Kronologi Pengerusakan Gereja Katolik di Palembang

Kronologi Pengerusakan Gereja Katolik di Palembang

Sejauh ini sudah ada enam orang yang diduga menjadi pelaku perusakan Gereja tersebut dan sedang diburu oleh pihak kepolisian setempat. (Umat setempat sedang membersihkan gerja setelah diserang - ist)

PALEMBANG, dawainusa.com Gereja Katolik Santo Zakaria di Desa Mekar Sari, Kecamatan Rantau Alai, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan (Sumsel) dirusaki orang tak dikenal, Kamis (8/3).

Dalam press release yang diterima dawainusa.com, menyebutkan pengrusakan gereja dilakukan oleh 6 orang tak dikenal. Kejadian itu terjadi sekitar pukul 00.30 WIB.

Pelaku memecahkan kaca jendela, merusakan kursi-kursi, dan mengacak-acak fasilitas yang ada dalam gereja tersebut. Pelaku sempat mengumpulkan kursi dan membakarnya. Beruntung, kobaran api tersebut belum sempat membesar dan cepat dipadamkan warga.

“Mereka datang dan masuk ke gereja dengan cara merusak pintu, memecahkan kaca, merusak kursi-kursi dan mengacak-acak ruangan dalam gereja kemudian mengumpulkan patahan kursi ditumpuk di dalam ruangan gereja lalu dibakar. Beruntung, api belum sempat membesar sudah dapat dipadamkan oleh warga,” jelas Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Ogan Ilir, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Gazali Ahmad.

Baca juga: Gereja Katolik Santo Zakharia Dirusak, Enam Pelaku Diburu Polisi

Adapun Gereja Katolik yang mengambil nama pelindung Santo Zakaria belum sampai seminggu diresmikan oleh Uskup Keuskupan Agung Palembang Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ. Gereja ini dibangun sejak tahun 2000 dan pada tahun 2017 lalu direnovasi.

Dawainusa.com coba menghubungi pastor paroki Paro Seberang Ulu Romo Gertrudis Marino, SCJ, namun hingga berita ini diturunkan belum ada tanggapan.

Kapolres Ogan Ilir: Murni Kasus Kriminal

AKBP Gazali Ahmad menuturkan kasus tersebut murni kasus kriminal. Pihaknya tidak melihat ada unsur Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) dalam peristiwa tersebut.

“Ini murni kasus kriminal, bukan SARA,” tegas Gazali.

Pihaknya, tambah Ahmad, sedang masih mengejar pelaku yang kabur setelah melakukan pengerusakan tersebut. Tim K9 dan Anjing Pelacak Polda Sumsel di terjunkan untuk menangkap para pelaku yang diduga berjumlah enam orang.

Baca juga: Detik-detik Penyerangan di Gereja St Lidwina Sleman

Kepada umat Gereja tersebut, AKBP Ahmad Gazali menghimbau untuk tetap tenang dan meminta warga sekitar terutama umat Kristen untuk tidak melakukan tindakan-tindakan apapun dan memberi kesempatan pihak Polri untuk melakukan penyelidikan. “Serahkan dengan pihak kepolisian, dan saya harap warga untuk tetap tenang dan jangan melalukan tindakan apapun, “harapnya.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumatra Selatan, Irjen Zulkarnain menuturkan peristiwa itu mengejutkan sejumlah pihak dan menjadi pukulan bagi pihaknya. Pasalnya, Sumsel dikenal sampai mancanegara adalah provinsi zero conflict.

“Ini terasa sangat memukul,” kata Irjen Zulkarnain di acara silaturahmi dengan forum pemuda NKRI dan forum pemuda kerukunan umat beragama Sumsel di Hotel Swarna Dwipa, Kamis (8/3).

Kronologi Pengerusakan Gereja

Insiden perusakan rumah ibadah ini terjadi pada tengah malam sekitar pukul 00. 30 WIB. Saat itu, pelaku masuk ke Kapel tersebut dengan cara memecahkan dinding pintu depan dengan palu dan melepaskan daun jendela.

Saat kejadian tersebut,   sempat ada yang ke luar rumah dan menegur. Tetapi mereka tak berani mendekat dan para pelaku pun langsung berlari menggunakan sepeda motor.

Baca juga: Duga Buya Syafii Terima Amplop dari Gereja, Pria Ini Diciduk Polisi

Pasca pelaku melarikan diri, masyarakat sekitar masuk ke dalam gereja dan menyiram api dengan menggunakan air. Kobaran api pun dapat segera dipadamkan sebelum membesar.

Kejadian itu kemudia dilaporkan kepada pihak Polsek Rantau Alai sekitar pukul 01.30.  Kemudian pihak Polsek Rantau Alai tiba  terjun  ke TKP. Pada pukul 05.3o kejadian itu dilaporkan kepada pihak Polres Ogan Ilir.

Berdasarkan olahan Tempat Kejadian Perkara (TKP), polisi mengamankan sejumlah barang bukti, yakni dua buah palu besar yang digunakan pelaku untuk merusak daun pintu, dua buah batu kali, satu daun jendela dan satu kursi yang terbakar sebagai barang bukti.*