Ketika Rekan Senusa Diguncang Bubur Kacang Sepiring

Ketika Rekan Senusa Diguncang Bubur Kacang Sepiring

Mengapa tawuran mahasiswa 'atas nama bubur kacang', bisa terjadi di tempat yang sejatinya memproduksi nalar dan akal sehat: kampus? (Ilustrasi: Adegan film Kung Fu Hustle)

EDITORIAL, dawainusa.com Beberapa hari ini, bincang-bincang seputar bubur kacang cukup kencang. Ada apa dengan bubur kacang? Kenapa salah satu pilihan menu sarapan itu jadi trending topic di kalangan mahasiswa dan mama-mama? Setelah dilacak, ternyata  bubur kacang menjadi pemicu tawuran antar-mahasiswa di sebuah kampus di Nusa Tenggara Timur.

Menurut tutur yang beredar di sejumlah media lokal, penyebab tawuran bermula ketika mahasiswa prodi Arsitektur di kampus tersebut menjajakan bubur kacang kepada tetangganya: para mahasiswa Fakultas Hukum.

“Mereka (mahasiswa FST) datang jual bubur kacang, kebetulan anak-anak kita di Hukum lagi istirahat, jadi ditawar untuk beli bubur kacang, beli bubur kacang ko? Mahasiswa hukum menjawab, kami tidak beli. Begitu menolak untuk tidak dibeli, ada bahasa keluar bahwa besong di Hukum ini banyak orang, tapi kok tidak bisa beli bubur kacang, parah,” demikian ungkap salah satu sumber yang dikutip.

Begitu mendengar kata ‘parah’, sontak para tetangganya itu, para mahasiswa hukum, langsung menuju mahasiswa yang bersangkutan.

“Mereka tarik bubur kacang dan terjadilah baku pukul,” jelas sang sumber.

Padahal, baru selang beberapa hari sebelumnya, sebuah stasiun televisi nasional memberitakan, seorang wakil rakyat di sebuah kabupaten dari provinsi yang sama juga nyaris terlibat baku hantam dengan temannya saat sidang paripurna berlangsung. Botol Aqua melayang, gelas kopi dibanting, hampir saja kepalan tangan saling diperjualbelikan.

Baca juga: Zhang Yang, Jendral China yang Gantung Diri Setelah Dituduh Korupsi

Tawuran Bubur Kacang dan Komentar di Dunia Maya

Kembali ke bubur kacang. Gara-gara menu makanan berisi biji-bijian kacang hijau, plus sedikit kuah yang dibumbui gula merah ini, perkelahian para mahasiswa kampus tersebut menjadi viral di linimasa dunia maya. Warganet ramai-ramai ‘turun gunung’ berkomentar.

Ada yang bilang mahasiswa bego, ada yang bilang otak kosong, ada yang bilang bikin habis uang orangtua, ada yang bilang tak usah kuliah dan ikut turnamen tinju bebas saja, ada yang bilang kasih kenyang mereka dengan bubur kacang, dan lain-lain. Masih banyak reaksi kece, menggeletik, serta mengocok perut yang tak habis ditampung penulis. Pokoknya lucu-lucu.

Poin kritis para warganet adalah, mengapa tawuran mahasiswa ‘atas nama bubur kacang’, bisa terjadi di tempat yang sejatinya memproduksi nalar dan akal sehat: kampus. Sejatinya, tempat itu adalah tabernakel ide dan gagasan; ruang yang seharusnya menjadi sentra pembentukan nilai-nilai moral dan etika penerus bangsa.

Tentu, aksi anarkis para mahasiswa tersebut ini berbeda dengan Tan Malaka yang semasa mahasiswa, menjalani laku-tapa dengan melahap teks-teks Karl Marx, Friedrich Engels, dan Vladimir Lenin.

Tentu juga, berbeda dengan Bung Hatta, yang semasa kuliah terlibat aktif dalam gerakan menentang imperialisme, dan  terjun dalam diskursus komunisme yang cukup ketat. Atau, Sutan Syahrir, sang intelektual revolusioner yang selalu sakit kepala kalau belum sempat menelan ide dari buku-buku pemikir modern.

Atau bisa jadi, kita akan kelewat jauh membandingkan kehebatan Tan Malaka, Bung Hatta atau Syahrir dengan sekelompok mahasiswa yang saling baku hantam, menjual bogem dan makian, atas nama ketersinggungan karena bubur kacang.

Terlalu kasar? Sepertinya tidak.

Baku Hantam, atau istilah kids zaman now; tawuran, adalah bentuk penelanjangan martabat mahasiswa. Ia mengkhianati dirinya sebagai agen yang memproduk diskursus rasional dengan menunjukkan rendahnya kualitas akal sehat.

Ia membiarkan nalarnya dicekik ‘bubur kacang’ dan dalam sekejab membiarkan harga dirinya dirampas innsting: dalam sekejab seolah berubah menjadi binatang buas dan menerkam tanpa ampun.

Tentu muncul pertanyaan, bagaimana mungkin mahasiswa sanggup menjadi agent of change, ketika persoalan sepele semisal bubur kacang saja tidak bisa diselesaikan dengan damai?

Mahasiswa semestinya mengedepankan cara-cara yang elegan dalam menyelesaikan permasalahan. Bukan dengan melakukan tindakan agresif liar tanpa kontrol, ala preman jalanan.

Otak mahasiswa seharusnya diisi amunisi pengetahuan yang baik, didoping spirit moral untuk menuntun pola tingkah laku. Komunikasi, dialog persuasif, menjadi cara-cara ‘gentle’ yang sepatutnya dipilih oleh seorang mahasiswa dalam menyelesaikan masalah.

Kenapa Demen Baku Hantam?

Banyak faktor yang menyebabkan tawuran di kalangan mahasiswa. Ketidaktahuan mahasiswa terhadap hukum positif yang berlaku turut menyumbang mencuatnya tindak kekerasan pada lingkup pendidikan tinggi tersebut.

Menurut Harris Iskandar, Ph.D, mantan Sekretaris Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional, sebagian tawuran antar-mahasiswa terjadi karena membawa budaya dari daerahnya yang masih kental. Namun, menurutnya, fenomena ini bisa dianalisis dari berbagai sisi.

Baca juga: Berdamailah dengan Pemberontak: Konflik Moro dan Gerakan MILF

Pertama, tingkat pemahaman tentang KUHP (Kitab Undang-undang Hukup Pidana) yang masih kurang. Menurut Harris, mahasiswa kalau ditanya pasal pembunuhan hukumannya berapa tahun tidak mengerti. Sehingga, dari awal, upaya pemahaman mengenai hukum pidana harus disampaikan kepada mahasiswa.

Kedua, sarana dan prasarana yang menunjang pendidikan masih kurang. Idealnya, setiap kampus memiliki sarana olah raga yang lengkap, auditorium yang bagus, dan fasilitas penunjang lain yang memadai. Dengan fasilitas penunjang yang lengkap, waktu senggang mahasiswa bisa dimanfaatkan untuk menyalurkan hobinya di kampus.

Ketiga, tumbuhnya jiwa premanisme di kalangan mahasiswa. Mental sebagian mahasiswa yang ingin tampil keren menjadi penyebab terjadinya tawuran. Biasanya, mahasiswa dengan kemampuan akademik rendah akan selalu mencari sensasi lain yang bisa bisa membuatnya diakui. Salah satunya adalah terlibat perkelahian atau tawuran.

Tentu, masih banyak lagi penyebab, kenapa mahasiswa hobi adu jotos. Apakah ingin menyaingi anggota dewan di Senayan? Entahlah, semoga kedepannya kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Kita rindu mendengar mahasiswa berkompetisi adu prestasi akademik, bukan unjuk fisik andalkan otot selesaikan setiap soal.* (AT)

Salam Redaksi !!!