Dawainusa.com — Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa jumlah korban yang tewas akibat ledakan besar di kota Beirut, ibukota negara itu, berjumlah 78 orang. Sementara itu, ribuan orang lainnya mengalami luka-luka.

“Banyak orang hilang saat ini. Mereka bertanya ke departemen darurat tentang orang-orang yang mereka cintai, ini sulit untuk mencari di malam hari karena tidak ada listrik. Kami menghadapi bencana nyata dan perlu waktu untuk menilai tingkat kerusakan,” kata Menkes Beirut, Hamad Hassan kepada Reuters, Rabu (5/8).

Namun, Hassan belum menjelaskan secara rinci soal penambahan jumlah korban karena sebelumnya diberitakan sebanyak 3.700 orang luka-luka akibat ledakan tersebut.

Satu WNI Terluka

Satu orang warganegara Indonesia (WNI) dilaporkan terluka akibat ledakan tersebut. Namun korban dalam kondisi stabil dan dapat berkomunikasi dengan baik.

Hal itu diungkapkan oleh Kementerian Luar Negeri dalam keterangannya yang mengatakan bahwa satu korban luka telah berhasil di kontak KBRI Beirut.

“KBRI akan terus melakukan pendampingan kepada ybs hingga pulih,” tulis rilis KBRI Beirut.

Ledakan besar tersebut terjadi pada Selasa (4/8) pukul 18.02 waktu setempat, berdekatan dengan Downtown Beirut dan berjarak sekitar 7 km dari KBRI Beirut.

KBRI Beirut juga telah melakukan koordinasi dengan otoritas setempat dan melakukan pengecekan kepada WNI lainnya yang berada di Beirut.

Ledakan tersebut juga menimbulkan kerusakan besar pada Istana Baabda, kediaman resmi presiden Lebanon. Ledakan menghancurkan jendela lorong, pintu masuk, dan salon.

Dihimpun dari berbagai sumber, ledakan besar mengguncang Beirut pada awalnya diyakini sebagai kebakaran besar di sebuah gudang petasan di dekat pelabuhan Beirut. Ledakan itu membentuk seperti awan jamur dan merusak bangunan di pelabuhan.

Perdana Menteri Lebanon Hassan Diab bersumpah akan mencari siapa orang yang membuat ledakan ini. Dia akan meminta pertanggungjawaban atas ledakan tersebut.

“Apa yang terjadi hari ini tidak akan berlalu tanpa pertanggungjawaban. Mereka yang bertanggung jawab atas bencana ini akan membayar harganya,” kata Hassan dalam pidato yang disiarkan televisi, melansir AFP, Rabu (4/8).

Dipicu oleh Senyawa Amonium Nitrat

Dalam penyelidikan lebih lanjut, Hassan Diab mengatakan ada sekitar 2.750 ton amonium nitrat tersimpan di gudang lokasi ledakan besar Beirut.

Hassan menyebut pengiriman bahan pemicu ledakan itu tersimpan di gudang selama 6 tahun. Ia mengaku tidak bisa menerima kenyataan tersebut.

“Tidak dapat diterima bahwa pengiriman 2.750 ton amonium nitrat telah ada selama enam tahun di sebuah gudang, tanpa mengambil langkah-langkah pencegahan,” katanya seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (4/8).

Amonium nitrat sendiri biasanya digunakan sebagai komponen campuran peledak yang digunakan dalam konstruksi pertambangan, penggalian, dan konstruksi sipil.

Kepala Dinas Keamanan Publik Lebanon Abbas Ibrahim menyebut bahwa “material berdaya ledak tinggi'” yang disita beberapa tahun sebelumnya, disimpan di gudang yang dilanda ledakan. Penyebab pasti dari insiden ini masih dalam penyelidikan.

Terasa Sampai ke Siprus

Ledakan yang mengguncang Beirut begitu kuat. Getaran tanah akibat ledakan itu terasa di pulau tetangga Siprus, sekitar 240 kilometer jauhnya dari Lebanon, menurut European-Mediterranean Seismological Center (EMSC).

“Kami menerima sejumlah laporan dari Siprus yang tampaknya terkait dengan ledakan ini, melaporkan kebisingan dan jendela berderak,” tulis EMSC melalui Twitter.

Beberapa orang di Siprus turut merasakan getaran dashyat dari ledakan itu. “Ledakan itu terasa di Limassol, Siprus, jendela kita terguncang,” cuit Elias Mavrokefalos di Twitter.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Siprus Nikos Christodoulides juga mencuit bahwa dia dalam komunikasi dengan Pemerintah Lebanon dan telah menginformasikan kesiapan Siprus segera untuk membantu Lebanon.

Trump Klaim Merupakan Serangan Bom

Presiden AS Donald Trump mengklaim para jenderal AS memberitahunya bahwa ledakan besar yang mengguncang Beirut terindikasi sebagai serangan bom.

Trump menilai ledakan besar di Beirut itu seperti serangan yang mengerikan. Trump juga menduga ledakan itu dipicu oleh serangan bom dari teroris.

“Itu tampak seperti serangan yang mengerikan,” sebut Trump dalam pernyataan kepada wartawan di Gedung Putih, seperti dilansir AFP, Rabu (5/8).

“Itu terlihat seperti itu, berdasarkan ledakannya. Saya bertemu dengan beberapa jenderal besar kita dan mereka sepertinya merasa begitu,” imbuh Trump. “Itu semacam bom, iya,” tegasnya kepada wartawan.

Namun tiga pejabat Pentagon menyampaikan bantahan kepada CNN pada Selasa (4/8) malam. Ketiga pejabat Pentagon yang enggan disebut identitasnya itu menegaskan tidak ada indikasi bahwa ledakan besar di Beirut merupakan sebuah serangan.

Para pejabat Pentagon itu menyatakan merekat tidak memahami apa yang dimaksud Trump soal indikasi serangan itu.

Salah satu pejabat Pentagon ini menekankan bahwa jika memang ada indikasi serangan dengan skala sebesar itu, maka secara otomatis akan memicu peningkatan perlindungan bagi tentara AS dan aset-aset AS yang berada di kawasan tersebut.

Trump pun menyampaikan duka cita mendalam atas peristiwa ledakan besar di Lebanon. Trump menyatakan AS siap membantu Lebanon.

“Mari kita mulai mengirimkan doa, Amerika menyampaikan duka cita mendalam untuk orang-orang di Lebanon, di mana laporan menunjukkan banyak orang tewas, ratusan lainnya terluka parah dalam ledakan besar di Beirut,” kata Trump pada konferensi pers Selasa malam, dilansir CNN, Rabu (5/8).

Trump mengatakan hubungan bilateral antara AS dan Lebanon sangat baik. Karena itu, AS siap memberikan bantuan ke Lebanon.

“Hubungan (AS) sangat baik dengan rakyat Lebanon, dan kami akan ada di sana untuk membantu,” pungkasnya.*