Ketika SBY Hanya Ditemani Sang Istri ke Kantor Polisi

Ketika SBY Hanya Ditemani Sang Istri ke Kantor Polisi

Dalam melayangkan laporan tersebut, Ketua Umum Partai demokrat itu memilih untuk ditemani sang istri, Ani Yudhoyono. Ia bahkan melarang para kader Partai Demokrat yang hendak menemaninya ke kantor polisi. (Ibu Ani Yudhoyono saat menemani SBY di Kantor Polisi - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melaporkan Kuasa Hukum Setya Novanto, Firman Wijaya ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) atas dugaan tindak pidana fitnah dalam persidangan kasus korupsi e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto.

Dalam melayangkan laporan tersebut, Ketua Umum Partai demokrat itu memilih untuk ditemani sang istri, Ani Yudhoyono. Ia bahkan melarang para kader Partai Demokrat yang hendak menemaninya ke kantor polisi.

“Para kader tak perlu mendampingi saya ke Bareskrim. Biar saya sendiri yang datang ke Bareskrim, saya hanya mau ditemani ibu Ani, Istri tercinta yang selalu menemani dalam suka dan duka,” kata SBY di Kantor DPP Demokrat, Senin (6/2).

Baca juga: SBY Disebut Terlibat Dalam Kasus Korupsi E-KTP, Demokrat: Itu Fitnah

laporan yang dilayangkan SBY berawal ketika kuasa hukum Setya Novanto, Firman Wijaya, menyebutkan bahwa proyek e-KTP dikuasai pemenang pemilu tahun 2009 yakni Partai Demokrat dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

SBY menilai, adanya rekayasa dalam ucapan Firman Wijaya terkait keterlibatannya dalam korupsi e-KTP. Bahkan ia menyebut, pernyataan Firman di hadapan pers yang menudingnya sebagai aktor di balik kasus mega korupsi itu telah diatur sedemikian rupa.

Ketua DPP Partai Demokrat Didik Mukriyanto tidak tinggal diam. Didik kemudian menyentil Firman bahwa nalar logika yang menyeret nama SBY dalam pusaran korupsi e-KTP sangat konyol, bermuatan sesat, dan jahat untuk membunuh karakter.

“Dugaan niat dan hasrat yang menyesatkan ini yang merugikan nama baik dan martabat SBY sangat layak dan patut dimintakan keadilan melalui jalur hukum,” tegasnya.

Tak Bermaksud Memojokkan SBY

Berbeda dengan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Mirwan Amir. Mirwan sendiri mengaku bahwa dirinya tidak bermaksud menyudutkan pihak tertentu termasuk SBY dalam kesaksian di persidangan kasus korupsi e-KTP.

“Tidak ada maksud untuk memojokkan pihak tertentu termasuk SBY. Juga tidak ada nada tuduhan kepada SBY,” katanya.

Baca juga: Sentilan SBY Soal Pentingnya Etika Dalam Pemilu

Menurut Mirwan, keterangan yang diberikan dalam persidangan murni berdasarkan pengetahuannya terkait proyek pengadaan e-KTP. Karena itu, ia memastikan keterangannya itu tidak ditunggangi oleh kepentingan mana pun di luar dirinya.

Ia juga menyinggung soal beredarnya surat atas nama dirinya kepada redaksi dua media nasioan. Surat yang beredar itu berisi klarifikasi atas keterangan yang ia berikan di pengadilan. Ia pun membantah pernah menulis surat tersebut. Dai mengatakan keterangan yang ia berikan di persidangan adalah hal yang sebenarnya.

“Perlu saya tegaskan bahwa saya tidak pernah menulis surat tersebut. Surat tersebut adalah hoaks. Keterangan saya di persidangan adalah hal yang sesungguhnya,” kata dia.

AHY Mengaku Kaget

Sementara itu, putra sulung SBY, Agus Harimuty Yudhoyono mengaku kaget soal penyebutan SBY oleh Mirwan Amir dalam kesaksiannya di persidangan kasus korupsi e-KTP.

Pada hal dalam surat dakwaan Ketua Umum (Ketum) Golkar dan Ketua DPR RI itu, tidak ada nama SBY, hanya tercatat nama Gamawan Fauzi yang kala itu menjabat sebagai menteri dalam negeri.

AHY mengaku dirinya tak suka jika nama ayahnya disebut dalam proses pengadilan korupsi e-KTP dengan terdakwa Setya Novanto.

“Enggak ada hubungannya sama Bapak,” kata AHY singkat usai memberikan bantuan kepada korban gempa Lebak, di Kecamatan Bayah, Banten, belum lama ini.* (RAG)