Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan, Bukti Hilangnya Martabat Manusia

Kekerasan Seksual Terhadap Perempuan, Bukti Hilangnya Martabat Manusia

OMONG DENG, dawainusa.com Sejak tanggal 25 November hingga 10 Desember 2018 Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menyelenggarakan K16HAKTP (Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan).

“Kekerasan Seksual adalah Kedzaliman terhadap Martabat Kemanusiaan” merupakan tema besar yang diangkat oleh Kampanye ini sepanjang 2015-2019. Pada tahun 2017 tema itu dikerucutkan menjadi “Perlindungan Korban Melalui Pengesahan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual”.

Kampanye yang turut disuarakan oleh organisasi masyarakat sipil ini merupakan suatu bentuk dukungan untuk mendorong upaya penghapusan kekerasan seksual terhadap perempuan di Indonesia.

Baca juga: Kubu Prabowo Dituding jadi Penghadang Penuntasan Kasus HAM

Sebagai seorang perempuan, saya mengapresiasi penuh gerakan K16HAKTP ini. Alasannya sederhana. Saya menolak dan menentang keras jika perempuan dijadikan objek kekerasan seksual serta dipandang sebagai kaum yang tidak berdaya.

Misalkan, ada anggapan yang berkembang di masyarakat tentang perempuan yang tidak menutup auratnya sebagai salah satu penyebab terjadinya kekerasan seksual. Ini menjadi salah satu contoh, kendati perempuan menjadi korban kekerasan seksual, ia tetap menjadi pihak yang dipersalahkan.

Alih-alih mendapat dukungan, perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual justru kerap mendapat cibiran. Misalnya, “Pantas aja. Pakaiannya kan terbuka mulu”; “Sering keluar malem sih”; “Makanya jadi perempuan jangan kegatelan”.

Saya lantas teringat pada sepenggal kalimat yang berbunyi: “Jika perempuan harus menutup aurat agar tidak diperkosa, maka laki-laki harus menutup apa agar tidak memperkosa?” Kalimat itulah yang menurut saya bisa menjadi dasar untuk menjawab persoalan kekerasan seksual terhadap perempuan.

Dalam konteks sosial, kekerasan seksual merupakan bukti bahwa pelaku kehilangan martabatnya sekaligus menunjukan kelemahannya sebagai manusia. Tentu akan muncul pertanyaan, “Mengapa demikian?”, “Apa yang dimaksud manusia yang bermartabat?”

Apa Itu Martabat Manusia?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), martabat adalah “tingkat harkat kemanusiaan, harga diri”.  Sedangkan, manusia merupakan “makhluk yang berakal budi; insan; orang”. Oleh karena itu martabat manusia dapat diartikan sebagai “makhluk berakal budi yang mempunyai harga diri”.

Harga diri sering diartikan sebagai penghargaan atau penghormatan terhadap diri sendiri. Sebagai makhluk sosial, martabat manusia terkait erat dengan cara seseorang menghargai dan menghormati dirinya sendiri, maupun orang lain.

Baca juga: Penuntasan Kasus HAM Masa Lalu dan Retorika Kampanye Jokowi

Manusia yang bermartabat akan menghargai dan menghormati manusia lain dalam segala aspek kehidupan. Dalam hal ini, perilaku dan perbuatan seseorang adalah penanda sekaligus patokan untuk membuktikan bahwa ia memiliki martabat atau tidak.

Fenomena tindak kekerasan seksual jelas-jelas menunjukan tidak adanya sikap hormat dan penghargaan terhadap martabat manusia dari sang pelaku terhadap korban.

Karenanya dapat disimpulkan, kekerasan seksual terhadap perempuan merupakan bukti bahwa pelaku sebagai manusia kehilangan martabatnya. Pelaku juga kehilangan harga diri dan rasa hormat terhadap dirinya sendiri serta orang lain.*

COMMENTS