Kapitra Ampera: Gerindra Beri Peluang Ahok Menista Agama

Kapitra Ampera: Gerindra Beri Peluang Ahok Menista Agama

JAKARTA, dawainusa.com Kader PDIP Kapitra Ampera mengatakan, partai Gerindra yang memberi peluang kepada mantan gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menista agama.

Menurut Kapitra, Gerindra dan Prabowo-lah yang memaksa PDIP ikut mengusung Ahok pada Pilgub DKI 2012 untuk berpasangan dengan Jokowi.

“Yang mencalonkan Ahok sebagai wagub itu adalah Gerindra, malam terakhir pendaftaran, Jokowi masih ingin Deddy Mizwar (sebagai cawagub). Tapi Pak Prabowo maksa sampai minta ke Bu Mega pinjam Jokowi untuk dipasangkan dengan Ahok,” kata eks pengacara Habib Rizieq itu di Jakarta, Jumat (16/11).

“Karena, ketika gubernur berhalangan tetap saat maju pilpres, yang akan jadi gubernur Ahok. Jadi yang beri peluang Ahok menista agama adalah Gerindra. Apa urusannya dengan Bu Mega? Kan tadinya PDIP dukung Foke (Fauzi Bowo). Tapi karena persahabatan dengan Prabowo, akhirnya mau (pilih Ahok). Apa salah Bu Mega?” sambung Kapitra.

Baca juga: Ansy Lema Sampaikan Pesan di Balik Film ‘A Man Called Ahok’

Kapitra mengungkapkan hal itu sebagai pembelaan terhadap Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri yang diserang oleh Persaudaraan Alumni (PA) 212. Megawati diserang oleh kelompok besar yang menuntut Ahok dipenjara itu karena pernyataan Mega yang mengaku kasihan terhadap Prabowo yang dikelilingi orang-orang yang menjadi sumber masalah.

“Kami lebih kasihan sama Jokowi (yang dikelilingi) dengan orang orang sekitarnya, termasuk Bu Mega,” ujar Ketua Umum PA 212 Slamet Ma’arif.

Diketahui, PA 212 merupakan salah kelompok besar yang mendukung Prabowo-Sandi. Mereka juga telah menyatakan dukungan resminya untuk memeangankan pasangan ini di Pemilihan Presiden (Pilpres) mendatang.

PA 212 Seharusnya Mendukung Jokowi-Ma’ruf

Kapitra juga mengingatkan PA 212 soal aksi bela Islam pada 2 Desember 2016 atau yang dikenal dengan Aksi 212. Ia menyebut, dalam aksi itu, cawapres pendamping Jokowi, KH Ma’ruf Amin, memiliki peran penting.

“Kiai Ma’ruf orang yang punya peran penting. Tanpa Ma’ruf Amin, tak akan ada 212. Karena Ma’ruf Amin yang mengambil keputusan, bukan komisi fatwa, tapi langsung MUI,” ujar Kapitra.

Maksud Kapitra adalah soal kasus penistaan agama yang menjerat petahana Gubernur DKI kala itu, Basuki T Purnama (Ahok). Aksi 212 dilakukan terkait kasus tersebut.

“Maka lahirlah GNPF MUI. Rekomendasi Kiai Ma’ruf yang jadi pertimbangan majelis hakim, dan Ma’ruf Amin adalah saksi mahkota di pengadilan (dalam kasus Ahok),” sebut Kapitra.

Baca juga: Air Mata Basuri Tjahaja Purnama Saat Nonton Film A Man Called Ahok

Karena itu, Kapitra menyebut seharusnya PA 212 mendukung Jokowi karena menjadikan Ma’ruf Amin sebagai cawapres. Sebab, menurut Kapitra, Ma’ruf Amin-lah yang berjasa hingga akhirnya Aksi 212 lahir.

“Lalu Jokowi hadir dalam aksi bela Islam. Di Aksi 212, Pak Jokowi salat berjemaah bersama rakyat, hadir, dan ikut bersama-sama dengan menteri-menterinya dan dia bagian dari aksi sendiri. Tak pernah di dunia ini aksi jutaan orang, presiden hadir,” ucapnya.

Menurut Kapitra, tak selayaknya PA 212 mendukung Prabowo-Sandiaga. Sebab, bila perjuangan PA 212 berawal dari Aksi 212, ia mengingatkan pasangan nomor urut 02 itu tak hadir dalam aksi tersebut.

“Harusnya PA 212 tak dukung Prabowo-Sandi. Karena Prabowo-Sandi tidak hadir. Pak Jokowi yang hadir. Kok air susu dibalas dengan air comberan,” tutur Kapitra.

Kapitra Ampera Cari Sensai

Terpisah, partai Gerindra menanggapi pernytaaan Kapitra Ampera yang menyebut Gerindra memberi peluang kepada Ahok untuk menista agama Islam. Gerindra mengatakan Kapitra hanya mencari sensasi.

“Kapitra ini kan cuma cari sensasi. Udah nggak zaman lah, nggak laku. Kalau mau jadi calon anggota dewan, sudah kampanye di dapil masing-masing, buktikan bisa menang di dapil,” ujar Ketua DPP Gerindra Ahmad Riza Patria.

Baca juga: ‘A Man Called Ahok’ dan Alasan di Balik Kekecewan Fifi Lety

Gerindra lantas mengungkit parpolnya yang mensponsori Ahok supaya bisa menjadi cawagub Joko Widodo (Jokowi) kala itu. Pada perjalanannya, Ahok menjadi gubernur saat Jokowi terpilih sebagai presiden. Ahok pun saat mencalonkan kembali di Pilgub DKI, terseret kasus penistaan agama hingga dibui 2 tahun.

“Kalau dalam perjalanan dia nggak benar, masak Gerindra disalahkan? Masak Pak Prabowo dan Pak Hashim disalahkan? Kita saja orang tua kalau punya anak, kita didik, kita sekolahkan, kita biayai, begitu dia besar berantem, nggak sengaja membunuh orang. Apa orang tuanya mau disalahkan?” papar Riza.*

COMMENTS