Latar Indonesia, Saat ‘Malam Kudus’ Diciptakan 200 Tahun Lalu

Latar Indonesia, Saat ‘Malam Kudus’ Diciptakan 200 Tahun Lalu

SENANDUNG, dawainusa.com – Lagu ‘Malam Kudus’ kini menjadi salah satu lagu Natal yang paling populer di dunia. Namun, belum banyak yang tahu bahwa ada latar Indonesia saat lagu dengan judul asli Stille Nacht itu diciptakan.

Tepat pada tanggal 25 Desember 2018 mendatang, Austria turut memperingati 200 tahun diciptakannya lagu Malam Kudus yang juga umum dikenal dengan penyebutan ‘Silent Night, Holy Night’.

Dilansir stillenacht.com, laman yang khusus dipersembahkan untuk peringatan itu, sejumlah acara dilangsungkan di seantero Austria untuk turut merayakan dua abad usia lagu yang kini telah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa dunia itu.

Baca jugaMakna Dibalik 7 Simbol Natal

Malam Kudus pertamakali dikumandangkan dalam perayaan natal di gereja Oberndorf  Austria, 200 tahun yang lalu. Lagu tersebut merupakan hasil kolaborasi antara organis gereja Oberndorf, Franz Xaver Gruber, dan sang penulis teks, Joseph Mohr.

“Hari itu 24 Desember 1818, Josef Mohr datang ke gereja di Oberndorf dan menyerahkan sebuah sajak kepada saya, dengan permohonan untuk menciptakan melodi dengan dua suara solo dan suara koor dengan iringan gitar,” demikian kisah yang pernah dituturkan Franz Xaver Gruber.

Keesokannya, dalam kebaktian Natal 25 Desember 1818 di desa kecil Oberndorf, untuk pertamakalinya Malam Kudus dinyanyikan. Lagu itu dibawakan dengan dua suara pria, Joseph Mohr dan Franz Xaver Gruber, diiringi petikan gitar Joseph Mohr.

‘Malam Kudus’ dan Letusan Tambora 200 Tahun Lalu

Teks lagu Malam Kudus awalnya merupakan puisi berjudul Stille Nacht yang telah ditulis Joseph Mohr pada 1816, dua tahun sebelum digubah menjadi lagu dan dinyanyikan untuk pertamakalinya. Puisi itu ditulisnya saat masyarakat Eropa sedang dilanda kelaparan dan kesulitan luar biasa.

Diceritakan, Napoleon Bonaparte telah melumpuhkan, menjarah dan membakar seluruh bentangan tanah Eropa melalui serangkaian perang dan kampanye militer yang dilakukannya dalam periode 1792 hingga 1815.

Kekejaman perang itu  berakhir saat tanggal 1 Mei 1816, ketika Salzburg, negara bagian Austria, tempat Joseph Mohr hidup, diserahkan kepada sebagai hasil dari Perjanjian Munich.

Baca jugaPrabowo Akan Hadiri Natal Nasional Gerindra di Atambua

Teks asli lagu malam kudus

Stille Nacht , teks lagu Malam Kudus yang telah diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa dunia – stillenacht.net

Namun, penderitaan mereka ternyata tidak berhenti sampai di situ. Letusan Gunung berapi Tambora di Indonesia pada April 1815, ternyata menjadi bencana alam dengan konsekuensi global hingga setahun setelahnya. Pasca letusan itu, suhu rata-rata di seluruh dunia turun hingga dua derajat.

Dalam catatan sejarah Eropa, tahun 1816 menjadi “Tahun Tanpa Musim Panas” akibat perubahan iklim yang dipicu kedahsyatan letusan gunung Tambora di Sumbawa, Indonesia. Hasil panen para petani Eropa menjadi rusak akibat hujan dan salju yang tak berkesudahan.

Masyarakat Austria pun turut menanggung beban itu. Gagal panen yang luar biasa berujung pada kelaparan yang merajalela. Para petani dan masyarakat menjadi putus asa dan apatis. Penderitaan akibat situasi itu membuat orang-orang menganggap bencana itu sebagai “hukuman dari Tuhan”.

Dalam kondisi itulah puisi Stille Nacht (Malam Kudus) ditulis oleh Joseph Mohr (1792 – 1848), seorang pastor  Austria yang mendedikasikan hidupnya bagi kaum miskin dan tertindas.

Baca jugaGubernur Papua: Momen Natal, Tidak Boleh Ada TNI dan Polri di Nduga

Sadar akan kecemasan dan penderitaan yang dialami bangsanya, Stille Nacht itu ditulis sebagai harapan akan penyelamatan dari penderitaan melalui kelahiran Yesus Kristus. Di dalamnya, Joseph Mohr juga sekaligus mengungkapkan keyakinannya akan cinta Tuhan yang abadi kepada ciptaannya di dunia.

Pada tahun 2011, Malam Kudus dinyatakan sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO dan telah dianggap sebagai salah satu lagu tentang perdamaian dunia.

Stille Nacht, ‘Malam Kudus’ dalam Teks Aslinya 

Berikut teks asli lagu Malam Kudus yang dinyanyikan pertamakali oleh Joseph Mohr dan Franz Xaver Gruber di Oberndorf Austria, 200 tahun yang lalu.

Stille Nacht! Heilige Nacht!
Alles schläft, einsam wacht
Nur das traute hochheilige Paar.
Holder Knabe im lockigen Haar,
Schlaf in himmlischer Ruh!
Schlaf in himmlischer Ruh!

Stille Nacht! Heilige Nacht!
Gottes Sohn, o wie lacht
Lieb aus deinem göttlichen Mund,
Da uns schlägt die rettende Stund‘.
Christ, in deiner Geburt!
Christ, in deiner Geburt!

Stille Nacht! Heilige Nacht!
Die der Welt Heil gebracht,
Aus des Himmels goldenen Höh‘n
Uns der Gnaden Fülle lässt seh‘n
Jesus, in Menschengestalt,
Jesus, in Menschengestalt

Stille Nacht! Heilige Nacht!
Wo sich heute alle Macht
Väterlicher Liebe ergoss
Und als Bruder huldvoll umschloss.
Jesus, die Völker der Welt,
Jesus, die Völker der Welt.

Stille Nacht! Heilige Nacht!
Lange schon uns bedacht,
Als der Herr vom Grimme befreit,
In der Väter urgrauer Zeit
Aller Welt Schonung verhieß,
Aller Welt Schonung verhieß.

Stille Nacht! Heilige Nacht!
Hirten erst kundgemacht
Durch der Engel Halleluja,
Tönt es laut von ferne und nah:
Christus, der Retter, ist da!
Christus, der Retter ist da!*

COMMENTS