Komentar Sekjend Demokrat Soal Politikus Sontoloyo ala Presiden Jokowi

Komentar Sekjend Demokrat Soal Politikus Sontoloyo ala Presiden Jokowi

JAKARTA, dawainusa.com Calon presiden petahana Jokowi dinilai keluar dari kebiasaan lamanya menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden 2019 mendatang. Setidaknya, ada dua soal utama terkait hal yang disebutkan di atas yakni pernyataan soal politik kebohongan dan politikus sontoloyo.

Hal ini disampaikan Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Pandjaitan menilai perubahan sikap dari Presiden Jokowi tersebut. “Agak beda ya dia sedikit dari yang kemarin-kemarin,” kata Hinca di Jakarta, Kamis (24/10).

Baca juga: Politikus Sontoloyo ala Jokowi, Siapa Sesungguhnya yang Sontoloyo?

Hinca berpendapat, kritik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam negara demokrasi. Karenanya, sikap para politisi yang selalu memberikan pandangan berbeda kepada kebijakan pemerintah jangan dinilai sebagai sikap anti kepada pemerintah. Pemerintah mesti memahami kritik sebagai vitamin untuk menjalankan amanat rakyat.

Presiden Tidak Boleh Anti Kritik

Lebih lanjut Hinca menjelaskan, presiden sebagai kepala negara dan pemerintahan memiliki tanggungjawab yang besar. Presiden harus memastikan pembangunan negara berjalan sesuai keinginan masyarakat. Karena itu, presiden sedapat mungkin mendengarkan masukan semua pihak dan pemangku kepentingan.

Dalam hal memimpin negara, demikian Hinca, seorang pemimpin tidak bisa lepas dari kesalahan. Kesalahan itu bisa muncul karena unsur kesengajaan dan juga karena kelalaian. Menjawab hal tersebut, seorang pemimpin mesti bisa menerima kritik dan tidak boleh anti terhadap kritik.

Banyak hal yang menurut Hinca pantas untuk dikiritik terhadap situasi dan perkembangan ekonomi nasional di bawah pemerintahan Jokowi. Pertama adalah terkait dengan masalah nilai tukar yang terus melemah. Selain itu, ada masalah kebijakan impor pangan yang tidak memberikan keberpihakan kepada masyarakat kecil.

Baca juga: Sejumlah Tanggapan di Balik Politik Sontoloyo ala Jokowi

“Jika engkau tidak ingin terpercik air, mengapa engkau dirikan rumahmu di pinggir pantai. Jika engkau tidak ingin dikritik media, jangan jadi bupati, gubernur, kan begitu,” tegas Hinca.

Hinca menambahkan, pilpres dan pileg mendorong setiap parpol dan kadernya untuk bersaing satu sama lain. Persaingan seperti ini muncul karena tidak ada parpol yang ingin kalah. Semua parpol pasti ingin menang dan kadernya duduk dalam kursi kekuasaan.

Namun demikian, lanjut Hinca, Presiden sebagai kepala negara mesti memberikan contoh dan teladan yang baik. Ia pun meminta kepada presiden untuk sesering mungkin menggunakan bahasa yang sejuk dalam menyampaikan pesan kepada masyarakat. Dengan demikian, situasi politik tetap terjaga dengan baik.

Pendapat Berbeda dari Ketua DPP Golkar

Sementara itu, Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily menyatakan setuju dengan istilah politikus sontoloyo yang disampaikan oleh Presiden Jokowi dalam pidatonya. Ia menambahkan, politikus sontoloyo sangat cocok untuk disematkan kepada mereka yang sering berseberangan dengan pemerintah.

Menurut Aceh, pemerintahan Jokowi sama sekali tidak alergi dengan kritik dari masyarakat maupun partai oposisi. Justru kritik menjadikan kinerja pemerintahan lebih baik. Namun demikian, kritik perlu disertai dengan alasan yang logis dan diterima oleh semua pihak.

Baca juga: Mengintip Sejumlah Kegundahan Jokowi Jelang Pilpres

Aceh juga menilai, kebiasaan politikus yang berseberangan dengan pemerintah selama ini kurang memberikan pembelajaran politik yang baik kepada masyarakat. Hal ini terlihat dari kebiasaan tokoh oposisi yang masih sering melakukan kritik tanpa memberikan solusi kepada masyarakat. Kebiasan ini sering kali membuat suasana di masyarakat tidak kondusif.

Karena itu, Aceh berharap, semua pendukung dari kedua pasangan capres dan cawapres memberikan teladan yang baik kepada masyarakat. Ia juga berharap, partai oposisi memberikan kritik kepada pemerintah benar-benar sesuai dengan fakta yang ada di lapangan agar masyarakat tidak terjebak dalam upaya rekayasa politik yang kurang etis.

“Kami berharap sampaikan secara objektif kondisi yang sesungguhnya, sehingga tidak menimbulkan ketidakpastian di masyarakat,” pungkasnya.*