Kemenkominfo Dorong Para Pelaku UMKM NTT Lebih Adaptif dan Kreatif
Foto/Ist

Dawainusa.com – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mendorong para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di NTT agar lebih adaptif dan kreatif mengembangkan produk di era teknologi digital.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim Kemenkominfo Septriana Tangkary di Kupang, Sabtu (17/6/2021).

“Di tengah transformasi digital ini UMKM dituntut untuk lebih adaptif dan kreatif, mampu menghasilkan produk yang sesuai keinginan dan kebutuhan pasar,” katanya.

Baca juga: Menteri Agama Ajak Warga Tak Mudik saat Idul Adha

Perkembangan UMKM Secara Nasional

Septriana Tangkary mengemukakan hal itu dalam web seminar yang melibatkan para pelaku usaha dengan tema “Strategi Membangun Brand di Era Digital” sebagai tindak lanjut kegiatan Gernas BBI (Bangga Buatan Indonesia) di Provinsi NTT dengan mengusung tema “Kilau Digital Permata Flobamora”.

Ia mengatakan berdasarkan data per Juni 2021, jumlah UMKM secara nasional yang telah berpindah ke ruang digital sebanyak 6 juta unit UMKM.

Capaian ini merupakan kolaborasi yang kuat antar semua pihak sehingga melebihi target awal sebesar 2 juta UMKM yang melakukan pemasaran produk secara didital atau onboarding.

Ia mengatakan pemanfaatan teknologi atau transformasi digital menjadi sangat penting bagi pelaku UMKM sebagai syarat untuk terus berkembang maju, bangkit dan naik kelas.

Pelaku usaha, kata dia dituntut untuk bisa lebih adaptif dan kreatif, salah satunya membangun brand produk yang bagus agar bisa memikat minat pasar digital.

“Oleh karena itu kita berharap melalui pelatihan secara digital dapat memberikan bekal sehingga para UMKM dapat lebih maksimal dalam membangun brand yang dimiliki,” katanya.

Sementara itu Pendiri Piknik Hub dan Jagoan Indonesia Dias Satria mengatakan beberapa hal penting yang harus diperhatikan  dalam membuat brand, yaitu Be lean, Be agile, Be creative.

Ia menjelaskan Be lean yaitu mempercepat proses, fokus pada apa yang disukai pelanggan. Be agile artinya adaptif terhadap kondisi, “Contohnya di masa seperti ini jangan menjual produk yang tidak disukai saat pandemi”. Sedang Be creative artinya terus belajar mengembangkan produk.

“Satu-satunya cara untuk menang adalah belajar cepat pelanggan maunya apa, terus cari inspirasi yang mereka suka, terus evaluasi keinginan pelanggan, dekati pelanggan dan buat mereka jadi tempat penelitian dan pengembangan untuk produk kita,” katanya.*