Jusuf Kalla, Fenomena Mahathir dan Dorongan Menjadi Capres

Jusuf Kalla, Fenomena Mahathir dan Dorongan Menjadi Capres

Apakah fenomena Mahathir juga akan terjadi di Indonesia, seperti sosok Jusuf Kalla yang digadang-gadang sebagai calon presiden, misalnya? (Foto: Jusuf Kalla - ist)

FOKUS, dawainusa.com “Saya sudah 35 tahun menggeluti bisnis, dan sudah 20 tahun di pemerintahan. Buat saya 55 tahun, sudah cukup, dan saatnya istirahat bersama keluarga,” ungkap Jusuf Kalla ketika menjadi pembicara dalam forum Jakarta Foreign Ccorrespondents Club (JFCC), Kamis (28/06).

Peta konstelasi Pilpres beberapa hari terakhir memunculkan sejumlah nama yang akan berlaga dalam perhelatan demokrasi lima tahunan itu. Salah satunya adalah Jusuff Kalla (JK). Meskipun beberapa survei menujukkan bahwa elektabilitas Kalla sebagai capres tidak mampu didongkrak, putra Sulawesi Selatan itu masih gencar digadang.

Sebelumnya, sejumlah pihak mendukung Jusuf Kalla untuk kembali mencalonkan diri menjadi wakil presiden pada Pilpres 2019. JK menilai, hal itu tidak bisa dilakukan karena tidak sesuai dengan konstitusi yang berlaku. Sebab, UUD 1945 telah mengatur bahwa presiden dan wapres dibatasi dua kali masa jabatan.

Baca juga: Kemenangan Recep Erdogan dan Masa Depan Turki

Hal tersebut kembali ditegaskan Pakar hukum tata negara Mahfud MD. Menurutnya, Jusuf Kalla sudah tidak boleh mencalonkan diri sebagai wakil presiden, tapi boleh sebagai calon presiden.

Peneliti Senior Pusat Penelitian Politik LIPI, R Siti Zuhro juga mendukung Jusuf Kalla ‘naik kelas’ untuk maju sebagai caon presiden dalam Pilpres mendatang. Sebab, politikus senior Golkar itu sudah dua kali menjadi Wakil Presiden. Kini, menurut Siti, sudah saatnya Kalla menjadi capres. Apalagi JK merupakan orang yang multi-talenta dan punya gagasan konkrit.

“Menurut saya karena beliau sudah dua kali menjadi cawapres, kalau capres mungkin enggak apa-apa. Yang kedua, sebetulnya hanya sebagai cawapres Pak JK karirnya tidak menanjak,” ujar Siti pada Februari lalu.

Namun rupanya, Jussuf Kalla lebih memilih untuk istirahat dari panggung politik tanah air. Bagi Kalla, keterlibatan dirinya dalam dunia politik dan pemerintah sudah sangat cukup. Ia akan menghabiskan waktu bersama keluarga setelah selama 35 tahun menggeluti bisnis.

“Saya sudah 35 tahun menggeluti bisnis, dan sudah 20 tahun di pemerintahan. Buat saya 55 tahun, sudah cukup, dan saatnya istirahat bersama keluarga,” kata Jusuf Kalla.

Fenomena Mahathir Mohamad

Dr. Mahathir Mohamad berhasil mencetak sejarah sebagai perdana menteri tertua di dunia. Pada Mei lalu, ia terpilih sebagai perdana menteri Malaysia untuk kedua kalinya pada usia 92 tahun.

Kemenangan Mahathir mengakhiri dominasi Barisan Nasional, yang telah memerintah Malaysia selama lebih dari 60 tahun. Mahathir pertama kali menjadi perdana menteri Malaysia pada tahun 1981 pada usia 56 tahun. Saat itu dia adalah perdana menteri keempat negara Malaysia.

Baca juga: London Breed, Perempuan Kulit Hitam yang Jadi Walikota San Francisco

Mahathir mengundurkan diri dari jabatan perdana menterinya pada 2003 setelah berkuasa selama 22 tahun. Ajaibnya, lima belas tahun kemudian, ia telah menjadi perdana menteri terpilih tertua di dunia.

Apakah fenomena Mahathir juga akan terjadi di Indonesia, seperti sosok Jusuf Kalla yang digadang-gadang sebagai calon presiden, misalnya?

Pada Selasa (26/6) malam, Presdiden Partai Keadilan Sejtera (PKS), Sohibul Imam menggelar pertemuan tertutub dengan Jusuf Kalla di rumah dinas Wakil Presiden.

Di tengah obrolannya terkait Pilpres dan kondisi perekonomian Indonesia, Sohibul menyentil terkait fenomena Mahatir yang menjadi perdana menteri tertua di dunia. Kalla kemudian menyindir bahwa fenomena tersebut membuat semua merasa muda.

“Beliau (JK) bilang, ‘Oh iya, memang fenomena Mahathir bikin semua merasa muda dan siap maju. Konon Pak Amien Rais juga mau maju,” kata Sohibul seperti dikutip Jawa Pos.

Hal yang sama ditegaskannya dalam forum Jakarta Foreign Ccorrespondents Club, bahwa fenomena Mahathir tidak membuat dirinya tertarik untuk kembali bertarung dalam Pilpres mendatang.

“Waktunya untuk beristirahat, meski ada kasus Mahathir Mohamad (yang di usianya ke-90 tahun terpilih sebagai perdana menteri Malaysia), tapi saya lebih tertarik untuk istirahat,” ungkapnya.

Pemimpin Tertua di Dunia

Banyak orang yang mengaitkan fenomena Mhathir dengan Jusuf Kalla. Meskipun diusianya yang sudah tua, beberapa kalangan masih mendorongnya untuk menjadi calon presiden.

Kalau kita melacak beberapa catatan sejarah, fenomena Maahthir sebetulnya telah terjadi di beberapa negara. Para pemimpin negara tersebut juga menjabat di usia yang sudah tidak lagi muda. Siapa sajakah mereka? Berikut ulasannya yang telah dirangkum dawainusa.com dari berbagai sumber.

1. Paul Biya – 84 tahun

Paul Biya lahir pada tahun 1933 dan telah menjabat sebagai Presiden Kamerun selama 35 tahun. Diperkirakan ia masih akan terus menjabat hingga 3 tahun mendatang.

2. Sheikh Sabah Al-Ahmad Al-Jaber Al-Sabah – 88 tahun

Sheikh Sabah Al-Ahmad Al-Jaber Al-Sabah lahir pada 6 Juni tahun 1929, ia pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri selama 40 tahun, termasuk saat masa invasi Irak. Saat ini dirinya sedang menjabat sebagai Emir Kuwait sejak 29 Januari 2006 silam.

3. Beji Caid Essebsi – 91 tahun

Pemilik nama lengkap Mohamed Beji Caid Essebsi ini lahir di Tunisia pada 29 November tahun 1926. Dirinya saat ini tengah menjabat sebagai pemimpin negara itu sejak 31 Desember 2014 lalu.

Presiden Tunisia ke-5 ini merupakan seorang pemimpin yang mampu membawa Tunisia ke arah demokrasi dan keamanan yang lebih baik.

4. Elizabeth II – 92 tahun

Nenek dari Pangeran William dan Pangeran Harry ini telah menjabat sebagai Ratu Inggris sejak 6 Februari tahun 1952. Kini wanita kelahiran London, Inggris ini sudah berusia 92 tahun dan baru saja merayakan ulang tahunnya pada 21 April kemarin.

5. Robert Mugabe – 94 tahun

Pria bernama lengkap Robert Gabriel Mugabe ini lahir di Zimbabwe pada 21 Februari tahun 1924. Robert Mugabe merupakan Presiden Zimbabwe yang memiliki masa jabatan lama sejak 31 Desember 1987. Namun, dirinya kini sudah lengser dari kursi kekuasaan.*