Keseringan Mencuri, Gadis Ini Ditolak Keluarga

Keseringan Mencuri, Gadis Ini Ditolak Keluarga

Gadis 15 tahun yang kedapatan mencuri handphone di kelurahan Lewoleba Selatan ditolak keluarga karena keseringan mencuri. (Foto Ilustrasi: Ditolak Keluarga -tribunnews.com)

LEWOLEBA, dawainusa.com Mei Watun, seorang gadis yang sedang beranjak remaja ditolak oleh keluarganya sendiri sebagai salah anggota keluarga karena ulahnya yang sering mencuri. Hal ini diakui oleh Lia Wuwur, warga Kelurahan Lewoleba Selatan, kabupaten Lembata yang handphonenya dicuri Mei, pada Minggu (20/11).

“Atas informasi itu, saya mencari Mei dengan mendatangi rumah keluarganya di Tujuh Maret, Kelurahan Lewoleba Selatan. Saat itu keluarganya mengatakan mereka tak mengenal Mei. Kemungkinan karena perbuatannya dia sudah mencuri,” tutur Lia, dilansir tribunnews.com, Senin (20/11).

Baca juga: Momentum Transformasi Dunia Tenun Lamaholot yang Patut Diapresiasi

Sebelumnya, Mei Watun dihajar warga hingga babak belur karena mencuri handphone milik Lia Wuwur, pada Minggu pagi (19/11). Mei Watun yang sekarang berusia lima belas tahun pura-pura sebagai tamu di rumah Lia dan kemudian meransek masuk rumah dan mengambil handphone milik Lia yang sedang dicharge.

Mei diketahui sebagai pencuri setelah seorang bocah lima tahun memberitahukan kepada Lia Wuwur terkait pelaku yang mengambil handphonenya yang hilang. Setelah mendengar keterangan bocah itulah, Lia mendatangi rumah Mei untuk menanyakan kepastian keterangan bocah tersebut. Namun, sang pelaku ternyata tidak diakui oleh keluargannya dan saat itu pelaku tidak lari ke rumahnya itu.

Mei Watun: Saya Tidak Sendirian!

Gadis lima belas tahun tidak kuat menahan amukan kemarahan sejumlah warga yang memukulnya dengan batu, kayu, dan kepalaan tangan. Wajah dara manis itu memar menggumpal sebesar bak pao. Bahkan warga sempat berniat mengaraknya telanjang keliling kota Lewoleba.

Dalam kekalutan karena amukan warga, gadis yang akrab disapa Mei mengakui bahwa ia melakukan “perintah larangan mencuri” itu tidak sendirian. Ada teman-temannya yang lain yang sekomplotan dengannya.

“Saya tidak sendirian. Saya biasa (maksudnya mencuri) bersama Desi, Antika dan Nona Ambon,” tutur Mei dengan nada pelan terbata-bata ketika diinterogasi warga di lokasi kejadian dimana ia diringkus.

Tidak ada informasi terkait seberapa sering Mei mencuri dan apa alasan dirinya dan teman-temannya melakukan perbuatan tersebut . Tetapi keterangan beberapa warga yang ikut menghajar Mei bahwa mereka sering mengalami kehilangan barang serupa sebagaimana dialami Lia Wuwur.

Baca juga: Kedapatan Mencuri, Gadis 15 Tahun Ini Dihajar Warga

Tabiat Buruk Warga yang Main Hakim Sendiri

Warga yang mengejar Mei dan mendatapinya di kompleks SMAN I Lewoleba tanpa ampun menghajar gadis tersebut. Luapan kemarahan ditumpahkan tanpa terkendali. Mei memang melakukan kejahatan tapi siapakah warga itu yang menghajarnya sampai babak belur?

Seorang warga dalam kemarahannya menuturkan demikian,“lebih baik pelaku ditelanjangi dan diarak keliling kota. Mungkin cara ini tidak baik, tapi lebih baik kita lakukan supaya memberi efek jera kepada pelaku. Pelaku mungkin menggunakan obat, karena walau dipukul berkali-kali tapi yang bersangkutan terlihat biasa-biasa saja.”

Gadis itu baru bisa diamankan dan dibawa ke Polres Lembata setetelah sejumlah polisi dari Polres Lembata datang ke Tempat kejadian Perkara (TKP). Namun, kehadiran pihak berwajib tersebut, setelah sekujur tubuh gadis tersebut penuh dengan bekas kayu, tangan, dan sandal yang dilakukan warga.

Persoalan warga yang gemar main hakim sendiri memang jamak terjadi di tanah air. Beberapa waktu lalu, media ini (dawainusa.com) melansir sejumlah warga Cikupa, Tangerang, Banten menganiaya sepasang kekasih dengan tuduhan berbuat mesum. Sepasang kekasih itu dianiaya, diarak telanjang dan warga membuat video telanjang sepasang kekasih dan mengunggahnya ke internet.

Pihak berwajib mestinya menindak tegas warga yang main hakim sendiri. Kita menanti tindakan pihak Polres Lembata terhadap warga yang main hakim sendiri yang menghrjar Mei Watun hingga babak belur.* (RSF)