Kota Bogor, Sepercik Catatan Tentang Filosofi Hujan

Kota Bogor, Sepercik Catatan Tentang Filosofi Hujan

SENANDUNG, dawainusa.com – Lima tahun di kota ini, telah kuhirup segala bau nafasnya yang menggenang. Telah kusulam sekian lembar perca kenangan di hamparannya. Ya, setiap suara yang membunyikan namanya ibarat hujan ingatan; rintih rintiknya seolah hadirkan dingin yang menggigit rindu.

Kota Bogor. Setitik noktah di bentangan nusantara. Kultur budaya Sunda telah menyulam gelagat alam dan orang-orangnya, menjadikannya kota yang punya tempat istimewa dalam hati. Hati saya. Seorang mahasiswa perantauan.

Bogor: Kota Hujan

Kota Bogor, sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota yang menjadi jantung wilayah kabupaten Bogor ini terletak 59 km di sebelah selatan Jakarta. Semula luasnya hanya 21,56 km², namun seiring perjalanan waktu wilayahnya kini membentang seluas 118,50 km² dengan jumlah penduduk sebanyak 1.030.720 jiwa (2014).

pemandangan kota bogor

Kota Bogor juga dijuluki Kota Hujan (Foto: Rick Wezenaar)

Bogor jamak dikenal dengan julukan Kota Hujan karena memiliki curah hujan yang sangat tinggi setiap tahunnya. Dulu, pada masa Kolonial Belanda, ia lebih dikenal dengan nama Buitenzorg yang berarti “tanpa kecemasan” atau “aman tenteram”.

Terletak di ketinggian 190 meter sampai 330 meter dari permukaan laut, udaranya relatif sejuk dengan kisaran suhu udara rata-rata 26 derajat Celcius. Adapun suhu rata-rata terendah terjadi pada bulan Desember dan Januari, sekitar 21,8 derajat Celcius.

Ditilik dari sejarahnya, Bogor adalah tempat berdirinya Kerajaan Hindu Tarumanagara di abad ke lima. Beberapa kerajaan lainnya lalu memilih untuk bermukim di tempat yang sama. Pegunungannya secara alamiah membuat Bogor sangat baik untuk bertahan dari ancaman serangan. Selain itu, daerah pun subur serta memiliki akses yang mudah pada sentra-sentra perdagangan saat itu.

Namun, penelitian yang dilakukan beberapa arkeolog ternama seperti Prof. Uka Tjandrasasmita masih belum menemukan bukti autentik keberadaan tempat dan situs penting yang menyatakan eksistensi kerajaan-kerajaan tersebut.

Baca jugaPulang, Antara Bisik Ibu Pertiwi dan Sapa Saudara Senusa

Kota Bogor dan Hikayat Kerajaan Sunda

Dari antara prasasti-prasasti yang ditemukan di Bogor tentang kerajaan-kerajaan kuno, ada sebuah prasasti dari tahun 1533 yang menceritakan tentang kekuasaan Raja Prabu Surawisesa dari Kerajaan Sunda. Prasasti tersebut diyakini memiliki kekuatan gaib dan dianggap keramat sehingga dilestarikan sampai sekarang.

Istana Bogor, Istana Kepresidenan

Istana Bogor, satu dari enam Istana Presiden RI (Foto: Feb Zakri)

Diceritakan, kerajaan Sunda tidak hanya seluas Jawa Barat, Jakarta dan Banten tetapi juga mencakup Lampung, wilayah di bagian selatan pulau Sumatera. Pakuan atau Pajajaran yang merupakan ibu kota pemerintahan Kerajaan Sunda (sering disebut juga sebagai Kerajaan Pajajaran sesuai nama ibukotanya) diyakini terletak di kota Bogor.

Diyakini, kota inilah yang menjadi pusat pemerintahan Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja Ratu Haji I Pakuan Pajajaran), raja yang dinobatkan pada 3 Juni 1482. Hari penobatannya inilah yang diresmikan sebagai hari jadi Kota Bogor pada tahun 1973 dan diperingati setiap tahunnya hingga sekarang.

Baca jugaPasar Tradisional Puni dan Wae Kesambi Suatu Saat Hilang?

Bogor dan Larantuka: Antara Rasa dan Kota

Kota adalah tempat mengukur segala ruang pemikiran. Kota adalah tempat menenun tapak-tapak langkah menuju realitas yang sebenarnya. Kota adalah akar membangun kepribadian, membelah setiap pertanyaan-pertanyaan yang membatu pada jalan manusia. Tentunya, kota juga menjadi tempat di mana manusia menempatkan kemanusiaan pada setiap laju perilaku.

hujan di stasiun Bogor

Pemandangan saat hujan di Stasiun Bogor (Foto: Arif Kristiawan)

Bagi saya, jika Larantuka adalah tempat tumbuhnya rasa kasih sayang, Bogor adalah tempat ikatan rasa itu menjadi lebih dewasa. Demikianlah kedua kota itu mendapat tempat dalam perjalanan hidup saya hingga sejauh ini.

Tentang Bogor, hal yang paling membekas adalah “hujan”.  Begitu banyak makna yang diretas dalam setiap rinai hujan di kota ini. Ia yang datang ketika langit usai membendung permenungannya. Ia turun meluluhlantakkan segala amarah dan kerontang jiwa yang pengap. Hujan, ia yang merekat dingin pada setiap panasnya peristiwa hidup yang saya lakoni.

Baca jugaAntara Paus dan el-Tayeb, Tak Seharusnya Setetes Darah Tertumpah

Bogor: Menimba Bekal Keberagaman

Selain hujan, ada hal lain yang tak lindap dari lembaran perjumpaan dengan kota ini. Kota Bogor: ia sekaligus ibu yang mendidik: kampus. Belajar dan menimba ilmu di jantung kota ini telah meneteskan pemikiran-pemikiran yang baik, mengajarkan saya tentang arti kata pantang menyerah dalam menghadapi suka-duka kehidupan.

Tidak hanya itu, dalam derap keseharian kota ini, saya belajar bagaimana menjaga ikatan persaudaraan dengan orang-orang yang saya kenal: bagaimana berbudaya ke-Sunda-an dalam laju sikap dan perilaku, pun bagaimana menjaga roh toleransi antar-umat beragama.

barongsai dibuat di kota bogor

Pembuatan Barongsai di sudut kota Bogor (Foto: Ramadhan Bgs)

Meskipun saya lahir dari keluarga Katolik, kota ini telah memperkenalkan saya betapa indahnya toleransi, menjaga hubungan persahabatan dan merefleksikan kembali klaim kebenaran saya yakini sebelumnya.

Bagaimanapun, rimba Nusantara adalah anugerah keberagaman; tempat sekaligus jalan indah untuk menenun rasa persatuan dan kesatuan. Walaupun percaturan politik yang diseduh oleh para politikus busuk kerap menyandera keberagaman itu, saya yakin kota Bogor akan tetap konsisten mendekap sendi-sendi persatuan bangsa.

Ya, karena hujan di kota ini adalah rintik yang memberi pesan kedamaian, meredam amarah, dan menghanyutkan tensi kejahatan yang berseliweran di atasnya. Ya, itulah yang membuat saya menyukai hujan di kota Bogor, hujan di kota hujan.*

Penulis: Yogen Sogen
Mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pakuan Bogor;
Penulis antologi puisi “Nyanyian Savana”;
Ketua Presidium PMKRI Bogor.