Kronologi Seorang Kiai yang Mencabuli Santriwatinya Sendiri

Kronologi Seorang Kiai yang Mencabuli Santriwatinya Sendiri

PROBOLINGGO, dawainusa.com Seorang Kiai pengasuh sebuah Pesantren di Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo tega mencabuli santriwatinya sendiri, AH (20) di sebuah hotel di Pasir Putih, Kabupaten Situbondo.

Tak terima telah dicabuli, AH, warga Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo melaporkan pelaku ke polisi, Minggu, 26 Agustus 2018. Saat melaporkan tindak asusila itu ke Polres Probolinggo, AH didampingi ayahnya, Budi (42) dan ibunya, Susaibah (38).

Baca juga: Kronologi Pemerkosaan Mahasiswi Indonesia di Rotterdam Belanda

Kepada polisi, AH menceritakan kronologis perbuatan asusila yang dialaminya. Dikatakan dirinya sudah sekitar dua tahun nyantri di pesantren di Kecamatan Krejengan. Karena alasan terkendala biaya, AH memutuskan pamit dari pesantren. Baru sekitar seminggu berhenti dari pesantren, AH dihubungi kiainya agar datang ke pesantren.

Kata kiai kepada AH, dirinya akan diberikan pelajaran kitab khusus secara pribadi. Karena masih percaya dengan kiainya, AH pun datang ke pesantren.

“Ternyata Pak Kiai mengajak saya menikah siri dengan alasan di pesantren tidak boleh laki-laki dan perempuan berkumpul kecuali muhrimnya,” ujar AH seperti dilansir Ngopi.id, Minggu (26/8).

Diduga ajakan menikah siri itu hanya kedok sang kiai untuk melampiaskan nafsu jahatnya. Terbukti setelah itu, pada Sabtu, 25 Agustus 2018 lalu, AH diajak bepergian tanpa lebih dulu memberitahukan kepada orangtua AH.

“Saya awalnya tidak tahu diajak ke mana dengan mobil, tahu-tahu ada papan jalan yang menunjukkan arah Situbondo,” ujarnya.

Akhirnya sang kiai mengajak AH ke sebuah kamar hotel di kawasan Pasir Putih Situbondo. Di kamar hotel di tepi pantai itu, sang kiai menggauli AH sampai dua kali.

Merasa telah dikibuli dan dicabuli, AH bersama keluarganya akhirnya melaporkan kasus tersebut ke Polres Probolinggo. Atas laporan ini, Kepala SPKT Tim B Polres Probolinggo Ipda Wahyu Sulistiono mengatakan, meski korban warga Kabupaten Probolinggo namun pihaknya tidak bisa menindaklanjuti kasus asusila ini.

Pasalnya, tempat kejadian perkara (TKP) bukan di wilayah hukum Polres Probolinggo, melainkan wilayah Polres Situbondo. “Saya sarankan korban untuk melaporkan kasusnya ke Polres Situbondo,” ujar Wahyu.

Kejadian Serupa

Peristiwa pencabulan terhadap santriwati oleh pengasuh pesantren di Probolinggo bukan baru terjadi. Sebelumnya, peristiwa serupa pernah terjadi ditempat yang sama dengan mengorbankan dua orang santriwati. Kedua santri itu adalah SW (16), warga Desa Wangkal, Kecamatan Gading, dan LW (20), warga Desa Pandan Laras, Kecamatan Krucil.

Atas kejadian itu kedua korban mendatangi unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Probolinggo, Selasa (22/5/2018). Keduanya didampingi oleh sahabat mereka Sunarko Maulud. Menururut Sunarko, sebenarnya dugaan pencabulan sudah terjadi cukup lama.

Baca juga: Setelah Digilir 13 Pria, Tubuh Gadis Remaja Ini Dirajah Tato

“Namun para korban tidak berani melapor karena mendapatkan ancaman dari kiai ponpes setempat. Sehingga hanya bisa pasrah diperlakukan tidak senonoh oleh kiai tersebut,” ujarnya.

Sunarko mengatakan Upaya cabul itu dilakukan oleh ZA, dengan modus meminta korban untuk dipijat di kamar terlapor. Saat memijat itulah kiai, melancarkan aksinya dengan meraba beberapa bagian tubuh SW. Modus yang sama juga dilakukan untuk menjerat korban LW.

“Baru sekarang melapor karena cucu keponakan saya (SW, red) baru bercerita. Sebab mendapat ancaman agar merahasiakan hal ini. Sehingga mereka tidak berani melapor. Sempat dari keluarga mereka minta agar kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan. Namun, kami tetap melapor agar ada efek jera,” tegas Sunarko.

Sementara itu, penyidik unit PPA Satreskrim, Bripka Isana Reny Antasari, mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti kasus ini dengan memanggil terlapor dan memanggil saksi-saksi.

“Dari keterangan sementara, terlapor melancarkan aksinya dengan modus meminta dipijat. Saat tengah dipijat, tangan terlapor menggerayangi tubuh korbannya. Untuk itu kami akan segera memanggil terlapor,” ujarnya.

Penyebab Maraknya Pencabulan

Peristiwa pencabulan yang sering terjadi belakangan ini merupakan salah satu masalah sosial yang meresahkan masyarakat. Psikolog Indah Usman, B.Sc, mengemukakan beberapa faktor penyebab pencabulan.

Pertama, kata Indah pencabulan yang terjadi disebabkan oleh lemahnya kontrol diri dan lemahnya kondisi psikologiseseorang.

Baca juga: Tak Mau Ibunya Dicerai, Siswi di Kupang Rela Disetubuhi Ayah Tiri

“Pelaku cenderung adalah orang-orang yang memiliki masalah dengan dirinya sendiri maupun dengan lingkungan sosials ekitarnya. Pada kasus pedofilia misalnya, hak ini terjadi karena yang bersangkutan tidak mampu menjalin hubungan sosial dengan orang dewasa sesamanya,” ujar Indah.

Kedua, rendahnya pendidikan. Selain itu, rendahnya pendidikan seseorang dapat menimbulkan dampak terhadap individu, sehingga yang bersangkutan mudah terpengaruh melakukan suatu kejahatan tanpa memikirkan akaibat dari perbuatan itu.

“Hasil penelitian di Jerman menemukan bahwa usia korban cabul berbandinglurus dengan tingkat kecerdasan pelaku. Dengan artian semakin rendah kecerdasan pelaku, semakin mudah juga usia anak di bawah umur yang menjadi korban pencabulan, hal ini sering disebut kasus pedofilia,” sebutnya.

Sementara dari sisi korban, Indah mengatakan mereka akan mengalami trauma sangat berat. Korban biasanya akan menyendiri akibat malu terhadap dirinya sendiri atau hilangnya kepercayaan diri. Lebih parah lagi, korban akan merasa benci terhadap dirinya sendiri dan ini sangat mengganggu psikis korban.

“Trauma yang diderita korban biasanya akan bertahan lama, oleh karena itu dukungan orang tua dan keluarga sangat diperlukan pada tahap penanggulangan korban,” katanya.*