Ketika Prabowo Subianto Terkepung di Pilpres 2019

Ketika Prabowo Subianto Terkepung di Pilpres 2019

JAKARTA, dawainusa.com Konstelasi Pilpres 2019 cukup memanas. Di ruang maya, kedua kubu masing-masing bersaing mendominasi opini. Perang narasi pun tak bisa dibendung. Ditambah pula drama kebohongan Ratna Sarumpaet yang telah memicu sejumlah kegaduhan.

Situasi politik tersebut tentu memiliki efek yang berbeda bagi masing-masing kubu. Efek kebohongan Ratna Sarumpaet, misalnya. Bisa saja berdampak negatif bagi kubu Prabowo jika terus digoreng kubu Jokowi. Atau malah sebaliknya.

Memang, dinamika pilpres kali ini cukup berbeda dari sebelumnya. Poros oposisi memberi komentar soal ini. Melalui Sekretaris Jendral (Sekjed) Gerindra, Ahmad Muzani, menegaskan, Pilpres 2019 merupakan yang terberat bagi Prabowo Subianto dibandingkan dua pilpres sebelumnya.

“Di semua sektor Prabowo merasa dikepung,” kata Muzani di Kompleks DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (10/10/2018).

Baca juga: Sejumlah Sorotan Oposisi di Balik Pemanggilan Amien Rais

Salah satu sorotan Muzani adalah soal keterlibatan kepala daerah dalam pilpres kali ini. Pada Pilpres 2019, katanya, saat Prabowo menjadi cawapres Megawati Soekarnoputri melawan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tak ada kepala daerah yang terlibat dalam pemilu seperti saat ini.

Kubu Jokowi-Ma’ruf Amin memang mendapatkan dukungan dari sejumlah kepala daerah. Bahkan, dalam Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan nomor urut 01 yang diserahkan ke KPU pada Agustus lalu, para kepala daerah itu menjadi tim teritori.

Tentu, bergabungnya pemimpin daerah ini menambah kekuatan Jokowi menghadapi pertarungan Pilpres 2019. Mereka diyakini bisa mendongkrak suara Jokowi di daerahnya masing-masing.

Soal dukungan kepala daerah, sebetulnya ada sejumlah alasan yang melatarinya. Gubernr Jawa Barat Ridwan Kamil, misalnya. Ridwan mendukung Jokowi-Ma’ruf karena sesuai dengan dukungan partai politik yang mendukungnya pada Pilgub Jawa Barat 2018 lalu.

Selain Ridwan, ada juga Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru-Mawardi Yahya, yang mendeklarasikan mendukung Jokowi-Ma;ruf dalam Pilpres 2019.

Alasan keduanya adalah di Sumsel, rakyat merasakan perhatian dari Jokowi melalu pembangunan infrastruktur dan perekonomian yang cukup masif. Masih ada beberapa kepala daerah yang juga mendukung poros petahana seperti di Papua dan Sumatera Barat.

Di sisi lain, keberadaan lembaga survei yang cendrung berpihak ke poros petahana menguatkan pernyataan Muzani bahwa Prabowo memang benar-benar terkepung. Bahkan, katanya, ada lembaga survei yang keberatan ketika diminta membantu kubu Prabowo.

“Lembaga survei yang beberapa kali kami galang dan minta membantu juga mereka rata-rata keberatan dengan alasan satu dan lain hal,” jelasnya.

Hal itu, menurut Muzani, seolah sengaja membuat Prabowo tak boleh unggul dalam survei elektabilitas lembaga survei. Selanjutnya, Muzani menyatakan, Prabowo juga tidak mendapat keberimbangan pemberitaan dari media-media mainstream.

“Kami merasakan di beberapa pemberitaan media dan headline itu semua menampilkan headline penguasa kegiatan penguasa petahana,” kata Muzani.

Diketahui, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno masih tertinggal dari Joko Widodo-Ma’ruf Amin di beberapa survei jelang Pilpres 2019. Survei LSI Denny JA, misalnya, Jokowi-Ma’ruf 52,2% dan Prabowo-Sandi 29,5 %. Selain itu dari lembaga survei Y-Publica, Jokowi-Ma’ruf unggul 52,7 % dan Prabowo-Sandi 28,6 %.

Terkahir, kata Muzani, Prabowo juga lebih susah mendapatkan bantuan dana kampanye dari pengusaha. Kalaupun ada yang membantu, menurutnya, pun secara diam-diam. “Karena mereka mengatakan bahwa proyek kami dengan pemerintah APBN atau APBD terancam,” kata Muzani.

Adu Strategi

Di tengah situasi terkepung itu, kubu Prabowo-Sandi harus bekerja lebih maksimal. Sebelumnya, ada beberapa strategi yang didesain poros oposisi dalam rangka memenagkan Pilpres.

Pertama, strategi filosofi ‘sapu lidi’. Strategi ini diungkapkan Prabowo beberapa waktu lalu. Maksud filosofi sapu lidi adalah agar seluruh timses, relawan dan simpatisan Prabowo-Sandiaga harus bekerja sama agar tidak mudah retak.

Baca juga: Surat Terbuka Ratna Sarumpaet dari Rutan Polda Metro Jaya

Kedua, mentarget suara milenial. Harus diakui, bukan saja kubu Prabowo-Sandi yang ingin menggaet suara milenial, tetapi juga kubu Jokowi-Sandiaga. Kekuatan suara milenial memang cukup besar dan sangat berpengaruh dalam pilpres.

Untuk pemilih baru saja, jumlahnya diperkirakan mencapai 6 juta. Prabowo-Sandi punya target kuat untuk menggarap segmen suara milenial tersebut. Apalgi dengan kehadiran Sandiaga yang cendrung dilihat sebagai reperesentasi kekuatan milenial.

Ketiga, strategi emak-emak. Strategi ini sudah sering dilakukan oleh Sandiaga Uno. Ia kerap kali melakukan blusukan ke berbagai daerah, termasuk pasar-pasar. Dia akan bertemu dengan para ibu atau “emak-emak” dan menanyakan harga barang. Sering kali emak-emak ini curhat dengan Sandi tentang mahalnya kebutuhan pokok.

Menurut Sandi, kondisi ekonomi menjadi perhatian emak-emak saat ini. Inilah kesempatan mereka untuk mencuri hati para ibu dengan mengusung isu ekonomi.

Jika dilihat sepintas, basis kekuatan yang diperebutkan oleh dua kubu ini hampir sama. Hanya saja sejauh mana kerja tim dari kedua kubu untuk mempengaruhi kekuatan-kekuatan tersebut sehingga mampu memenagkan kontestasi pilpres.*