RUTENG, Dawainusa.com – Kasus bunuh diri di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT) terus meningkat setiap tahunnya. Kasus ini menyasar berbagai kelompok usia baik dewasa maupun remaja.

Berdasarkan catatan Yayasan Mariamoe Peduli (YMP), pada tahun 2019, terdapat 16 kasus yang terjadi. Jumlah ini meningkat drastis jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yakni pada 2017 lalu yang hanya terdapat 11 kasus.

CEO YMP Jefrin Haryanto mengatakan, tingginya angka bunuh diri ini mesti segera disikapi oleh berbagai pihak, secara khusus dari pihak pemerintah sendiri.

“Tren-nya selalu naik kalau tidak ada upaya serius dari para pihak untuk memutus mata rantai ini. Kita kan belum melihat ada upaya konkrit dari pemerintah termasuk semua pihak,” kata Jefrin Haryanto di Ruteng, Manggarai, NTT, Sabtu (21/12/19).

Para Jurnalis di Kabupaten Manggarai bersama pihak Yayasan Mariamoe Peduli
Para Jurnalis di Kabupaten Manggarai bersama pihak Yayasan Mariamoe Peduli – Foto: ist

Baca juga: Benahi Infrastruktur, Manggarai Barat Dapat Dana Rp141 M dari Pemprov NTT

Jika Tidak Ditangani, Kasus Bunuh Diri di Manggarai Diprediksi Akan Terus Naik

Menurut Jefrin Haryanto, upaya pencegahan terhadap kasus bunuh diri ini menjadi sangat penting untuk segera dilakukan. Sebab jika tidak demikian, pada tahun berikutnya, kasus seperti ini diprediksi akan mengalami peningkatan.

“Kalau kita bicara prediksi, tren-nya ini kan naik, maka tahun 2020 bisa akan lebih tinggi kalau tidak ada pencegahan, ” ujar Jefrin Haryanto.

Lebih lanjut, Jefrin Haryanto mengatakan, dengan merujuk pada tingginya angka kasus bunuh diri di Manggarai ini, sudah seharusnya semua pihak duduk bersama untuk mencari akar persoalannya.

Semua pihak mesti segera mencari tahu bagaimana cara untuk mengatasi persoalan ini. Dengan demikian, kasus bunuh diri ini tidak akan terjadi lagi.

“Semua pihak harus duduk bersama dan harus ada yang menginisiasi dan itu biasanya tugas pemerintah,” kata dia.

Adapun sejauh ini, demikian Jefrin Haryanto mengungkapkan, pihak YMP sendiri telah melakukan berbagai upaya sebagai bagian dari langkah pencegahan atas kasus bunuh diri yang terus terjadi ini.

Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh pihak YMP ialah dengan membangun mitra bersama para jurnalis di Kabupaten Manggarai.

Sejauh ini, kedua belah pihak telah menyepakati beberapa hal seperti di antaranya ialah soal penghentian cara penulisan berita kasus bunuh diri yang menjelaskan secara detail proses seseorang melakukan tindakan bunuh diri.

“Kita harus sepakati beberapa rambu-rambu dan etika pemberitaan supaya pemberitaan tidak menjadi pembelajaran bagi orang jangan sampai publik melihat berita sebagai tutorial bunuh diri,” tutur dia.

Selain itu, dalam kaitannya dengan kasus bunuh diri, Jefrin Haryanto juga mengaku bahwa selama ini, para pengguna media sosial di Manggarai masih cukup banyak yang menyalahi kode etik bermedia sosial.

CEO Yayasan Mariamoe Peduli (YMP) Jefrin Haryanto
CEO Yayasan Mariamoe Peduli (YMP) Jefrin Haryanto – Foto: ist

Baca juga: Beras ‘Molas Lembor’ Premium Resmi Diluncurkan di NTT

Ketika ada kasus bunuh diri misalnya, ada begitu banyak pengguna media sosial yang memosting foto orang yang bunuh diri secara vulgar di media sosial.

Karena itu, terkait dengan hal ini, Jefrin Haryanto berpendapat bahwa masyarakat Manggarai juga harus mendapatkan pencerahan khusus terkait literasi digital.*

*Reporter: Elvis Yunani