Korea Utara dan Korea Selatan Berkomitmen Memulai Era Tanpa Perang

Korea Utara dan Korea Selatan Berkomitmen Memulai Era Tanpa Perang

SEOUL, dawainusa.com – Moon mendarat di Korea Utara Selasa pagi untuk bertemu pemimpin Korea Utara. Ini adalah ketiga kalinya kedua pemimpin bertemu tahun ini. Tetapi kunjungan pertama seorang presiden Korea Selatan ke ibukota Korea Utara terjadi tahun 2007.

Sebelum kunjungan itu, Moon dan pemerintahannya mengatakan bahwa tujuan dari perjalanan itu adalah untuk berusaha membangun perdamaian abadi di Semenanjung Korea. Ia tidak menginginkan perdamaian yang bergantung pada situasi internasional.

“Apa yang ingin saya capai adalah perdamaian. Bukan perubahan tentatif yang dapat berubah-ubah tergantung pada situasi internasional, tetapi perdamaian yang tidak dapat diubah, permanen, dan tak tergoyahkan, terlepas dari apa yang mungkin terjadi di arena global,” kata Moon di Twitter.

Baca juga: Donald Trump: Korea Utara Negara Sponsor Terorisme

Melansir CNN, kedua negara Korea, Korea Selatan dan Korea Utara, sepakat untuk mengambil langkah yang lebih konkrit menuju perdamaian dengan menandatangani kesepakatan militer yang menghilangkan ancaman konflik di Semenanjung.

Presiden Korea Selatan Moon Jae-In bersama dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengumumkan dalam konpers di Pyongyang pada Rabu (19/9) bahwa “era tanpa perang telah dimulai”. Pyongyang setuju untuk menghancurkan situs nuklir Yongbyon yang digunakan untuk produksi senjata nuklir.

Pengumuman ini muncul usai kedua pemimpin bertemu untuk ketiga kalinya tahun ini di ibukota Korea Utara, sebagai bagian dari upaya bersama AS untuk menahan ancaman perang setelah rentetan tes rudal Korea Utara pada tahun 2017.

Pertemuan keempat bersejarah antara kedua pemimpin berikutnya akan berlangsung di ibukota Korea Selatan. Perjanjian itu menyatakan bahwa Kim akan pergi ke Seoul “sesegera mungkin,” sesuatu yang belum pernah dilakukan pemimpin Korea Utara sebelumnya

Perjanjian Bersama dan Komitmen Kedua Negara

Pada hari kedua dari pertemuan tiga hari di Pyongyang, kedua pemimpin muncul dari balik pintu untuk menandatangani perjanjian bersama. Sebagai bagian dari kesepakatan itu, Korea Utara berkomitmen untuk secara permanen menutup pengujian mesin Tongchang-ri dan tempat peluncuran rudal.

Moon menyatakan harapan bahwa pembicaraan akan dilanjutkan antara Korea Utara dan Amerika Serikat. “Mereka terus menunjukkan kepercayaan mereka terhadap satu sama lain dan saya berharap akan ada KTT lain antara kedua negara tersebut secepat mungkin,” ujar Moon.

Setelah pertemuan pertama mereka pada akhir April, Moon dan Kim bersumpah untuk mengakhiri secara resmi perang Korea, tujuan mulia yang belum pernah dicapai oleh para pemimpin Korea sejak konflik berakhir dengan jalan buntu pada tahun 1953.

Baca juga: Cara Aneh Pemimpin Korut Kekang Arus Informasi Masyarakat

“Dunia akan melihat bagaimana negara yang terpisah ini akan mewujudkan masa depan baru sendiri,” kata Kim. Para pemimpin juga membuat pengumuman non-militer lainnya, termasuk rencana untuk mengajukan tawaran bersama untuk menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2032.

Mereka setuju untuk menghubungkan kereta api dan jalan di sisi timur dan barat Semenanjung Korea dalam tahun ini. Dan mereka setuju untuk “menormalisasikan kompleks Industri Kaesong dan proyek pariwisata Kumgang segera setelah kondisi memungkinkan.”

Pertemuan bersejarah kedua pemimpin tersebut disambut dengan meriah oleh masyarakat Pyongyang. Ketika tiba di Korea Utara, Presiden Korea Selatan disambut hangat oleh masyarakat di Bandara Internasional Pyongyang.

Dengan berkostum pakaian tradisional Korea Utara, warga membawa bunga sewaktu menyambut iring-iringan mobil kedua pemimpin negara. Selain menyambut dari jalanan, kebahagiaan masyarakat juga ditunjukkan melalui sambutan mereka dari balkon rumah sambil melambaikan karangan bunga.

Situasi ini tentu membawa kebahagiaan bagi masyarakat, karena unifikasi dua negara korea sudah diimpikan masyarakat kedua negara sejak lama. Banyak warga kedua negara yang masih memiliki pertalian keluarga satu sama lain.

Hubungan yang harmonis memungkinkan mereka untuk kembali berjumpa dengan keluarganya di masing-masing negara.*