Kisah Laura, Mantan Pramugari Lion Air yang Selamat dari Kecelakan

Kisah Laura, Mantan Pramugari Lion Air yang Selamat dari Kecelakan

JAKARTA, dawainusa.com Laura Lazarus, mantan pramugari Lion Air membagikan ceritanya saat mengalami kecelakan ketika dirinya masih bekerja sebagai pramugari di maskapai Lion Air.

Menjadi tamu di acara Indonesian Lawyer Club (ILC), Selasa (30/10), Laura mengatakan dirinya dua kali mengalami kecelakaan serius saat bertugas.

Laura mengisahkan, kecelakaan paling parah adalah ketika pesawat Lion Air MD-82 dengan penerbangan 538 PK-LMN tergelincir saat mendarat di Bandara Adi Sumarmo, Solo pada 30 November 2004 silam.

Baca juga: Hukuman Mati Tuti, Sandiaga Ungkit Jasa Prabowo Bebaskan Wilfrida

Pesawat melaju menabrak pagar hingga keluar dari runway dan terperosok ke pemakaman umum. Sebanyak 26 orang tewas dan 55 lainnya terluka dalam kejadian ini.

Dalam insiden itu Laura mengaku wajahnya hancur dan beberapa tulangnya patah. “Saya mengalami luka sangat parah, muka saya hancur dengan keadaan pipi saya ini terbacok, tulang pipi remuk,” katanya.

“Ini jauh lebih baik karena saya telah mengalami banyak sekali operasi. Tangan saya copot, pinggang saya patah dan kaki saya patah,” lanjut Laura. “Seperti Pak Karni liat saya juga masih jalan pakai tongkat,” tambahnya.

Laura mengatakan bahwa Lion Air hanya memberi pertanggungjawaban usai ia mengalami kecelakaan hingga tahun 2007. “Lion Air menanggung ketika awal-awal kejadian kecelakaan, 8 bulanan awal mereka tanggung. Lepas (tanggung jawab) itu dari tahun 2007 sudah tidak ada lagi pertanggungjawaban,” ungkapnya.

Laura

Laura Lazarus – ist

Soal Asuransi

Karni Ilyas, pembawa acara ILC juga menanyakan tentang asuransi, uang jasa dan uang kompensasi yang diterima Laura. Namun Laura mengaku dirinya tak mendapatkan uang santunan apapun setelah kecelakaan yang mengubah hidupnya tersebut.

“Waktu itu saya mengalami kecelakaan usia 19 tahun, sampai tahun 2006 gaji saya diberhentikan,” katanya. “Tahun 2007 udah tidak ada kabar lagi. 2008 saya coba hubungi dan sampai sekarang saya tidak dapat kabar,” lanjutnya. “Jadi tidak ada santunan atau asuransi?” tanya Karni.

“Mungkin mereka sibuk jadi mereka lupa. Jadi saya mengerti,” sindir Laura. Laura menuturkan, awalnya Lion Air membiayai pengobatannya, namun untuk pulih total, ia harus berjuang sendiri.

Baca juga: Black Box Lion Air Berhasil Ditemukan dan Diangkat ke Darat

“Di awal memang Lion Air membiayai pengobatan saya, tapi sisanya ternyata efek yang ditimbulkan setelah kecelakaan kan panjang. Jadi, saya harus berjuang sendiri,” ungkapnya.

Laura mengatakan, dirinya mencari berbagai cara untuk menanggung biaya pengobatannya dan menanggung keluarganya. Namun ia saat itu berharap bahwa pihak Lion Air mau memberinya kabar bahwa tanggungan dihentikan.

“Mungkin mereka menanggung hanya sampai segini, tapi setidaknya diinfokan udah, atau dikeluarkan satu surat. Tapi ya kembali lagi Pak, mereka sibuk,” katanya.

Meski mendapat perlakuan tersebut dari maskapai yang pernah mempekerjakannya, Laura tidak menyimpan kekecewaan.

“Saya udah memaafkan, saya gak kecewa karena kalau saya simpan terus kekecewaan, ini malah membunuh saya dan tidak mungkin membuat saya seperti sekarang bisa hari ini ada di sini,” ungkapnya.

Setelah berjuang dengan hidupnya, kini Laura bisa membuka kantor penerbitan buku sesuai yang diharapkannya. “Saya sekarang mendapat kesempatan membuka kantor penerbitan buku. Saya mau melakukan sesuatu untuk membangun Indonesia melalui pendidikan,” ujarnya.*

COMMENTS