Kronologi Penemuan Jasad Bayi Kembar di Denpasar

Kronologi Penemuan Jasad Bayi Kembar di Denpasar

Kedua jasad bayi kembar berjenis kelamin perempuan itu ditemukan di dalam tas kain berwarna kuning di sebuah lorong di jalan Ratna, Denpasar Timur. (Ilustrasi - ist)

DENPASAR, dawainusa.com Nasib nahas menimpa dua bayi kembar yang menjadi korban tindakan keji kedua orang tuanya. Kedua jasad bayi kembar berjenis kelamin perempuan itu ditemukan di dalam tas kain berwarna kuning di sebuah lorong di jalan Ratna, Denpasar Timur, dengan kondisi yang mulai membusuk.

Jejak tindakan keji dari pelaku berinisial LJ alias D yang juga ibu kandung dari kedua bayi malang itu sudah dicurigai warga sekitar sebelum aksi tak terpuji itu ia lakukan.

Enisa Nimas Krisna, salah seorang warga yang tinggal tak jauh dari tempat kos pelaku mengaku, sebelum penemuan dua bayi kembar tersebut, ia mendengar tangisan bayi dari sebuah kamar yang selama ini dihuni pelaku D bersama kekasihnya yang diketahui berinisial F.

Baca juga: IKMB Sikapi Tragedi Pembunuhan Bayi Kembar di Denpasar

Enisa kepada awak media di TKP, mengaku mendengar tangisan bayi dari kamar pelaku saat dini hari sebelum subuh pada sabtu (14/07). Pelaku dan kekasihnya F yang diduga adalah ayah dari kedua bayi malang itu, telah menempati kamar kos tersebut sejak September 2017 lalu.

Selanjutnya, pada Minggu (15/7) sekitar pukul 12.30, tercium bau busuk yang meresahkan warga di sekitar TKP. Karena resah dengan aroma yang kian mengganggu aktivitas warga, saksi akhirnya memberitahu kepada saksi lain yang juga pengelola kos bernama Maria Magdalena Tin.

Atas laporan dari saksi Enisa, Yoseph Anugerah Putra Pasqualino Baut yang juga anak dari saksi Maria pada pukul 13.30 berusaha menemukan sumber bau yang menyengat tersebut.

Setelah ditelusuri, para saksi akhirnya menemukan sumber aroma tak sedap itu berasal dari tas kain warna kuning yang diletakkan di lorong kecil sebelah timur kos yang ditempati F.

“Saksi mengambil tas dengan menggunakan kayu. Tas kemudian dibawa ke jalan depan kos dan dibuka oleh saksi lain bernama Gusti Ngurah Putra dengan disaksikan saksi lainnya,” ujar sumber yang berada di TKP yang tak mau namanya disebutkan.

Para saksi yang memeriksa isi kantong tersebut sontak terkejut saat mengetahui di dalamnya ternyata orok bayi yang dibungkus dengan kain merah, dan tas kresek hitam. Saksi kemudian melaporkan ke pihak kepolisian.

Setelah peristiwa tangisan bayi sebelum subuh itu, Sabtu (14/7), F pulang kampung beralasan mengambil ijazah. “F ini kuliah di Fakultas Ekonomi jurusan akuntansi Universitas Warmadewa,” imbuh sumber tersebut.

Berdasarkan hasil identifikasi sementara diketahui bahwa dua orok bayi berjenis kelamin perempuan kembar itu baru berumur 8 bulan. Orok kembar itu mengalami luka robek pada bagian leher dan perut, diperkirakan meninggal dunia sejak dua hari lalu.

Setelah menghimpun informasi dari berbagai saksi di TKP, aparat kepolisian dari tim opsnal Polsek Denpasar Timur bergegas cepat. Pada senin (17/07) malam, pelaku LJ alias D akhirnya dibekuk tanpa perlawanan di rumah salah seorang kerabatnya di kawasan Jimbaran, Kuta Selatan, Badung.

Penangkapan pelaku D berjalan lancar dan lansung diamankan pihak kepolisian untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Sementara, F saat ini dalam pengejaran Polisi.

IKMB Siap Lakukan Pendampingan

Menenggapi peristiwa tersebut, Ketua Ikatan Keluarga Manggarai-Bali (IKMB), Ardianus Ganggas saat dikonfirmasi Dawainusa, Selasa (17/07) malam mengatakan, pihaknya sangat perihatin mendengar peristiwa ini terjadi dan dilakukan oleh mahasiwi asal Manggarai Barat.

“Dengar berita ini sejak hari minggu, tentu sangat menyedihkan dan memalukan, ini mungkin karena kebebasan yang berlebihan. Kita tentu sangat perihatin mendengar peristiwa ini,” kata Ganggas, melalui pesan WhatsApp.

Baca juga: Buang Bayinya Sendiri, Mahasiswi Kedokteran Hewan Undana Terancam Pidana Maksimum

Meski demikian, dia meminta semua pihak untuk tidak mem-bully pasangan yang menjadi pelaku secara berlebihan. Menurut dia, pasangan yang menjadi pelaku dalam kasus pembunuhan bayi kembar ini sedang dalam situasi kalut dan salah mengambil langkah.

“Dengan kasus ini kita harus terus melakukan pencerahan pada generasi muda. Untuk pasangan yang bermasalah jangan di-bully, tentu mereka kalut dan salah mengambil langkah,” jelasnya.

Dia juga menambahkan, untuk persoalan hukum yang akan dihadapi oleh kedua pasangan yang menjadi pelaku dalam kasus ini, IKMB akan tetap melakukan pendampingan bagi keduanya.* (Elvys Yunani)

COMMENTS