Lakukan Pelecehan Seksual, Seorang Mahasiswa Diborgol di Kereta

Lakukan Pelecehan Seksual, Seorang Mahasiswa Diborgol di Kereta

JAKARTA, dawainusa.com Pelecehan yang seksual yang dilakukan oknum mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta kepada mahasiswi di Kereta Prameks tujuan Yogyakarta-Solo viral di media sosial.

Oknum mahasiswa berinisial YN (25) ditangkap setelah KIG (22), mahasiswi asal Wonogiri melaporkan peristiwa pelecehan seksual yang dialaminya kepada polisi khusus kereta api.

Sejak diunggah di akun facebook Still Ajeng Husnani, Rabu (29/8), postingan pelecehan seksual itu sudah dikomentari 1.346 warganet. Ajeng mengunggah dan foto pelaku pelecehan seksual yang diborgol di bagasi kereta. Foto tersebut kemudian diberi komentar.

Baca juga: Pisah dengan Istri, Pria Ini Setubuhi Anak Kandungnya Sendiri

“Monggo lur sebarkan agar tidak terulang lagi dan agar semisal ada yang merasa menjadi korban pelecehan seksual agar berani melapor. Ini foto diambil sekitar pukul 4 sore lebih dikit didalam kereta pramek jogja solo dikarenakan pelecehan seksual di dalam kereta,” tulis Ajeng.

Postingan Ajeng di grup ICS mendapatkan reaksi beragam dari netizen. Banyak netizen yang mengecam aksi oknum mahasiswa tersebut.

Langsung Ditangani Pihak Berwajib

Manajer Humas PT KAI Daop 6 Yogyakarta, Eko Budiyanto kepada Kompas.com, Kamis (30/8), membenarkan aksi pelecehan oknum mahasiswa asal Solo itu terhadap mahasiswi asal Wonogiri di kereta api Prameks Yogya-Solo.

“Usai mendapatkan laporan dari korban kami langsung tangani. Namun saat hendak ditangkap pelaku mencoba melawan dan langsung diamankan dengan diborgol oleh petugas,” ujar Budiyanto.

Budiyanto berharap, jika peristiwa serupa terulang, penumpang lain harus peduli. Jangan takut melapor kepada petugas.

“Petugas siap melindungi penumpang KA. Saya berharap juga supaya komunitas pengguna KA Pramek ikut edukasi, ikut menjaga keamanan dan keteriban jika mengetahui tindakan yang kurang terpuji supaya lapor petugas,” imbau Budiyanto.

Faktor Penyebab Pelecehan Seksual 

Kekerasan dan tindak pelecehan seksual terhadap perempuan rentan terjadi di ruang publik. Temuan safety audit UN Women, ada beberapa hal yang menjadi faktor pemicu terjadinya kekerasan maupun pelecehan seksual di Jakarta.

Pertama adalah soal infrastruktur dan transportasi publik yang kurang memadai. Misalnya, tidak adanya penerangan yang cukup di jalan atau gang, trotoar yang tidak memadai, tidak adanya CCTV di tempat strategis, hingga transportasi publik yang kurang aman.

Faktor kedua adalah perilaku dan norma sosial. Hal ini mencakup kekerasan diterima secara budaya, prilaku kekerasan dianggap suatu yang lazim dan dapat diterima secara sosial, kurangnya respons dari penonton yang menyaksikan tindakan kekerasan.

Ketiga dikarenakan pengalaman kekerasan yaitu pernah menyaksikan kekerasan atau mengalami sebelumnya saat kanak-kanak. Sementara faktor keempat, korban pelecehan seksual kerap disalahkan, misalnya dari cara berpakaiannya. Pandangan yang salah ini malah menyudutkan korban pelecehan seksual.

Bentuk pelecehan di ruang publik sendiri terdiri dari dua macam, yakni secara verbal seperti memberikan komentar, siulan, seruan yang bernada melecehkan. Kedua non verbal atau tindakan yang lebih berani layaknya menyentuh, meraba, penyerangan seksual, menguntit, pemerkosaan, sampai menunjukkan alat kelamin.*