Karena Ini, Viktor Laiskodat Naik Pitam dan Bentak Anggota DPRD

Karena Ini, Viktor Laiskodat Naik Pitam dan Bentak Anggota DPRD

KUPANG, dawainusa.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (DPRD NTT) Noviyanto Umbu Pati Lande menjelaskan terkait sebab dirinya dibentak oleh Gubernur NTT Viktor Laiskodat dalam sidang paripurna di Kupang, Senin (17/9).

Noviyanto mengatakan, ia dibentak oleh Gubernur Laiskodat lantaran dalam sidang dengan agenda Pengantar Nota Keuangan atas Rancangan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) itu, ia melakukan interupsi dan mengajukan sejumlah poin terkait agenda sidang.

Salah satu poin yang diajukan Noviyanto dan kemudian membuat Gubernur Laiskodat naik pitam dan langsung membentak dirinya dalam sidang itu ialah soal kecurigaannya bahwa ada pihak lain di luar sistem melakukan pembicaraan serius dan melakukan lobi dengan Sekda Provinsi NTT.

Baca juga: Bentak Anggota DPRD, Viktor Laiskodat Dinilai Rendahkan Martabat DPR

“Semoga ini tidak menjadi titik awal ada pihak lain yang di luar sistem mengintervensi proses di lembaga ini,” demikian ungkapan Noviyanto di dalam sidang tersebut sebagaimana diterangkan langsung oleh dirinya kepada Dawai Nusa, Senin (17/9).

Poin ini, demikian Noviyanto, langsung ditanggapi dengan bentakan oleh Gubernur Laiskodat lewat ungkapannya yang berbunyi demikian, “Kau diam jangan kritik pemerintah dan gubernur.”

Untungnya, lanjut Noviyanto, aksi bentak Gubernur Laiskodat ini berhasil diredam oleh pimpinan sidang, yakni Ketua DPRD NT Anwar Pua Geno dan Wakil Gubernur Joseph Nae Soi. Setelah itu, Noviyanto dipersilahkan untuk melanjutkan kembali pembicaraannya.

Adapun sejumlah poin lain yang disampaikan oleh Noviyanto dalam rapat tersebut ialah, pertama, dirinya mempertanyakan mengapa anggota yang tanda tangan dafar hadir sudah korum tetapi paripurna belum dimulai. Karena itu ia memohon penjelasan dari pimpinan sidang.

Kedua, Noviyanto mempertanyakan dan memohon penjelasan pimpinan sidang, kenapa dokumen paripurna yang sudah ada di meja dewan ditarik kembali dengan alasan tidak lengkap.

Keempat, Noviyanto mengapresiasi atas kehadiran ASN yang begitu banyak dalam paripurna. “Gubernur dan Wakil Gubernur NTT telah mengembalikan marwah dan kehormatan lembaga rakyat NTT ini, dimana pada forum-forum sebelumnya tingkat kehadiran ASN rendah.

“Empat poin ini normatif saya sampaikan dengan cara intonasi kalimat yang sopan dan tidak ada keinginan menyerang Gubernur NTT,” ujar Noviyanto.

Laiskodat Rendahkan Martabat Lembaga DPR

Terkait aksi bentak yang dilakukan oleh Gubernur Laiskodat itu atas dirinya, setelah rapat paripurna berlangsung, Noviyanto sendiri telah memberikan tanggapan. Bagi dia, aksi yang dilakukan oleh Gubernur Laiskodat atas dirinya itu telah merendahkan martabat lembaga DPRD dan juga terhadap seluruh masyarakat NTT.

“Saya kan duduk di sini atas amanat rakyat. Jika saya diperlakukan seperti ini, maka saya sudah dilecehkan dan itu artinya rakyat juga dilecehkan,” ucap Anggota DPRD daerah pemilihan Sumba tersebut.

Tidak hanya Noviyanto sendiri yang menyayangkan aksi Gubernur Laiskodat itu. Anggota DPRD NTT lainnya dari daerah pemilihan Manggarai bernama Yohanes Rumat juga menyesalkan tindakan Laiskodat tersebut.

Baca juga: Cerita Noviyanto yang Dibentak Laiskodat Gara-gara Interupsi

Sebagai mitra, demikian Rumat, aksi bentak yang ditunjukkan oleh Lasikodat itu justru hanya akan menciptakan preseden buruk bagi hubungan kemitraan antara eksekutif dan legislatif. Ia memang paham bahwa sebagai bagian dari eksekutif, Gubernur Laiskodat memiliki hak untuk menolak atau menyatakan tidak setuju dengan apa yang disampaikan oleh pihak legistatif.

Akan tetapi, hal itu tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Melainkan mesti melalui suatu prosedur atau aturan tertentu yang jelas dan benar. “Jika yang dilakukan demikian maka apa yang bisa diharapkan dalam hubungan antarlembaga ini,” kata Rumat.

Pada hakikatnya, lanjut Rumat, antara eksekutif dan legislatif memiliki hubungan yang seimbang dan sejajar. Untuk itu, sikap saling menghargai mesti harus dipertimbangkan dalam segala sesuatu.

“Kalau dengan anggota dewan saja seolah ada yang lebih tinggi dan lebih rendah lalu masyarakat kita tempatkan di sisi mana,” tutur Rumat.

Sementara itu, Ketua DPRD NTT Anwar Pua Geno sendiri juga mengaku terkejut dengan aksi Gubernur Laiskodat itu. “Saya lalu spontan memegang tangan kiri gubernur untuk menenangkan beliau,” ungkap Anwar.*