Atasi Gizi Buruk, Kemenkes Kirim Dokter Spesialis ke NTT

Atasi Gizi Buruk, Kemenkes Kirim Dokter Spesialis ke NTT

Kemenkes mengirimkan delapan orang dokter spesialis melalui program Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS) angkatan VI tahun 2018 ke NTT. (Foto: Potret Penderita Gizi Buruk - Merdeka.com).

KUPANG, dawainusa.com Berdasarkan riset Kemenkes RI pada 2017, angka gizi buruk di NTT terus mengalami peningkatan. Melihat kondisi itu, Kemenkes mengirimkan delapan orang dokter spesialis melalui program Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS) angkatan VI tahun 2018.

“Sampai saat ini saya masih prihatin dengan kondisi stunting di NTT Karena sesuai hasil penelitian kami pada Juli 2017 lalu, angka stunting (masalah kurang Gizi kronis) di NTT masih tinggi. Sesuai hasil riset dari Kemenkes RI, stunting di NTT mencapai 52,7 persen,” kata Vinsensius, Oktober lalu.

Baca juga: Selain Asmat, Angka Gizi Buruk di NTT Juga Memprihatinkan

Menurut Vinsen, stunting yang terus naik itu disebabkan oleh asupan gizi yang kurang diperhatikan saat janin berada dalam kandungan. Kondisi itu selanjutnya menyebabkan pertumbuhan anak terganggu.

“Kenapa kita di NTT, angka kurang gizi kronis ini tinggi? Penyebabnya, yakni pada 1000, sejak dalam kandungan, asupan gizi janin kurang diperhatikan. Kondisi ini sangat berpengaruh pada kondisi anak ke depannya,” ujarnya.

Ia menjelaskan, terhadap kondisi ini, langkah yang harus diambil pemerintah adalah memperhatikan dan meningkatkan alokasi anggaran bagi instansi teknis terkait dalam bidang pertanian dan pangan, sehingga apabila ketersediaan pangan di tingkat masyarakat stabil, maka otomatis asupan Gizi juga terjamin.

“Kalu hasil penelitian kami pada Juli 2017 itu, kita ambil sampel di tiga daerah, yakni Kota Kupang, Manggarai dan Flores Timur. Ternyata dalam rumah tangga dalam setahun ada masa kelaparan, yakni Oktober-Maret. Kondisi ini memberi pengaruh pada janin ketika saat itu ada ibu yang hamil,” pungkasnya.

Kemenkes Kirim Delapan Dokter Spesialis Ke NTT

Untuk menuntaskan masalah kesehatan di NTT, termasuk gizi Buruk, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) mengirim delapan orang dokter spesialis melalui program Wajib Kerja Dokter Spesialis (WKDS) angkatan VI tahun 2018.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI Oscar Primadi di Jakarta, Kamis (8/2).

Sebanyak 8 dokter spesialis peserta WKDS itu akan ditempatkan pada rumah sakit di wilayah Kota Kupang, Kabupaten Malaka, TTU, Manggarai Barat dan Sumba Barat.

Baca juga: Atasi Gizi Buruk di NTT, Kemenkes Kirim Bantuan Makanan

Hadirnya WKDS ini, lanjut Primadi, merupakan wujud perhatian negara dalam memenuhi dan memeratakan pelayanan kesehatan terutama pelayanan medik spesialistik di seluruh Indonesia.

”Penempatan peserta WKDS diprioritaskan di rumah sakit daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan, rumah sakit rujukan regional, rumah sakit rujukan provinsi yang ada di seluruh Indonesia. Apabila sudah terpenuhi maka dapat ditempatkan di rumah sakit pemerintah pusat dan pemerintah daerah lainnya sesuai perencanaan kebutuhan,” ungkap dia.

Pihaknya berharap pemerintah daerah di NTT dapat mendukung pelaksanaan WKDS sehingga berjalan optimal. “Sinergi pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat penting untuk mendukung keberhasilan program WKDS,” tutur Primadi.

“Sinergi pemerintah pusat dan pemerintah daerah sangat penting untuk mendukung keberhasilan program WKDS. Harus ada komitmen dari daerah dalam melengkapi sarana prasarana dan infrastruktur rumah sakit,” lanjutnya.

Cegah Gizi Buruk Melalui PMT

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang Ari Wijana mengatakan, untuk mencegah maslah gizi buruk di NTT, secara khusus Kota Kupang, perlu adanya Pemberian Makanan tambahan (PMT) di setiap posyandu.

Selain pemberian makanan, tambahnya, pihak terkait dalam hal ini dinas kesehatan dan elemen lainnya juga harus rutin melakukan penyuluhan saat posyandu berlangsung.

Baca juga: Tanggapi Gizi Buruk, Ini Yang Dilakukan Dinas Kesehatan Kota Kupang

Secara terpisah, anggota Komisi IV DPRD Kota Kupang Theodora Ewalde Taek mengatakan, sejauh ini posyandu intensif melakukan pencegahan dengan pemberian makanan tambahan. Hal ini dilakukan lantaran selama ini banyak makanan instan yang beredar dan tidak terjamin gizinya.

Ia juga meminta agar dinas kesehatan mengawasi kantin-kantin sekolah yang selama ini menjajakan makanan untuk anak-anak.

Selain itu ia mengatakan, partisipasi masyarakat juga sangat penting untuk mencegah masalah gizi buruk di NTT secara khusus Kota Kupang. Pencegahan, lanjutnya, tidak saja berharap dari Dinas Kesehatan karena anggaran pemerintah sangat terbatas.*