Ketika Kesucian Direnggut Birahi sang Ayah

Ketika Kesucian Direnggut Birahi sang Ayah

Berita pemerkosaan terhadap perempuan beberapa waktu terkhir mengindikasikan banyaknya kekerasan seksual terhadap perempuan di Indonesia. (Foto Ilustrasi: Kekerasan Seksual terhadap Perempuan)

EDITORIAL, dawainusa.com Beberapa waktu terakhir, berita kejahatan seksual terhadap anak-anak perempuan Indonesia menyeruak ke permukaan. Kecaman dan kemarahan publik bermunculan, sekaligus mengutuk  keras tindakan biadab itu. Dawainusa.com coba menghimpun beberapa kasus kejahatan seksual yang cukup menggegerkan publik akhir-akhir ini.

Pada September lalu, seorang ayah di Samarinda tega memperkosa anak kandungnya yang baru berusia 12 tahun. Rasa iba  kepada anak tertelan birahi. Cinta sebagai seorang ayah pun hilang seketika.  Bahkan, meski korban yang masih di bawah umur itu menangis dan menjerit kesakitan, ayahnya tetap tak peduli.

Kebiadaban seorang ayah juga terjadi di Tangerang Selatan pada Juli lalu. Ia nekat memperkosa putrinya yang berusia 17 tahun hingga hamil. Putrinya memendam aksi bejat ayahnya itu lantaran takut nyawanya terancam. Ia memilih enggan bercerita hingga kelahiran anak keduanya.

Di Palembang, seorang ayah memperkosa anaknya selama 5 tahun hingga akhirnya mengalami gangguan psikologis. Kehidupan putrinya dihancurkan sendiri oleh orang yang seharusnya menjadi penjaga sekaligus sumber cinta bagi dirinya. Kehidupan seolah telah berakhir dan hancur berantakan.

Sementara itu, di Ambon baru-baru ini, seorang ayah tanpa rasa malu meniduri anak kandungnya yang baru berusia 8 tahun. Setelah lama ditinggal istri, ia mencari kepuasan biologisnya dengan mengahancurkan seluruh kehidupan bocah di bawah umur tersebut. Bahkan, sebelum melakukan pemerkosaan, ia terlebih dahulu mengkonsumsi minuman keras.

Kasus pemerkosaan yang sama juga terjadi di Borong, Manggarai Timur. Perbuatan bejat sang ayah yang tega memperkosa putri kandungnya itu menjadi trending topik beberapa hari terakhir di Indonesia. Media lokal dan nasional mengakat peristiwa keji ini. Pria yang lama merantau di Malaysia itu bahkan berani merekam seluruh aksi biadabnya, sebelum akhirnya diketahui sang istri.

(Baca jugaAncaman Nuklir Korut di Level Kritis, AS Makin Geram)

Deretan fakta kebiadaban di atas merupakan representasi begitu banyak kasus kekerasan seksual terhadap perempuan di Indonesia.

Catatan Tahunan 2017 yang direkam Komnas Perempuan menunjukkan, dari kasus kekerasan terhadap perempuan, kekerasan seksual berada di peringkat kedua dengan jumlah kasus mencapai 2.3999 kasus (72%), pencabulan mencapai 601 kasus (18%) dan pelecehan seksual mencapai 166 kasus (5%).

Presiden Joko Widodo pada 2016 lalu telah menyatakan bahwa kejahatan seksual terhadap anak di Indonesia adalah kejahatan luar biasa, setara dengan kejahatan terorisme, narkoba dan korupsi.

Implikasinya, jika kejahatan seksual terhadap anak adalah kejahatan luar biasa, maka penanganannya tidak bisa dilakukan seperti yang selama ini dipraktekkan oleh aparat penegak hukum. Penegak hukum harus responsif, cepat dan tidak bertele-tele dalam menyelesaikan kasus kejahatan seksual anak.

Kenapa Memperkosa ?

Cesare Lambrosso, seorang Kriminolog dan Psikolog asal Italia menulis artikel tentang faktor-faktor yang menyebabkan seorang melakukan tindakan pemerkosaan. Menurut Lambrosso, secara umum, apabila dilihat dari motif pelakunya, ada beberapa hal yang mendorong orang melakukan pemerkosaan;

Seductive Rape; pemerkosaan model ini terjadi disebabkan rangsangan nafsu birahi sang pelaku. Biasanya pemerkosaaan ini terjadi pada mereka yang sudah saling mengenal. Contohnya pemerkosaan oleh pacar, keluarga, teman atau orang-orang terdekat lainnya.

Sadistic Rape; pemerkosaan yang dilakukan secara sadis, si pelaku akan merasa mendapatkan kepuasan seksual bukan karena bersetubuh, namun dengan penyiksaan terhadap korban; hal tidak didapatkan dalam hubungan seksual secara normal.

Anger rape; pemerkosaan ini dilakukan untuk mengungkapkan rasa marahnya pada korban. Kepuasan seksual bukan tujuan utama yang diharapkan pelaku, namun sekedar untuk melampiaskan kemarahannya pada korban.

Domination Rape; pemerkosaan ini hanya ingin menunjukan dominasinya pada korban dan pelaku hanya ingin menguasai korban secara seksual. Misalnya pemerkosaan majikan terhadap pembantunya.

Exploitation Rape; pemerkosaan yang terjadi karena ada rasa ketergantungan korban terhadap pelaku baik secara ekonomi maupun sosial. Biasanya, kasus ini terjadi tanpa adanya kekerasan oleh pelaku terhadap korban. Contohnya atasan terhadap bawahanya, majikan terhadap pembantunya.

(Baca juga: Setelah Ditikam, Julio da Silva Meregang Nyawa)

Negara Dengan Angka Pemerkosaan Anak Tertinggi Dunia

Kasus kekerasan seksual terhadap perempuan telah menjalar ke bebrapa negara di dunia. Berikut adalah daftar negara-negara dengan data tertinggi di dunia dengan kerentanan terhadap kasus pemerkosaaan kepada perempuan.

Inggris

Hampir lima persen bocah di Inggris pernah mengalami pelecehan seksual. 90% di antaranya dilakukan oleh kenalan sendiri. Tahun 2012/13, kepolisian mencatat lebih dari 18.000 kasus pelecehan seksual terhadap bocah di bawah 16 tahun. Pada tahun yang sama 4171 pelecehan dan pemerkosaan dilakukan terhadap bocah perempuan di bawah usia 13 tahun.

Afrika Selatan

Menurut penelitian Trade Union Solidarity Helping Hand, setiap tiga menit seorang bocah diperkosa di Afrika Selatan. Studi laín mengungkap satu dari empat laki-laki mengaku pernah memperkosa seseorang dan sepertiganya meyakini perempuan menikmati pemerkosaan. Beberapa korban pemerkosaan bahkan baru berusia enam bulan. Korban juga sering terinfeksi HIV/AIDS setelah diperkosa.

India

Asian Centre for Human Rights melaporkan pelecehan seksual kepada anak-anak sedang mewabah di India. Laporan terakhir menyebut ada lebih dari 48.000 bocah yang diperkosa selama sepuluh tahun sejak 2001. Tahun 2011 saja kepolisian mencatat 7112 kasus pemerkosaan anak-anak. Menurut IB Times, pelaku pemerkosaan anak di India mencakup ayah, saudara, tetangga, dan guru sekolah.

Zimbabwe

Kepada harian lokal NewsdeZimbabwe, kepolisian mengklaim kasus pemerkosaan anak-anak meningkat tajam sejak 2010, dari 2883 kasus menjadi 3172 di tahun berikutnya. Dalam banyak kasus, kata kepolisian, “pelakunya berasal dari lingkungan keluarga.” Sebuah rumah sakit di Harare mengabarkan, pihaknya menangani lebih dari 30.000 bocah korban pemerkosaan dalam periode empat tahun.

Amerika Serikat

“Akan ada 500.000 bayi lahir tahun ini di Amerika Serikat yang akan menjadi korban pelecehan seksual sebelum mereka berusia 18 tahun,” tulis Children Assessment Centre (CAC). Kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak tergolong tinggi di AS. Menurut data Departemen Kesehatan, 16% remaja antara 14 hingga 17 tahun mengaku pernah menjadi korban pelecehan seksual atau pemerkosaan.

Indonesia

Kendati tidak termasuk dalam daftar negara dengan tingkat pelecehan seksual anak tertinggi di dunia, Indonesia mencatat kemunduran dalam hal perlindungan anak. Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat, 2014 silam dari 2.726 kekerasan terhadap bocah, 56% di antaranya berupa pelecehan seksual. Dari jumlah tersebut cuma 179 yang mengadu kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban.* (AT)