magnum opusnya yang berjudul Das Prinzip Hoffnug (Principle of Hope), Bloch menyampaikan pokok-pokok pikiran yang meberi ruang akdemis, seni, budaya sebagai wadah persemaian semangat akademis dalam menelisik kebuntuan atas masalah sosial akibat pengaruh kapitalisme yang membelenggu setiap aspek kebudayaan manusia.

Baginya, ruang akademis adalah tempat persemaian bibit-bibit imajinasi tentang masa depan. Di sinilah mahasiswa mengambil peran strategis dalam menyikapi konflik sosial yang ada. Nalar kritis dan imajinasi tentang masa depan bangsa ini harus lahir atas pergulatan intelektual yang dalam. Sehingga dengan sendirinya melahirkan narasi-narasi perubahan atas masalah bangsa ini.

Tanggalkan Jiwa Nasionalis Reaktif

Di tengah kegandrungan mahasiswa atas masalah kebinekaan, sesungghunya ia telah terlampau jauh jatuh ke dalam sikap nasionalisme reaktif yang nampak direpresentasikan melalui jargon “NKRI HARGA MATI” dan jargon kebinekaan semu lainya.

Mahasiswa dituntut agar lebih peka dengan masalah yang ada. Jangan sampai menjadi mahasiswa yang tak berdaya, mahasiswa yang cuek dengan ketimpangan-ketimpangan sosial di sekitarnya.

Baca juga: Jenderal Praljak, Jebolan Filsafat Zagreb yang Bunuh Diri di Ruang Sidang

Mestinya, jargonya adalah “NKRI HARGA HIDUP” agar tidak ada lagi kehidupan sosial masyarakat tindakan diskriminatif, ekslpoitatif maupun destruktif. Mahasiswa dituntut agar lebih peka dengan masalah yang ada. Jangan sampai menjadi mahasiswa yang tak berdaya seperti yang diungkapkan oleh Mudji Sutrisno dalam Kesadaran Kritis (Jakarta: Tempo, 1992).

Dimana mahasiswa, menjadi cuek dengan ketimpangan-ketimpangan sosial di sekitarnya dan terjadinya reifikasi kesadaran kritis dalam dunia pendidikan dengan tujuan mengekang daya juang dan sikap kritis mahasiswa.*

Penulis : Astramus F. Tandang* (Sekjen PMKRI Cabang Yogyakarta)