Dawainusa.com —¬†Gibran Rakabuming Raka berpeluang besar melawan “kotak kosong” dalam Pemilihan Walikota Solo 2020 mendatang.

Putra sulung Presiden Jok Widodo saat ini mengantongi dukungan besar dari partai-partai dengan kursi besar di DPRD Solo. Berpasangan dengan Teguh Prakosa, Gibran sudah mendapat dukungan dari PDI Perjuangan (30 kursi) dan Partai Gerindra (3 kursi).

Meski belum resmi, sejumlah partai lain, seperti Golkar (3 kursi), PAN (3 kursi) dan PSI (1 kursi), sudah menyatakan dukungan kepada pendiri perusahaan martabak yang disebut “Markobar” tersebut. Sementara, PKS (4 kursi) tetap memilih sebagai oposisi.

Dengan dukungan “buncit” tersebut, Gibran-Teguh berpeluang besar memenangkan kontestasi demokrasi lima tahunan di Kota Solo.

Ia akan mengikuti jejak ayahnya yang memenangkan Pilwalkot Solo tahun 2005 silam meski baru pertama kali terjun ke dunia politik. Bapak-anak ini pun terjun ke dunia politik sama-sama berlatar belakang sebagai pengusaha. Bedanya, Jokowi merintis usaha perbengkelan, Gibran mendirikan usaha kuliner.

Baca Juga: Tanggapan Gibran Soal Dapat Rekomendasi Megawati Maju Pilkada Solo

PDIP sebagai partai dengan dukungan mayoritas kepada Gibran-Teguh tidak keberatan apabila pasangan yang mereka usung melawan kotak kosong. Fenomena kotak kosong bukan lagi sesuatu yang baru dalam pesta demokrasi Indonesia.

“Apakah ada lawan atau tidak bukan urusan kita. Biar KPU yang menentukan,” ujar Putut Gunawan, Ketua Tim Pemenangan Gibran-Teguh, kepada Detikcom beberapa waktu lalu.

Partai Gerindra pun mengatakan bahwa Gibran-Teguh berpotensi menjadi calon tunggal pada Pilwalkot Solo 2020. Itulah mengapa partai pimpinan Prabowo Subianto itu mendukung pasangan beda generasi tersebut.

“Sepertinya di sana (Solo) calon tunggal. Kemudian kedua tentu saja Pak Prabowo adalah Menteri Pertahanan yang merupakan menteri dari Pak Jokowi. Jadi saya kira hubungan-hubungan itu juga menjadi alasan kita mengambil keputusan itu,” ungkap Ahmad Muzani , Sekjen Partai Gerindra saat hadir dalam pemberian rekomendasi dukungan kepada Gibran-Teguh di DPC Gerindra Solo, 3 Agustus lalu.

Gibran sendiri tidak mempermasalahkan kemunngkinan pasangannya akan melawan kotak kosong. Sebab, kata dia, itu merupakan kewenangan KPU.

“Itu kan yang menentukan KPU. Tidak masalah (ada atau tidak ada lawan),” katanya di sela acara Musyawarah Ranting se-Kecamatan Pasar Kliwon, di Ndalem Mloyokusuman, Baluwarti, Solo, Kamis (6/8).

Baca Juga: Selain Gibran, Ini Keluarga Jokowi Lainnya yang Daftar Jadi Calon Kepala Daerah

Gerakan “Kotak Kosong”

Fenomena politik yang memunculkan calon tunggal di Kota Solo membuat beberapa pihak “panas”. Sejumlah aktivis pun bergerak mengampanyekan melawan kotak kosong.

Para aktivis kota umumnya menilai bahwa fenomena kotak kosong membuktikan bahwa proses demokrasi di Kota Solo tidak berjalan dengan baik alias mandek.

Lebih dari itu, mereka berpandangan bahwa kondisi politik tersebut membuktikan bahwa oligarki masih bercokol kuat dalam sistem politik dan partai di Solo.

“Saya pikir kalau tidak ada penyeimbang, itu tidak sehat untuk demokrasi. Saya mendorong kotak kosong dalam konteks seperti itu. Jadi ada pihak yang mengkritisi dalam konteks demokrasi,” kata Zen Zulkarnaen, aktivis budaya Kota Solo, Kamis (6/8).

Baca Juga: Ipar Jokowi Mundur dari Cabup Gunungkidul, Begini Komentar Pengamat Politik

Andi Setiawan, salah satu dosen di perguruan tinggi di Solo pun melontarkan kritik keras terhadap fenomena kotak kosong tersebut.

Ia menilai bahwa sistem oligarki dan politik dinasti sedang terjadi di Solo. Ia tidak mempersalahkan Gibran, tetapi sistem demokrasi tidak berfungsi dengan baik di Solo.

“Silakan kalau bilang bukan politik dinasti, tetapi faktanya seperti itu, demokrasi semakin formalistik. Bagi saya ini sebuah kemunduran,” ungkap Andi.*