Komentar Direktur Median Soal Istilah Politikus Sontoloyo

Komentar Direktur Median Soal Istilah Politikus Sontoloyo

JAKARTA, dawainusa.com Direktur Eksekutif Media Survei Nasional (Median) Rico Marbun menilai capres petahana Jokowi menyatakan kekesalannya lewat istilah politikus sontoloyo. Disatu sisi, ia mengharapkan menang mudah di pilpres mendatang. Namun, Harapan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Menurut Rico, istilah politikus sontoloyo yang disampaikan oleh Presiden Jokowi disampaikan berdasarkan kajian dan pertimbangan yang matang. Pesannya sangat jelas ditujukan kepada para politisi yang sering menggunakan cara-cara kotor dalam berpolitik. Walaupun pesan tersebut tidak secara spesifik ditujukan kepada pribadi yang bersangkutan.

“Saya pikir Jokowi ini kesal karena dia berharap bisa menang mutlak. Tapi sementara ini kenyataannya tidak demikian,” kata RIco di Jakarta, Kamis (25/10).

Baca juga: Jokowi Keceplosan ‘Sontoloyo’, Bentuk Kontrol Diri yang Lemah?

Apa yang disampaikan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta ini, lanjut Rico, merupakan akumulasi dari beberapa persoalan politik yang terjadi beberapa bulan terakhir. Beberapa diantaranya adalah masalah isu sara dan masalah hoax. Apalagi masalah ini sering dimanfaatkan oleh lawan politik untuk mencari keuntungan secara politik.

“Kalau melihat penjelasan jokowi, dia jengkel menggunakan kata sontoloyo kepada isu SARA, hoaks, dan lain-lain. Ini semua diframing oleh beliau dalam satu framing, gerakan ganti presiden, hoax Ratna, Habib Rizieq sampai dengan aksi penolakan pembakaran bendera,”jelas Rico.

Awal Mula Sikap Keras Jokowi

Lebih lanjut Rico menjelaskan, awal mula sikap keras Presiden Jokowi pertama kali ditunjukan lewat video tinju yang ditunjukan kepada masyarakat. Ini merupakan permainan politik simbol Kepada lawan politik. Karena itu, video ini tidak bisa dibaca tanpa analisa politik yang tajam.

Contoh lain, menurut Rico adalah ucapan Jokowi yang mengajak para relawan untuk tidak takut berkelahi. Bagi orang yang awam politik, demikian Rico, pernyataan ini dinilai biasa saja. Berbeda dengan orang yang memahami pertarungan politik.

Menurutnya, ajakan sepertinya ini merupakan bentuk instruksi politik. Instruksi ini berangkat dari kenyataan bahwa kompetitor juga memberikan perlawanan politik yang cukup kuat. Karena itu, tambah Rico, capres petahana Jokowi memberikan semacam penguatan secara psikologis kepada seluruh relawannya.

Baca juga: Komentar Sekjend Demokrat Soal Politikus Sontoloyo ala Presiden Jokowi

“Dulu Jokowi secara demonstratif pernah berlatih tinju. Beberapa bulan silam Jokowi mempersilahkan relawannya jangan takut untuk berkelahi. Sekarang Jokowi menyerang politisi lawannya dengan kata sontoloyo,” jelas Rico.

Rico menambahkan, pelaksanaan pilpres 2019 mendatang dapat dikatakan sebagai pertarungan politik yang melibatkan kekuatan politik yang cukup seimbang. Karenanya, semua pendukung antara kedua pasangan calon diminta untuk memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. Terkhusus pada pernyataan Jokowi soal politikus sontoloyo, Rico meminta kepada tim suksses untuk saling menahan diri.

“Kalau menurut saya yang bisa dilakukan oleh elit pendukung jokowi ialah bersikap tenang dan tidak jumawa. Fokus saja sosialisasi pemenuhan janji Jokowi yang sudah dilakukan,” pintahnya.

Penjelasan dari Presiden Jokowi

Sementara itu, untuk memperjelas maksud dari istilah politikus sontoloyo, Presiden Jokowi memberikan penjelasan terkait maksud sebenarnya. Ia mengatakan bahwa praktik politik kita didominasi oleh cara -cara yang kurang santun dan tidak memberikan nilai edukasi kepada masyarakat.

“Pertama, ini masalah kebangsaan, 73 tahun merdeka, sejak awal sampai sekarang sebetulnya kita nilainya sudah A, sudah rampung. Negara lain melihat kita itu terkagum-kagum,” jelasnya.

Baca juga: Politikus Sontoloyo ala Jokowi, Siapa Sesungguhnya yang Sontoloyo?

Menurutnya, perkembangan sosial kemasyarakatan Indonesia telah sampai pada titik aman. Hal ini dapat dilihat dari kenyataan di masyarakat yang sudah bisa hidup saling berdampingan satu sama lain. Namun demikian, ada salah faktor penyebab yang membuat masyarakat terjebak dalam masalah yakni suksesi politik yang sering kali menggunakan segala cara.

“Tetapi ini gara-gara pemilihan bupati, pemilihan wali kota, pemilihan gubernur, pemilihan presiden, nah ini dimulai dari sini. Sebetulnya dimulai dari urusan politik yang sebetulnya setiap lima tahun pasti ada. Dipakailah yang namanya cara-cara politik yang tidak beradab, tidak beretika, tidak bertata krama Indonesia,” jelasnya.

Ia menambahkan, istilah politikus sontoloyo itu disampaikan sebagai bentuk kekesalahan terhadap cara-cara yang kurang santun dalam berpolitik. Pernyataan ini juga disampaikan tidak secara sengaja dikeluarkan. Karena itu, ia meminta kepada seluruh pemangku kepentingan untuk tetap mengedepankan cara-cara politik beretika terutama jelang pilpres 2019 mendatang.

“Inilah kenapa kemarin saya kelepasan, saya sampaikan ‘politikus sontoloyo’ ya itu. Jengkel saya. Saya nggak pernah pakai kata-kata seperti itu. Karena sudah jengkel ya keluar. Saya biasanya ngerem, tapi sudah jengkel ya bagaimana,”tutupnya.*