Jokowi-Sandi: Politik Sontoloyo vs Politik Ojo Loyo

Jokowi-Sandi: Politik Sontoloyo vs Politik Ojo Loyo

FOKUS, dawainusa.com Permainan narasi memang menjadi salah ciri khas dalam setiap kontestasi politik. Kita menemukan permainan semacam ini dalam politik pilpres hari-hari ini. Mulai dari politik kebohongan yang diucapkan kedua kubu yang hendak bertarung, hingga yang masih enak disantap saat ini yakni politik sontoloyo.

Penggagas awal politik sontoloyo adalah Presiden Joko Widodo. Kosa kata ini dicupkan Jokowi berangkat dari kejengkelannya atas konstelasi politik mutakhir yang penuh kebohongan dan tipu muslihat. Meskipun pada akhirnya Jokowi mengaku keceplosan, narasi po litik yang diedarkan Jokowi berhasil memantik sejumlah perdebatan.

Oposisi pun tak ingin kehilangan momen. Mereka menilai, Jokowi tak layak mengungkapkan hal tersebut jika disandingkan dengan posisinya sebagai Presiden. Jokowi mesti lebih tenang dalam mengolah keganasan opini massa sehingga tak terkesan sedang stres.

Baca juga: Romo Benny Susetyo Soal Sekolah Minggu Masuk RUU Pesantren

Rocky Gerung pun sempat berkomentar soal ini. Dalam sebuah Talk Show di salah satu stasiun TV, Rocky menyebut, sontoloyo sebetulnya diproduksi tim Jokowi yang tidak becus. Akibatnya, mantan Wali Kota Solo itu melontarkan kata-kata yang menimbulkan sensasi.

Namun, yang harus dipahami bersama adalah bahwa Jokowi juga manusia, bukan malaikat. Ia bisa saja keceplosan, tak mampu lagi mengontrol diri ketika berhadapan dengan gempuran politik jelang pilpres. Pada posisi inilah, setidaknya kita memahami ungkapan dan isi hati Jokowi.

Politik ‘Ojo Loyo’

Yang menarik dari perang narasi ini adalah reaksi cawapres Sandiaga Uno. Sandiaga memilih enggan merespon pernyataan Jokowi. Ia coba membalikkan pernyataan Jokowi itu dengan menyodorkan narasi ‘ojo loyo’ (jangan lesu). Fokus Sandi adalah para pemuda.

“Enggak ada komentar (soal sontoloyo), saya bilang ke anak muda ayo, milenial ojo loyo, ojo loyo,” kata Sandi di Jakarta, Sabtu (27/10).

Sandi seakan tak ingin terlarut dalam ‘sontoloyo’ Jokowi. Ia meminta anak muda untuk terus meraih kesempatan di 2019 dan juga menyinggung soal ekonomi yang harus dikuatkan di tahun depan. “Ekonomi harus kita bangkitkan, dan di bawah Prabowo (Subianto)-Sandi fokusnya adalah ekonomi harus ojo loyo,” jelas dia.

Baca juga: Politik Sontoloyo ala Jokowi, Antara Kedunguan Publik dan Kebodohan Elit

Sandi menjelaskan pasangan Prabowo-Sandiaga mencanangkan sejumlah program, beberapa di antaranya ialah program anak minum susu, program pertanian hingga kesehatan di desa-desa.

Latar belakang dari program-program ini, menurutnya, adalah masalah ekonomi menjadi topik utama yang ia temukan di masyarakat, salah satunya ketika mengunjungi warga di Brebes, Jawa Tengah, kemarin.

“Rata-rata yang keluar masalah pekerjaan dan harga yang membebani, karena dua itu top of mind ekonomi, karena ekonomi selalu mendominasi setiap percakapan saya sama masyarakat,” ungkapnya.

Pada generasi milenial, Sandi berpesan untuk menciptakan kampanye yang sejuk, kampanye yang mempersatukan. Entahlah, siapa yang sedang disinggung Sandi, tentu bukan Pak Jokowi.

“Saya juga menyampaikan pesan Pak Prabowo, yuk kita kampanye sejuk, kampanye mempersatukan, bukan memecah belah. Pakai kata-kata dan kalimat yang positif. Sampaikan kepada semuanya Prabowo-Sandi fokus pada perbaikan ekonomi yang fokus pada penciptaan lapangan kerja dan harga-harga kebutuhan pokok yang terjangkau,” demikian Sandi.

Sensasi Elit

Sejumlah narasi yang diedarkan politisi hari-hari ini mengingatkan kita pada tesis Plato: “Politisi adalah moralis ‘pemintal kata-kata’ yang tak mudah kehilangan inspirasi dan selalu membicarakan kebenaran dan masa depan.

Kita menangkap semacam upaya Plato untuk menunjukkan bahwa kata-kata yang keluar dari mulut politisi adalah sarana mengembangkan kesadaran kemanusiaan untuk menyampaikan kebenaran dan keyakinan positif.

Baca juga: Prabowo Subianto ‘The Great’ Sontoloyo, Apa Maksud Hanura?

Namun, idealisme Plato akan sulit diterjemahkan di Indonesia dengan drajat kepanasan politik yang cukup tinggi. Kosa kata penuh sensasi ditambah sedikit sindiran dan cacian menggebuk ruang diskursus publik.

Dua kubu yang bertarung dalam Pilpres kali ini terperangkap dalam situasi itu. Rasanya begitu sulit menangkap kebenaran dan spirit positif yang keluar dari mulut politisi. Kalaupun ada, barangkali hanya sekedar basa-basi.

Kita tiba pada sebuah psismisme politik bahwa pertarungan gagasan dengan komunikasi politik yang berbobot adalah sebuah kemustahilan. Skema narasi yang terpola di otak kedua kubu hanyalah kekuasaan.

Dari perspektif ini, ucapan Jokowi yang dinilai sensasional itu sebetulnya tidak pernah terlepas dari usaha untuk mempertahankan kekuasaan. Kubu oposisi pun demikian, memproduksi wacana antitesa demi menekuk logika publik hingga kekuasaan itu bisa direbut.

‘Ojo loyo’ Sandiaga juga merupakan antitesa atas ‘sontoloyo’ Jokowi. Sandiga paham, tak perlu lagi ikut berkomentar karena memang sebelumnya sudah digebuk elit oposisi. Pilihannya, Sandiaga main aman, fokus ke milenial. Tapi orientasinya, tetap kekuasaan.*