Lima Saksi Diperiksa KPK Terkait Kasus Suap Walkot Tanjungbalai
Gedung KPK/Ist

Dawainusa.com – Lima saksi diperiksa rim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait dengan kasus suap Wali Kota Tanjung Balai.

Diketahui, hari ini Tim Penyidik KPK mengagendakan lima orang saksi terkait kasus tersebut untuk tidak menaikkan perkara ke tingkat penyidikan dengan tersangka penyidik KPK Ajun Komisaris Polisi (AKP) Stepanus Robin Pattuju dkk.

Dilansir dari RRI, Jumat (6/5/2021), Plt Jubir KPK Ali Fikri mengatakan, kelima orang tersebut terdiri dari Wakil Ketua DPR RI berinisial AS, Ketua Lingkungan ; Abdul Rahim Sirait dan seorang PNS bernama Waris.

Gedung KPK
Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)/Ist

Baca jugaPemerintah Tandingan Myanmar Bentuk Sayap Militer Lawan Junta

Pemeriksaan Lima Saksi Kasus Suap

Mereka akan diperiksa untuk melengkapi berkas penyidik SRP (Stepanus Robin Pattuju).

” Ketiga orang ini akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka SRP ,” Kata Ali dalam keterangannya, Jumat (7/5/2021).

Tidak hanya memanggil ketiga orang tersebut, penyidik antirasuah juga memanggil dua orang saksi, yaitu Sekda Tanjungbalai ; Yusmada dan seorang protokoler bernama Darwansyah Merta Wijaya.

Mereka akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Walkot Tanjungbalai MS (M. Syahrial).

Dalam kasus ini KPK menjerat penyidiknya, AKP Stepanus Robin Pattuju, pengacara Maskur Husain, dan Wali Kota Tanjungbalai M Syahrial. Robin dan Maskur diduga menerima suap dari Syahrial sebesar Rp 1,3 miliar dari komitmen fee Rp 1,5 miliar.

Suap dilakukan agar Robin membantu menghentikan penyelidikan kasus dugaan korupsi di Pemerintahan Kota (Pemkot) Tanjungbalai.

KPK menduga ada keterlibatan Wakil Ketua DPR RI berinisi AZ dalam kasus ini. KPK menduga AZ meminta Robin agar membantu mengurus perkara Syahrial di KPK.

Baca jugaKarena Covid-19, Warga Malaysia di India Dijemput Pulang

Ketua KPK Firli Bahuri menyebut, permintaan AZ kepada Robin bermula saat pertemuan yang dilakukan mereka di rumah dinas AZ. Pertemuan tersebut terjadi pada Oktober 2020.

Menurut Firli, dalam pertemuan tersebut AZ mengenalkan Robin sebagai penyidik KPK kepada Syahrial.

Saat itu, Syahrial tengah memiliki permasalahan terkait penyelidikan dugaan korupsi di Pemerintah Kota (Pemkot) Tanjungbalai yang sedang dilakukan KPK.

“Dalam pertemuan tersebut, AZ (Azis) memperkenalkan SRP dengan MS karena diduga MS memiliki permasalahan terkait penyelidikan di KPK agar tidak naik ke tahap penyidikan dan meminta agar SRP dapat membantu supaya permasalahan penyelidikan tersebut tidak ditindaklanjuti oleh KPK,” ujar Firli.

Firli mengatakan, usai pertemuan di rumah dinas AZ, kemudian Robin memperkenalkan Syahrial kepada pengacara Maskur Husein untuk membantu permasalahan Syahrial.

Kemudian, ketiganya sepakat dengan fee sebesar Rp 1,5 miliar agar Robin membantu kasus dugaan korupsi di Pemkot Tanjungbalai tak diteruskan oleh KPK.

Dari kesepakatan fee tersebut, Syahrial telah memberikan Rp 1,3 miliar baik secara cash maupun transfer.

“MS (Syahrial) menyetujui permintaan SRP (Robin) dan MH (Maskur) tersebut dengan mentransfer uang secara bertahap sebanyak 59 kali melalui rekening bank milik RA (Riefka Amalia) teman dari saudara SRP, dan juga MS memberikan uang secara tunai kepada SRP hingga total uang yang telah diterima SRP sebesar Rp 1,3 miliar,” kata Firli.

Firli menyebut, pembuatan rekening penampung uang suap dilakukan sejak Juli 2020 atas inisiatif Maskur. Menurut Firli, selain penerimaan uang dari Syahrial, KPK menduga Robin dan Maskur menerima suap dari pihak lain.

“MH juga diduga menerima uang dari pihak lain sekitar Rp 200 juta sedangkan SRP dari bulan Oktober 2020 sampai April 2021 juga diduga menerima uang dari pihak lain melalui transfer rekening bank atas nama RA sebesar Rp 438 juta,” kata Firli.*