Dawainusa.com —¬†Para ilmuwan memperkirakan bahwa ledakan besar yang terjadi di Beirut, ibukota Lebanon, pada Selasa (4/8) petang waktu setempat, setara dengan seperlima ledakan akibat bom atom di Kota Hiroshima tahun 1945 silam.

Peristiwa kelam di penghujung Perang Dunia II itu menewaskan 90.000-146.000 penduduk di Kota Hiroshima, Jepang, tepat pada 6 Agustus 1945, 75 tahun lalu. Bom atom yang kemudian memenangkan Sekutu (AS) itu menimbulkan trauma sejarah.

Selama berbulan-bulan, banyak korban berjatuhan akibat luka bakar, penyakit radiasi, dan cedera lain yang disertai sakit dan kekurangan gizi.

Sebagaimana diberitakan Kompas.com, ledakan yang mengguncang Kota Beirut pun disebutkan begitu dahsyat dan meluluhlantahkan penduduk kota.

Ledakan Lebanon ini menarik perhatian seluruh dunia. Para ilmuwan memperkirakan ledakan ini setara dengan ledakan 3 kiloton TNT.

Seperti terlihat dari video ledakan yang beredar, banyak warga yang merekam dampak ledakan pertama dengan asap abu-abu yang membubung tinggi. Setelah ledakan pertama, disusul ledakan kedua yang jauh lebih besar dengan radius yang lebih luas.

Seorang jurnalis BBC di tempat kejadian melaporkan banyak mayat dan kerusakan parah terjadi. Media lokal menunjukkan orang-orang yang terjebak di bawah puing-puing.

Seorang saksi mata menggambarkan bahwa suara ledakan itu memekakkan telinga. Sementara rumah sakit dikatakan kewalahan dan banyak bangunan hancur.

Ledakan Lebanon juga terasa 240 kilometer jauhnya di pulau Siprus di Mediterania timur, dengan orang-orang di sana mengatakan mereka mengira itu adalah gempa bumi.

Bersumber dari Amonium Nitrat

Perdana Menteri Hassan Diab menyatakan, penyebab ledakan tersebut disinyalir karena 2.750 ton amonium nitrat yang merupakan pupuk pertanian di lokasi tersebut.

Menurut penyelidikan, pupuk itu disimpan selama bertahun-tahun dalam gudang di tepi laut, dekat Pelabuhan Beirut.

Pemerintah Lebanon pun segera menggelar penyelidikan untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas insiden mengerikan tersebut.

“Apa yang terjadi hari ini tidak akan dibiarkan begitu saja. Mereka yang bertanggung jawab akan menerima akibatnya,” janji Diab, melansir Kompas.com.

Akibat ledakan besar tersebut, 78 penduduk meninggal dunia dan sekitar 4.000 orang lainnya mengalami luka-luka. Salah satunya dialami warganegara Indonesia.

Menteri Kesehatan Lebanon Hamad Hasan mengatakan, insiden tersebut merupakan bencana yang sangat dahsyat karena melukai banyak warga.

Pemimpin dan masyarakat dunia turut merasa prihatin dengan perisitiwa naas yang melanda negara tersebut di tengah peperangan melawan pandemi virus corona.

Lantas, tagar #Beirut dan #PrayForLebanon populer di media sosial. Para pengguna Twitter berbondong-bondong mendoakan yang terbaik setelah Beirut diguncang ledakan tersebut dengan dimbuhi tagar #PrayForLebanon.

Seperti diberitakan Kompas, tagar #PrayforLebanon telah di-tweet 171.000 kali, sedangkan #Beirut telah dikicaukan sebanyak 2,74 juta kali.

Siapkan Dana Darurat Rp961 Miliar

Presiden Lebanon Michel Aoun mengumumkan bahwa pemerintah akan mengalokasikan dana darurat sebesar US$66 juta (setara Rp Rp961,9 miliar) untuk bencana ledakan besar yang terjadi di Beirut, seperti diberitakan BBC, Rabu (5/8).

Aoun menjadwalkan pertemuan kabinet yang mendesak untuk menetapkan hari berkabung nasional selama tiga hari (Rabu-Jumat), dan menyatakan status darurat untuk Beirut selama 2 minggu ke depan.

Aoun mengatakan gedung yang diindikasi sebagai pusat ledakan merupakan gudang untuk 2.750 ton amonium nitrat yang telah disimpan secara tidak aman selama enam tahun.

Amonium nitrat yang disimpan di gudang yang meledak dilaporkan berasal dari kapal yang disita di pelabuhan Beirut pada 2013 silam, dan kemudian disimpan di gudang tersebut.

Amonium nitrat memiliki sejumlah kegunaan yang berbeda, tetapi dua yang paling umum adalah sebagai pupuk pertanian dan sebagai bahan peledak.

Senyawa kimia ini sangat eksplosif ketika bersentuhan dengan api, dan ketika meledak, amonium nitrat dapat melepaskan gas beracun termasuk nitrogen oksida dan gas amonia.

Zat ini sangat mudah terbakar, sehingga ada aturan ketat tentang cara menyimpan zat dengan aman, salah satunya harus benar-benar tahan api.

Selain itu, tidak boleh ada saluran air, pipa atau saluran lain, di mana amonium nitrat bisa terpicu untuk menciptakan bahaya ledakan lebih besar.

Terhadap tragedi ini, banyak negara mulai menawarkan bantuan untuk memulihkan situasi dan krisis kemanusiaan akibat ledakan Lebanon tersebut.*