Kapal Anugerah Abadi Tabrak Karang di Perairan Labuan Bajo

Kapal Anugerah Abadi Tabrak Karang di Perairan Labuan Bajo

Kapal yang hendak sandar di dermaga Pelni Labuan Bajo tersebut karam di Tanjung Sture, di samping Pulau Bidadari, Labuan Bajo, NTT. (Ilustrasi)

LABUAN BAJO, dawainusa.com Naas menimpa kapal Anugerah Abadi di perairan Labuan Bajo, pada Rabu subuh (20/12), pukul 04.30 Wita. Kapal yang hendak sandar di dermaga Pelni Labuan Bajo tersebut karam di Tanjung Sture, di samping Pulau Bidadari, Labuan Bajo, NTT.

Kepala Pos SAR Cabang Labuan Bajo Edy Suyono, di Pelabuhan Pelni, Labuan Bajo, Rabu pagi membenarkan adanya peristiwa karamnya kapal yang melayani tranportasi Solor Kupang, Reo, Bima, Labuan Bajo, Marpokot, dan Maumere (PP) tersebut.

“Ia, kapal Anugerah Abadi karam di Tanjung Sture pada Pukul 04.30, tadi pagi,” tandas Edy Suyono, sebagaimana dilansir tribunnews.com, Rabu (20/12).

Baca juga: Vonis untuk Mariana, Gadis Asal Sumba yang Aniaya Anak Kandungnya

Hal yang sama diungkap salah seorang penumpang kapal tersebut yakni Arifin Judin. “Ia tadi kapal yang kami tumpangi mengalami kecelakaan di Tanjung sture dan syukur alhadulillah kami semua selamat,” ungkap Arifin.

Semua Penumpang Selamat

Ada empat puluh Sembilan (49) orang penumpang yang diangkut dalam kapal yang datang dari Bima tersebut. Sepuluh orang dari antara penumpan tersebut bertujuan menuju Reo sementara sisanya akan turun di pelabuhan Maumere.

“Jumlah penumpang sesuai dengan data yang membeli tiket di kapal sebanyak 49 orang. Rinciannya, yakni laki-laki 29 orang dan perempuan 20 orang. Sedangkan data penumpang yang membeli tiket di Pelabuhan Syabandar Bima sebanyak 13 orang. Terdiri dari laki-laki 8 orang dan perempuan 5 orang. 10 orang turun di Reo dan yang lainnya turun di Maumere” kata Edy Suyono.

Baca juga: Terharu, Ini Curahan Hati Novanto Setelah Airlangga Jadi Ketum Golkar

Ke-49 penumpang tersebut, menurut keterang Suyono, semuanya selamat dan berhasil dievakuasi ke Labuan Bajo, ibukota Kabupaten Manggarai Barat.

Tim SAR cabang Labuan Bajo berperan besar dalam mengevakuasi para penumpang tersebut. Selain itu, para nelayan sekitar tempat kejadian ikut bergotong royong membantu mengevakuasi para penumpang.

Kesaksian Arifin Judin mengatakan, ketika terdengar bunyi gesekan di body kapal, semua penumpang panik dan masing-masing mau menyelamatkan diri.

“Penumpang panik karena tiba-tiba terdengar bunyi gesekan besar di bodi kapal. Awak kapal perintahkan kami untuk turun dari kapal. Tidak ada korban jiwa. Tetapi ada penumpang yang luka saat berusaha menyelamatkan diri. Diantara penumpang, ada dua orang bayi selamat,” tutur Arifin.

Perairan Labuan Bajo Berbahaya

Di wilayah perairan Labuan Bajo bukan baru pertama kali terjadi kejadian seperti ini. Beberapa kesempatan sebelumnya terjadi peristiwa serupa hingga menelan korban jiwa.

Pada bulan Juli lalu tepatnya tanggal 23/07/2017, sebuah kapal pengangkut empat wisatawan asing tenggelam di sekitar Taka Makasar (dekat Pulau Mawan) Kawasan Balai Taman Nasional Komodo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Mangarai Barat. Saat itu, beruntung tida ada korban jiwa.

Baca juga: Airlangga: Sejak Hari Ini, Kita Tidak Punya Kelompok-kelompok Lagi

Pada Sabtu (29/7) terjadi peristiwa serupa. Kapal Versace Jaya saat hendak pulang kembali dari Taman Nasional Komodo ke Labuan Bajo, yang ditumpangi para mahasiswa Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), tersapu ombak yang cukup besar di perairan Pulau Padar sehingga mengakibatkan terbaliknya kapal tersebut.

Selain itu, pada 18 Oktober 2017, kapal Rajawali itu berasal dari Sape, NTB tenggelam di perairan Loh Belanda Labuan Bajo, tepatnya di Torong Langkoe. Dalam peristiwa ini, dikabarkan hilang.

Sejumlah peristiwa ini mengindikasikan wilayah perairan Labuan Bajo berbahaya. Para nahkoda kapal perlu ekstra hati-hati saat berlayar di kawasan perairan tersebut. Penting untuk meng-update informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) setempat sehingga bisa memperkirakan cuaca yang akan terjadi.* (RSF).