Kisah Perempuan Indonesia Korban Trafficking yang Disiksa di Cina

Kisah Perempuan Indonesia Korban Trafficking yang Disiksa di Cina

JAKARTA, dawainusa.com Seorang perempuan asal Kabupaten Suka Bumi, Jawa Barat, mengaku mendapatkan perlakukan kasar dari suaminya di Cina. Melansir BBC, perlakuan kasar yang dialami perempuan berinisial LL itu setelah lima bulan menjalani hubungan suami istri.

“Saya ingin memberitahukan bahwa saya di Cina diperlakukan dengan sangat tidak layak. Suami memukul saya, menampar saya sampai memar-memar, sampai kepala saya dibacok. Lima bulan saya diperlakukan tidak baik di sini, sampai saya juga tidak bisa bertahan” kata LL via, Rabu (19/9).

Baca juga: Ketika Fadli Zon dan Fahri Hamzah Ribut Soal Lagu Potong Bebek Angsa

LL juga ingin segera kembali ke Indonesia. Keinginan untuk pulang ke Indonesia karena alasan penderitaan yang dialaminya.

“Tolong saya, saya sangat menderita di sini. Saya ingin pulang, saya mohon. Saya di sini seperti hewan layaknya, bukan diperlakukan seperti manusia. Tolong siapapun yang mendengar ini,” jelasnya.

Diketahui, LL telah menikah dengan warga negara Cina. Ia memutuskan menikah dengan warga negara Cina tersebut setelah diperkenalkan oleh seorang perempuan bernama Vivi.

Sementara, Vivi merupakan agen perdagangan manusia yang bertugas mencari perempuan Indonesia untuk dibawa ke Cina dengan modus perjodohan.

Tidak hanya LL yang mendapatkan penyiksaan. Seorang perempuan bernama Marisa juga mengaku mendapatkan perlakuan kekerasan dari suaminya setelah berada di Cina.

Diduga, LL dan Marisa merupakan 2 dari 11 perempuan yang mendapatkan penyiksaan di Cina. Sebelum berangkat ke Cina, mereka dikumpulkan disebuah Apartmen di Jakarta. Mereka bersedia berangkat ke Cina karena diiming-imingi dengan perjodohan dan uang.

Korban Trafficking

Sebagaimana dijelaskan oleh Direktur Kriminal Umum Polda Jabar Kombes Polisi Umar Surya Fana, kejadian ini terjadi dengan berbagai macam motif.

Para pelaku sengaja menyembunyikan tujuan dibalik rayuan pernikahan yang diberikan kepada perempuan Indonesia.

Baca juga: Korea Utara dan Korea Selatan Berkomitmen Memulai Era Tanpa Perang

“Trafficker meninggalkan sejumlah uang dalam konteks utang atau dalam konteks janji awal. ‘Ini sepuluh juta dulu yah, nanti sisanya dikasih tiap bulan’. Ini bagian dari growing process,” jelas Umar.

Ia juga menambahkan, perempuan Idonesia yang menikah dengan para pria sebenarnya berjumlah 12 orang. Namun, 1 orang berhasil melarikan diri sewaktu berada di Jakarta. Ini murni perdangan manusia karena ada pihak ketiga sebagai perantara dan mendapatkan keuntungan.

“Makanya dibilang trafficking, tindak pidana perdagangan orang, si pedagangnya yang kena. Vivi ini terima duit, dan dua orang lainnya terima duit. Itu ciri trafficking,” kata Umar.

Lebih lanjut Umar menjelaskan, sebelumnya 11 orang perempuan Indonesia ini mesti memenuhi kriteria yang disampaikan oleh para pria Cina.Kriteria ini disampaikan melalui perantara yang ada di Indonesia.

“Konsumen di sana punya kriteria tertentu, misalnya rambutnya harus panjang, harus ini, segala macam. Tapi ketika datang tidak sesuai dengan kriteria dia. Karena dia sudah punya kontrak, dikawin dulu, habis dikawin dijual lagi ke laki-laki yang lain. Itu apa bukan perdagangan orang?”ungkapnya

Sulit untuk Dipulangkan

Sementara itu, upaya pemulangan terhadap ke-11 perempuan Idonesia ini mengalami kendala. Menurut Irfan Arifian, kuasa hukum dari ke-11 perempuan tersebut, hal ini sulit karena pernikahan mereka telah dicatat secara resmi. Namun, keberangkatan mereka ke Cina ada pelanggaran visa dan manipulasi data paspor.

“KBRI (Kedutaan Besar RI) kita membuktikan bahwa ini ada pelanggaran visa, bahwa ini ada manipulasi data soal paspor, dan tidak ada catatan pengantar dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Indonesia. Mereka masuk ke Tiongkok ini liar, tidak terdaftar di KBRI. Tapi polisi setempat ini, mereka bilang hanya melihat ada buku nikah,” jelas Irfan.

Adapun laporan kekerasan dalam rumah tangga seperti yang dirasakan oleh korban tidak ditanggapi oleh kepolisian Cina. Semua bukti yang diserahkan juga dianggap kurang relevan oleh pihak kepolisian negeri Cina di sana.

“Mereka bilang itu masa lampau, tidak bisa difaktakan saat ini. Kalau terjadi kekerasan segera visum. Bagaimana mereka mau ke rumah sakit, ke polisi, sementara mereka benar-benar disekap di dalam rumah itu oleh keluarga suaminya. Kalau mereka mau kabur, paspornya ditahan, mereka juga ada CCTV banyak, sulit mereka bergeraknya,”tutup Irfan.*