Ketika Nama Gus Dur Hilang dari Kamus Sejarah, Ada Apa?
Gus Dur/Ist

Dawainusa.com – Nama Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur hilang dari Kamus Sejarah Indonesia.

Hialngnya nama Gus Dur itu mengundang reaksi dari Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pringsewu, Lampung, Muhammad Faizin.

Dilansir dari RRI.co.id, Rabu (21/4/2021), ia mengatakan, nama Presiden keempat RI Gus Dur hilang dari Kamus Sejarah Indonesia Jilid II.

Baca juga: Empat Jenderal Turun Tangan Kawal Kasus Pengeroyokan Anggota Kopassus

Hanya Foto Gus Dur

Menurut Muhammad Faizin, hanya foto wajah sosok yang akrab disapa Gus Dur itu yang terlihat di sampul Kamus Sejarah Indonesia Jilid II.

“Sosok Presiden Indonesia keempat RI ini hanya terlihat fotonya pada sampul buku di jilid II seperti halnya KH Hasyim Asy’ari yang hanya muncul di sampul halaman jilid I. Nama Gus Dur tidak dimasukkan ke jajaran tokoh yang ada,” kata Faizin dalam artikel yang diunggah di situs NU Online, Selasa (20/4/2021).

Faizin mengatakan, bahwa hilangnya nama tokoh NU Hasyim Asr’ari dan Gus Dur menunjukkan bahwa dua jilid Kamus Sejarah Indonesia terbitan Kemendikbud tidak bisa menjadi rujukan untuk peserta didik di Indonesia.

“Namun dengan hilangnya nama dua tokoh Nahdlatul Ulama yakni KH Hasyim Asy’ari di jilid I dan KH Abdurrahman Wahid di jilid II menunjukkan buku ini tidak bisa menjadi rujukan pembelajaran di sekolah dan madrasah,” tutur Faizin.

Sebelumnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menegaskan bahwa tidak ada niat untuk menghilangkan peran pendiri Nahdlatul Ulama Hadratus Syeh Hasyim Asyari dalam kamus sejarah.

“Kesimpulannya, terjadi keteledoran yang mana naskah yang belum siap kemudian diunggah ke laman Rumah Belajar. Tidak ada niat untuk menghilangkan KH Hasyim Asyari sebagai tokoh sejarah dalam buku tersebut,” ujar Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid, Selasa (20/4/2021).

Gus Dur
Gus Dur/Ist

Baca jugaJoseph Paul Zhang Mengaku Sudah Bukan Warga Negara Indonesia

Dia menjelaskan, bahwa di dalam buku yang sama juga terdapat peran dari Hadratus Syeh Hasyim Asy’ari yang ada dalam bagian pendiri NU.

Peran Hasyim Asyari disebutkan di dalam halaman lain, hanya tidak ada di dalam lema atau entry.

Dia pun meminta maaf kepada semua pihak terkait tak dicantumkannya nama Hasyim Asyari tersebut.

“Jadi, narasi menghilangkan peran KH Hasyim Asyari itu tidak benar. Kami mengakui memang ada kesalahan teknis dan kami memohon maaf. Kesalahan itu seharusnya tidak perlu terjadi,” jelas dia.*