Ketika Rukyah Dijadikan Modus Guru di Jombang Cabuli 26 Muridnya

Ketika Rukyah Dijadikan Modus Guru di Jombang Cabuli 26 Muridnya

JOMBANG, dawainusa.com Eko Agriawan (48), divonis 14 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jombang, Jawa Timur. Eko dinyatakan bersalah karena ia terbukti melakukan aksi yang bejat. Ia mencabuli 26 muridnya.

Kasus ini sebenarnya sudah mencuat sejak bulan Februari yang lalu. Pada 14 Februari 2018 telah diberitakan bahwa Eko Agriawan ditahan oleh polisi karena menjadi pelaku pelecehan seksual terhadap muridnya. Ia dijadikan tersangka dan dijerat dengan pasal 82 UU Perlindungan Anak.

Selain mendapatkan hukuman penjara selama 14 tahun, Eko juga didenda Rp 2 miliar. Guru SMP Negeri 6 Jombang ini menerima putusan tersebut dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Jombang, Senin (17/9).

Baca juga: Prabowo Janji Pulangkan Rizieq, Fadli Zon: Demi Tegaknya Keadilan

Melansir Kompas.com, dalam sidang yang berakhir hingga Senin sore, Eko Agriawan ditetapkan bersalah, karena menjerat anak didiknya. Bahkan, perbuatan cabul yang ia lakukan dibungkus dalam modus melakukan rukiah.

Dalam kasus tersebut, Eko didakwa dengan pasal 82 juncto pasal 76E Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Dalam persidangan tersebut, vonis berat 14 tahun ia terima mengingat statusnya sebagai guru dari 26 korban tersebut.

“Menjatuhkan hukuman kepada terdakwa, yaitu hukuman penjara selama 14 tahun dan denda sejumlah Rp 2 miliar, subsider 6 bulan masa tahanan,” kata Ketua Majelis Hakim dalam bacaan putusan sidang untuk Eko.

Modus Rukyah

Sidang yang dipimpin oleh Hera Kartiningsih berhasil mengungkapkan modus Eko dalam mencabuli muridnya tersebut. Modus rukiah rupanya tidak hanya terjadi di gedung sekolah, melainkan juga mushala, lapangan basket, hingga mobilnya.

Selain karena berstatus seorang guru, vonis berat pengajar bahasa Indonesia tersebut diterimanya karena ia enggan mengakui perbuatannya selama dalam pengadilan. Syaiful Bahri, penasehat hukum sang pelaku, mengatakan bahwa Eko masih mempertimbangkan putusan ini.

Baca juga: Prabowo Subianto Ungkap Strategi Lengserkan Ahok

Hal yang dipertimbangkan adalah faktor-faktor yang memberatkan masa hukumannya. “Seperti yang disampaikan tadi, kami masih pikir-pikir. Dalam seminggu ini kita kaji dulu, kita telaah dulu,” tutur Syaiful usai persidangan.

Berbeda dengan hakim, Jaksa Penuntut Umum Negeri Jombang, Moch Indra Subrata, menuntut hukuman bagi Eko setahun lebih berat. JPU menuntut dia 15 tahun penjara. Selain itu, JPU mengatakan bahwa ada hal lain selain putusan yang belum mereka terima.

“Untuk putusannya kami terima. Yang masih kami pertimbangkan adalah soal mobil terdakwa yang ternyata dikembalikan oleh Pengadilan kepada terdakwa. Alasannya karena bukan dari hasil kejahatan,” tutur Indra.

Menurut JPU, mobil tersebut harus disita negara, karena mobil itu adalah sarana Eko dalam melakukan kejahatannya. Selama tiga jam persidangan, guru berseragam Aparatur Sipil Negara turut hadir dalam ruang sidang. Usai menjalani sidang, Eko menyalami guru-guru tersebut.

Kasus ini adalah fenomena gunung es dari kekerasan yang diterima anak dalam lingkungan pendidikan. Selain mendapatkan kekerasan seksual, anak di usia sekolah juga mendapatkan kekerasa verbal dan fisik. Ini adalah persoalan serius dalam dunia pendidikan, di samping aspek kualitas pengajaran.

Oleh karena itu, sekolah sudah menjadi tempat yang tidak memberi keceriaan bagi peserta didik. Sayangnya, kekerasan tersebut mereka terima dari orang terdekat atau sosok pendidik yang seharusnya menjadi panutan. Kalau hal ini terus dibiarkan, pendidikan kita akan selalu terbelakang.*