Komunitas Disabilitas Buka Suara, Pernyataan Ma’ruf Amin Memprihatinkan

Komunitas Disabilitas Buka Suara, Pernyataan Ma’ruf Amin Memprihatinkan

JAKARTA, dawainusacom Pernyataan Cawapres Ma’aruf Amin beberapa waktu lalu soal ‘budek’ dan ‘tuli’ memunculkan sejumlah respon. Tak hanya disorot kubu oposisi, tetapi juga mendapat respon dari komunitas disabilitas yang tergabung dalam Forum Tunanetra Menggugat.

Forum Tunanetra Menggugat menganggap pernyataan Ma’ruf tersebut telah mencedrai perjuangan kaum disabilitas. Juru Bicara Forum Tunanetra Menggugat, Suhendar mengatakan, pernyataan Ma’ruf Amin sangat memprihatinkan, apalagi di tengah perjuangan kelompok disabilitas melawan stigma negatif.

“Bagi kami pernyataan KH Ma’ruf Amin sangat memprihatinkan. Ketika kita sedang berjuang melawan stigma, justru menjadi objek. Ini juga sangat ironis ketika kita berjuang melawan stigma, justru ada yang mencoba menenggelamkan kita dalam posisi negatif,” kata Suhendar sperti dikutip CNN Indonesia, Senin (13/11).

Baca juga: Penjelasan Ma’ruf Amin soal Politisi Buta dan Budek

Suhendar berharap, aktivitas politik jelang pilpres bisa dilaksanakan tanpa harus menyudutkan kelompok atau individu. Hal senada diungkapkan Ketua Bidang Organisasi Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMII) Yudi Yusfar.

Yudi menilai, apa yang dikatakan Ma’ruf Amin terlalu jauh. Ia menjelaskan, kaum disabilitas bukan orang yang tidak tahu situasi bangsa. Lebih lanjut Yudi berharap ke depan para calon presiden maupun wakil presiden dalam Pemilu 2019, lebih mengedepankan penggunaan kalimat yang elegan dalam menyampaikan orasi politiknya.

“Kami berharap khususnya kepada KH Ma’ruf Amin, tolong memilih diksi yang menyejukkan hati rakyat supaya tidak terjadi kontroversi di masyarakat,” jelasnya.

Dituntut Minta Maaf

Atas ucapannya itu, Ma’ruf Amin dituntut meminta maaf kepada kelompok disabilitas.”Disengaja atau tidak, Pak KH Ma’ruf Amin itu saya kira tahu mana membedakan. Kalau bisa yang bersangkutan memohon maaf,” kata Yudi.

Yudi mengatakan, pihaknya memberikan waktu selama 10 hari untuk cawapres Ma’ruf Amin meminta maaf. Apabila tidak melakukan hal itu, pihaknya akan bertindak lebih jauh lagi.

“Paling tidak yang bersangkutan meminta maaf dalam waktu 10 hari sejak pernyataan pers ini disampaikan. Jika tidak ada permintaan maaf, kami akan bertindak lebih signifikan,” tegasnya.

Klarifikasi Ma’ruf Amin

Sementara itu, Ma’aruf sendiri mengaku tak berniat menuduh di balik pernyataan soal orang yang budek dan buta terhadap kinerja pemerintahan Jokowi. Menurutnya, frasa budek dan buta itu digunakan sebagai perumpamaan.

“Kalau ada orang yang mengingkari kenyataan, apa yang telah dilakukan oleh Pak Jokowi. Kalau ya, saya enggak nuduh siapa-siapa,” kata Ma’ruf di Rumah Situbondo, Jakarta Pusat, Senin (12/11).

Baca juga: Kritik Sara Djojo ke Ma’ruf Amin Soal Kiasan Budek dan Buta

Dia memisalkan ada yang tutup mata dan tutup kuping soal keberhasilan Jokowi membangun infrastruktur, sampai fasilitas kesehatan. Orang semacam itu yang masuk kategori budek dan buta versinya.

Ma’ruf mengklaim, saat ini sudah banyak orang yang sadar dengan keberhasilan Jokowi. Karena itu, banyak orang deklarasi dukungan dilakukan, terutama di wilayah Jakarta dan Banten.

“Kalau mengingkari itu semua itu kan kayak orang buta. Enggak melihat dan kayak orang budek, jadi saya tidak menuduh,” jelasnya.

Bahkan, Ketua MUI nonaktif itu mengaku tak bermaksud menyindir politikus oposisi. Menurut dia, politikus lawan yang mengakui kinerja Jokowi tak termasuk.

“Enggak ke sana juga saya. Siapa saja. Oposisi juga kalau mengakui, enggak masuk. Yang tidak mengakui saja,” kata Ma’ruf.*

COMMENTS