Ketika Fadli Zon dan Fahri Hamzah Ribut Soal Lagu Potong Bebek Angsa

Ketika Fadli Zon dan Fahri Hamzah Ribut Soal Lagu Potong Bebek Angsa

JAKARTA, dawainusa.com – Fadli Zon, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, berkreatifitas dengan menyanyikan lagu “Potong Bebek Angsa” di Twitter. Berdasarkan pantauan, Fadli mengubah lirik lagu anak-anak tersebut menjadi narasi politik untuk Pilpres 2019.

Sebagaimana yang dilihat dalam Twitternya Rabu (19/9), Fadli menulis lirik tersebut dengan huruf kapital dan mengubahnya dengan deskripsi yang menyindir salah satu pasangan calon Pilpres 2019.

Baca juga: Sebut Erick Thohir Setengah Hati ke Jokowi, PSI: Fadli Zon Sok Tahu

Dengan nada bernyanyi, Fadli menulis bahwa orang tersebut telah gagal memimpin, namun tetap memaksakan diri untuk kembali berkuasa di periode yang kedua.

Lebih lanjut, pemimpin tersebut, demikian Fadli, takut posisinya digantikan oleh Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. Tentu, kita semua paham bahwa figur yang disasar Fadli dalam kritikannya itu ialah Presiden Joko Widodo.

Berikut lirik lagu “Potong Bebek Angsa” yang diubah oleh Fadli Zon: “Potong bebek angsa, Masak di kuali. Gagal urus bangsa, Maksa dua kali. Takut diganti, Prabowo-Sandi, Lalalalalala lalalalai”.

Fahri Hamzah: Lirik Lagu yang Dulu Lebih Bagus, Jangan Diubah-Ubah

Fahri Hamzah, mengatakan bahwa ia tidak setuju kalau lirik lagu tersebut diubah. “Ya saya tadi baca itu lagu, kayaknya nggak kayak yang dulu. Yang dulu udah bagus, jangan diubah-ubah, he-he-he…,” tutur Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/9).

Melansir detik.com, lirik lagu ‘Potong Bebek Angsa’ versi Fadli terasa lucu menurut Fahri. Ia menilai bahwa lagu tersebut memang hanya untuk kepentingan pemenangan dalam Pilpres 2019. Menurutnya, cara Fadli adalah cara yang wajar untuk memenangkan pemilu.

Baca juga: Fadli Zon Khawatir Soal Potensi Suara Siluman di Pemilu 2019

Sekalipun tidak setuju dengan pemunculan lirik baru tersebut, Fahri menganjurkan agar semua pihak menerima kreatifitas-kreatifitas baru yang akan muncul dalam proses pilpres kedepan. Menurutnya, dengan cara kreatif, kita bisa bersaing secara sehat dalam kompetisi demokrasi.

“Ya udahlah apa boleh buat. Kita anggap aja itu bagian dari kreativitas yang lucu yang kita ketawa dan nggak usah sedih sebab kedua belah pihak kan akan melakukan hal yang sama,” ucap Fahri.

Fadli Zon Sindir Jokowi, Ini Lagu Tandingan dari Kubu Jokowi-Ma’ruf

Lirik Lagu versi Fadli Zon mendapat respon dari juru bicara tim sukses Jokowi-Ma’ruf, Ace Hasan Syadzily. “Apa tidak ada kreativitas lain selain mengubah lagu orang lain yang dipakai untuk kampanye? Yang kreatif dong,” ujar Ace, Rabu (19/9).

Ace kemudian membuat lirik lagu tandingan. Ia menyebut bahwa kompetisi lirik lagu seperti itu adalah hal yang juga bisa dibuatnya dengan mudah, karena hanya mengganti lirik dan menjiplak nada.

Baca juga: Saat Fahri Hamzah Pesimis Akan Kemenangan Prabowo

Dengan nada kritis yang humoris, Ace juga menyindir Prabowo Subianto. Ini lirik lagu yang ditulis oleh Ace, “Potong bebek angsa, Angsa di kuali. Ada yang terus Nyapres, Sampai beberapa kali. Selalu gagal lagi, Akhirnya tetap Jokowi. Tralala la la la la.”

Ace tentu menyindir Prabowo yang sudah berulangkali maju Pilpres, namun belum pernah menang. Hal ini memang menjadi sindiran tersendiri bagi Prabowo, karena pilpres sudah diikutinya selama tiga kali.

Lagu Anak Jangan Diracuni Kebencian

Pendapat berbeda diungkapkan oleh Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan DPP PDIP Eva Kusuma Sundari pada Rabu (19/9). Menurutnya, lagu anak-anak tidak boleh dirusak. Ia menganjurkan agar pihak-pihak yang ingin berkreatifitas membuat lagu lain.

Ia menyesalkan tindakan politisi yang merusak lagu anak-anak yang memiliki pesan pendidikan. “Bikin sendiri atau lagu lain dong. Dunia anak-anak yang polos jangan diracuni kebencian,” kata Eva Kusuma Sundari, Rabu (19/9).

Baca juga: Tolak Pendapat Petinggi PKS, Fahri Hamzah: Sandiaga Itu Pedagang

Terkait hal ini, Eva memilih untuk tidak meresponnya secara berlebihan, apalagi menulis lirik lagu tandingan. Ia beralasan bahwa kubunya memilih untuk kerja  sesuai slogan Jokowi. Baginya, slogan tersebut sudah diwujudkan Jokowi melalui prestasi kerjanya.

Oleh karena itu, ia menolak cara kampanye yang lebih menekankan emosi. “Kan fakta kemajuan sudah ada semua, ada di BPS dan dunia. Tapi kalau yang dipilih fakta perasaan ya silakan. Kinerja kan nggak bisa diukur pakai perasaan yang subjektif,” kritik Eva.*