Kronologi Seorang Siswa SMP yang Aniaya Gurunya Sendiri

Kronologi Seorang Siswa SMP yang Aniaya Gurunya Sendiri

Pelaku memukul korban lantaran pelaku kesal dengan korban yang menegurnya karena menggunakan ponsel saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung. (Foto: Korban pemukulan - ompas.com)

PONTIANAK, dawainusa.com Peristiwa yang mencorengi institusi pendidikan, yakni murid memukul atau menganiaya gurunya sendiri kembali terjadi salah satu sekolah menengah di Pontianak Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Dilansir Kompas.com, NF, seorang siswa kelas VIII Sekolah Menengah Pertama (SMP) Darussalam, di Kecamatan Pontianak Timur, Kaltim memukul salah seorang guru di sekolah tersebut, yakni Nuzul Kurniawati dengan menggunakan kursi, Rabu (7/3).

Menurut Kepala SMP Darussalam Ahmad Bustomi, pelaku memukul korban lantaran pelaku kesal dengan korban yang menegurnya karena menggunakan ponsel saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung.

“Pelaku tidak terima, dan sempat ada adu mulut, mungkin karena kesal kursi plastik tempat duduk dia dipukulkan,” ungkap Bustomi, Kamis (8/3).

Baca juga: Gara-gara Ini Kepala Sekolah Babak Belur Dihajar Orang Tua Murid

Terhadap masalah tersebut, lanjut Bustomi, pihaknya telah melakuakan mediasi. Pelaku sudah dinasihati dan meminta maaf kepada korban.

“Pelaku sudah dipanggil dan dikasih nasihat. Pihak keluarga korban juga sudah bertemu dengan pelaku, dan pelaku juga sudah meminta maaf,” ungkap Bustomi.

Kronologi Peristiwa

Peristiwa yang memalukan sekaligus memilukan itu terjadi saat pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di kelas VIII. Saat pelajaran berlangsung, pelaku asyik dengan main ponselnya dan mengabaikan guru yang sedang mengajarnya.

Atas tindakan tersebut, guru mata pelajaran menegur pelaku namun pelaku tak menggubrisnya. Karena merasa tak dihiraukan murid tersebut, guru tersebut pergi ke ruangan guru sambil menangis.

“Teguran sang guru itu tidak dihiraukan pelaku, mungkin karena kesal tidak dihargai dan sedih, guru itu kemudian masuk kantor guru,” tutur Bustomi.

Baca juga: Guru Budi, Mantan Aktivis HMI yang Tewas Dianiaya Siswa

Melihat koleganya itu menangis, korban memutuskan untuk masuk ke kelas untuk menenangkan suasana kelas dan menegur pelaku. Di kelas tersebut, korban masih menemukan pelaku sedang asyik dengan ponsel-nya. Ia menegur pelaku dan mmerebut ponsel tersebut dari tangan pelaku.

Akibat saling rebut tersebut, ponsel pelaku tersebut jatuh di lantai. Melihat ponselnya jatuh, pelaku kesal dan kemudian mengambil kursi plastik yang didudukinya dan menghajarkan korban.

Akibat pukulan tersebut, korban mengalami luka pada telinga. Saat ini, masih dirawat intensif di Rumah SakiT (RS) Soedarso, Pontianak.

Peristiwa Serupa Pernah Terjadi di Sampang-Jatim

Peristiwa murid memukul atau menganiaya guru bukan kali pertama terjadi. Pada 1 Februari lalu, peristiwa serupa terjadi di Sampang, Jawa Timur (Jatim). Seorang siswa SMAN 1 Torjun, Sampang,yakni HL (17) memukul gurunya, yakni Ahmad Budi Cahyanto.itu bahkan berujung kematian bagi korban yakni, Ahmad Budi Cahyanto, seorang guru seni rupa di sekolah tersebut.

HL menganiaya korban karena ditegur beberapa kali untuk tidak mengganggu temannya yang lain yang sedang mengerjakan tugas melukis yang diberikannya. Penganiayaan itu berujung maut. Korban menghembuskan nafas terkahir karena mengalami mati batang otak (MBO) dan meninggal dunia.

Baca juga: Indonesia Dinilai Sedang Mengalami Krisis Keteladanan

Peristiwa tersebut sampai ke meja Hijau. Pelaku telah divonis enam tahun penjara. Pembacaan vonis terhadap pelajar berusia 17 tahun berlangsung pada, Selasa (6/3).Saat membacakan putusan, hakim Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Sampang, Jawa Timur menyebutkan, HL terbukti secara sah melakukan tindak pidana pembunuhan terhadap orang lain berdasarkan Pasal 338 KUHP.

“Dengan demikian, HL dijatuhi hukuman enam tahun penjara,” ujar Purnama. Putusan tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yang menuntut terdakwa dengan hukuman 7,5 tahun penjara.

Terhadap putusan tersebut, kuasa hukum HL meminta kepada majelis hakim agar HL ditempatkan di Rumah Perlindungan Sosial (RPS) Kabupaten Sampang namun ditolak. Alasannya, permintaan tersebut tidak relevan. “Tidak relevan jika HL ditempatkan di RPS Sampang. Terpidana akan menjalani hukumannya di Lapas Anak di Blitar,” kata  I Gede Perwata dari bagian Humas PN Sampang, Selasa (6/3).*