Kristo Blasin: Proses Penetapan Cagub/Cawagub NTT oleh PDIP Minus Nilai

Kristo Blasin: Proses Penetapan Cagub/Cawagub NTT oleh PDIP Minus Nilai

Penetapan cagub/cawagub NTT oleh DPP PDIP yang menuai sejumlah reaksi dari kader-kadernya hingga kini tetap memanas. (Foto: ist)

KUPANG, dawainusa.com Wakil Ketua Bidang Organisasi DPD PDIP NTT, Drs. Kristo Blasin menilai proses penetapan cagub/cawagub NTT dari PDIP kali ini tidak mengedepankan nilai dalam proses mendapatkan kekuasaan.

Selain minus nilai, Kristo juga menyampaikan, kekuatan finansial menjadi satu-satunya daya tawar yang paling ampuh dalam proses penjaringan calon pemimpin di internal PDIPD ketimbang mufakat dan musyawarah.

“Proses ini seperti tidak mengedepankan nilai dan musyawarah sebagai sebuah keluarga besar di PDIP namun dibuat seolah-olah hanya mereka yang lebih lincah, taktis dan punya uang yang dianggap lebih benar di mata petinggi partai,” pungkasnya, seperti dilansir suaraindonesianews.com, Jumat (29/12).

Baca juga: Kemiskinan di NTT, Lebu Raya: Saya Harus Jujur Itu Bukan Perkara Mudah

Menurut Kristo, petinggi partai seharusnya, baik ditingkat pusat mau pun daerah harus menerangkan secara terbuka alasan pengusungan mereka yang bukan kader partai dari pada sekedar memberikan klarifikasi yang ujung-ujungnya berimplikasi pada pembunuhan karakter kader sendiri.

“Ini semestinya para petinggi PDIP yang jelaskan. Tapi yang terjadi jawaban sebagian petinggi partai belum begitu memuaskan masyarakat NTT,” paparnya.

Ada pun ketika dikonfirmasi terkait sikap politik dan dukungannya terhadap beberapa calon gubernur yang bertarung dalam pilgub NTT mendatang, mantan wakil ketua DRR NTT periode 1999-2014 itu mengatakan dirinya siap mendukung figur yang punya pengaruh besar untuk kemajuan NTT.

“Semua kandidat telah menemui saya tapi saya akan lebih memilih calon pemimpin yang lebih memiliki pengaruh yang kuat untuk membawa perubahan besar bagi masyarakat NTT. Terlepas dari sekat-sekat primordialisme yang ada, saya akan menentukan sikap politik saya dalam waktu dekat melalui jumpa pers, jadi lihat saja,” pungkasnya.

Sejumlah Kader Sakit Hati dan Kecewa

Dikatakan pula oleh Kristo, keputusan PDIP yang mengusung pasangan Marianus Sae dan Emilia Nomleni sebagai cagub/cawagub NTT membuat banyak kader dan simpatisan PDIP yang merasa sakit hati dan kecewa.

“Bagi saya proses penetapan Marianus Sae dan Emilia Nomleni sebagai cagub dan cawagub dari PDIP penuh dengan kejanggalan dan turut menyakiti hati banyak pihak baik sebagai kader mau pun masyarakat simpatisan PDIP,” kata Kristo.

Baca juga: Pendaratan Perdana Co-Pilot Gabriel Turot, Kado Natal untuk Warga Maybrat

Secara tegas Blasin menyatakan sikap tidak setuju proses perolehan surat keputusan DPP untuk merebut kekuasaan dengan cara yang instan. Namun meski begitu dirinya tetap memberikan profisiat bagi pasangan MS-EN yang dinilai layak oleh DPP.

“Jujur saya tidak setuju dengan penetapan cagub di luar dari kader yang ada di partai kami, saya menolak cara-cara mendapatkan kekuasaan dengan instan, masa orang yang tidak pernah keringat untuk partai tiba-tiba menjadi tuan di partai kami,” tutur Blasin.

“Tapi keputusan sudah ada dan saya ucapaka profisiat bagi yang sudah dipercayakan oleh DPP, silakan berjuang untuk yakinkan masyarakat NTT untuk membawa NTT ke arah yang lebih baik,” lanjutnya.

Semua Partai Lain Solid, PDIP Koyak

Saat ini hampir semua partai politik tengah giat mengkonsolidasi semua kekuatan untuk bertarung dalam pilkada, baik pemilihan gubernur mau pun untuk pemilihan bupati di 10 Kabupaten di NTT mendatang.

Baca juga: Kapolri: Tahun 2017 Kontak Senjata dan Bentrok Massa Paling Banyak di Papua

Hal berbeda justru dialami oleh DPP PDIP di mana sejumlah kader terbaiknya hengkang dari PDIP, di antaranya Ketua DPC PDIP TTU, Raymundus Sau Fernandes, Dalvianus Kolo, Wakabid Organisasi Kristo Blasin, Daniel Tagu Dedo dan segenap kader serta simpatisan PDIP.

Hengkangnya sejumlah kader terbaik itu tak lain adalah buntut dari keputusan DPP PDIP yang dinilai tidak mempertimbangkan ideologi dan nilai partai yang selama ini telah diperjuangkan secara bersama-sama oleh semua kader dan para simpatisan.* (RAG)