Pilgub NTT: Klaim Viktor Laiskodat dan Menguatnya Sentimen Identitas

Pilgub NTT: Klaim Viktor Laiskodat dan Menguatnya Sentimen Identitas

Konsensus verbal para tokoh masa lalu yang kembali diumbar Viktor ke ruang publik, secara sangat jelas dan gamblang  hendak memproklamirkan sentimen identitas dalam konstelasi politik dan proses demokratisasi di NTT. (Foto: Viktor Laiskodat dan Silvester Yunani - ist)

SUARA, dawainusa.com Klaim konsensus masa lalu para tokoh NTT yang disampaikan oleh Viktor Laiskodat, seperti dilansir dawainusa.com, Selasa (9/1) lalu, tentu sangat layak untuk dipersoalkan.

Konon, Viktor laiskodat yang berpasangan dengan Josef Nai Soi pada pilgub 2018 ini pernah mendapat pesan dari Ben Mboi yang tak lain adalah Mantan Gubernur NTT periode 1978-1988.

Mengutip dawainusa.com, pernyataan Viktor tersebut kurang lebih demikian: “Saat itu Frans Lebu Raya maju lagi periode kedua. Pak Ben Mboi pesan biarkan orang Katolik memimpin dua periode, setelah itu menjadi jatah untuk orang Protestan. Saya memahami pesan itu dan membiarkan Lebu Raya maju periode kedua, karena ada kesepakatan politik tokoh-tokoh NTT seperti Ben Mboi, Hendrik Fernandez dan Daniel Woda Pale.”

Baca juga: Mencermati Klaim Viktor Laiskodat Tentang Pesan Ben Mboi

Pernyataan Laiskodat ini terkonfirmasi bukan asal bunyi, sebab telah dibenarkan oleh Daniel Woda Pale yang juga tokoh politik senior NTT dan pernah menjabat sebagai ketua DPRD NTT periode 1994-2004.

Saat itu Frans Lebu Raya maju lagi periode kedua. Pak Ben Mboi pesan biarkan orang Katolik memimpin dua periode, setelah itu menjadi jatah untuk orang Protestan. Saya memahami pesan itu dan membiarkan Lebu Raya maju periode kedua, karena ada kesepakatan politik tokoh-tokoh NTT seperti Ben Mboi, Hendrik Fernandez dan Daniel Woda Pale.

Menguatnya Sentimen Identitas

Konsensus verbal para tokoh masa lalu yang kembali diumbar Viktor ke ruang publik, secara sangat jelas dan gamblang  hendak memproklamirkan sentimen identitas dalam konstelasi politik dan proses demokratisasi di NTT. Basis identitas diperkuat, jual beli ide dan program dilenyapkan. Alhasil, demokrasi kita makin mundur.

Dalam merespons komentar Viktor tersebut, tentu diperlukan analisis yang bijak sehingga tidak membias, atau bisa jadi paling buruk adalah, pola pikir masyarakat pemilih yang mengartikulasikannya sebagai semangat menciptakan sekat atas nama SARA dalam pilkada.

Dari aspek ‘membangun kemapanan’ demokrasi, semangat dari konsensus para tokoh-tokoh ini jelas lebih menonjolkan kerapuhan demokrasi itu sendiri, terlepas dari apapun motif di balik kesepakatan tersebut.

Baca juga: Desakan 2411, Penjarakan Viktor Laiskodat

Meski kerapuhan demokrasi kita memang bukan hanya karena parpol yang alpa menjalankan tugas pendidikan politik, tetapi harus disadari pada lain sisi, kebebasan masyarakat pemilih yang sempit juga akan memberi kontribusi besar membawa demokrasi kita pada titik nadir.

Masih terkait kebebasan masyarakat pemilih. Harus diingat bahwa ukuran penting demokrasi bekerja adalah ketersediaan ruang bagi masyarakat atau warga negara dalam mengartikulasikan pendapat dan pikiran, mengorganisir diri, serta bertukar atau mengakses informasi.

Ukuran penting demokrasi bekerja adalah ketersediaan ruang bagi masyarakat atau warga negara dalam mengartikulasikan pendapat dan pikiran, mengorganisir diri, serta bertukar atau mengakses informasi.

Meminjam Rocky Gerung, demokrasi itu merupakan ruang transaksi pikiran dengan mengedepankan nalar yang sehat. Klaim identitas tidak berlaku di sana. Apalagi narasi iman dan keyakinan atas nama agama, harus ditolak. Jika tidak, demokrasi akan rapuh.

Pada titik ini, jika masyarakat pemilih dapat tumbuh, berkembang dan kuat, maka akan mampu mengimbangi negara dengan elemen-elemen masyarakat politiknya.

Sangat disayangkan, apabila preferensi orang NTT memilih pemimpinnya masih terjebak konsensus masa lalu, dengan mengikuti arahan para pemimpin saat itu, sebagaimana yang dimuntahkan Viktor Laiskodat.

Sebagai masayarakat yang bijak, sudah saatnya pemilih di NTT memilih pemimpin dengan lebih dahulu bebas dari belenggu-belenggu primordialisme dan melepaskan diri dari tekanan politik yang meminjam jubah agama.*

Penulis: Silvester Yunani* (Politisi Muda Asal Manggarai)