Jokowi Keceplosan ‘Sontoloyo’, Bentuk Kontrol Diri yang Lemah?

Jokowi Keceplosan ‘Sontoloyo’, Bentuk Kontrol Diri yang Lemah?

FOKUS, dawainusa.com Topik seputar politikus sontoloyo yang diucapkan Jokowi beberapa waktu lalu masih terus digulirkan. Jokowi melontarkan pernyataan pedasnya itu saat membagikan sertifikat tanah untuk rakyat di Lapangan Ahmad Yani, Kaebayoran Lama, Jakarta, pada Selasa, (23/10).

Capres petahana itu menyinggung banyaknya politikus sontoloyo yang ada di Indonesia. Karena itu, ia meminta masyarakat agar hati-hati terhadap mereka yang masuk dalam kategori ini. “Hati-hati banyak politikus baik-baik tapi banyak juga politikus sontoloyo,” kata Jokowi.

Pernyataan Jokowi memunculkan beragam tafsir. Tim Kampanye Jokowi-Ma’ruf pun menjelaskan maksud dari ucapan Jokowi. Bagi poros petahana, politik sontoloyo yang dikatakan Jokowi adalah politik yang cenderung mengalami penurunan kualitasnya. Sebab belakangan ini sejumlah elit memainkan politik kebohongan untuk menarik simpati pemilih.

Baca juga: Politikus Sontoloyo ala Jokowi, Siapa Sesungguhnya yang Sontoloyo?

Bahkan, mengutip Tempo, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengaku kalau pernyataan Jokowi merupakan teguran untuk dirinya. “Intinya beliau sebagai presiden mengingatkan kepada saya bahwa sebagai politisi yang sekarang sebagai Mendagri, pembantu presiden, ya harus santun,” kata Tjahjo di Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta, Rabu (24/10).

Belakangan, Jokowi mengaku kelepasan mengucapkan politikus sontoloyo. Jokowi mengatakan, kata tersebut keluar dari mulutnya akibat perasaan jengkel yang tak lagi tertahankan.

“Saya enggak pernah pakai kata-kata itu, karena udah jengkel ya keluar. Saya sebetulnya bisa ngerem, tapi karena udah jengkel ya gimana,” katanya saat membuka Pertemuan Pimpinan Gereja dan Pimpinan Perguruan Tinggi Agama Kristen Seluruh Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Rabu (24/10).

Mengapa Jokowi Jengkel? dalilnya adalah banyak politikus yang rela menghalalkan segala cara, seperti adu domba dan fitanah, demi merebut kekuasaan tiap menjelang pemilihan umum. Baginya, prilaku politikus semacam ini akan merusak kerukunan yang terjalin di tengah masyarakat.

Di sisi lain, Jokowi menjelaskan bahwa sejatinya Indonesia tidak lagi mempunyai persoalan dengan perbedaan, baik suku, agama, ras maupun golongan. Sejak meraih kemerdekaan, kata dia, maka persatuan bangsa Indonesia mendapat poin A dan membuat bangsa lain terkagum-kagum.

Menurut Jokowi, semangat persatuan di tengah masyarakat Indonesia justru terganggu oleh sikap politikus yang menggunakan segala cara untuk meraih kekuasaan. “Inilah kenapa kemarin saya kelepasan, saya sampaikan politikus sontoloyo ya itu,” tegasnya.

Infografis

Infografis – dawainusa.com

Keceplosan Jokowi, Bentuk Kontrol Diri yang Lemah

Kubu Prabowo mengomentari keceplosan Jokowi soal politisi sontoloyo. Mereka menganggap, ucapan Jokowi merupakan bentuk kontrol diri yang lemah dan tidak pantas diucapkan oleh seorang pemimpin negara.

“Sangat tidak pantas, saya pikir. Kenapa? karena yang namanya Presiden itu adalah pemimpin tertinggi, dia harusnya politisi yang jadi contoh, bukan cuma untuk politisi lho, seluruh anak negeri,” kata koordinator juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga, Dahnil Anzar Simanjuntak, seperti dikutip detik.com, Rabu (24/10) malam.

Dahnil menilai, tak pantas istilah sontoloyo keluar dari mulut seorang presiden. Menurut Dahnil, pemimpin seharusnya meneduhkan dan menentramkan masyarakat.

Baca juga: Komentar Sekjend Demokrat Soal Politikus Sontoloyo ala Presiden Jokowi

“Kapasitas pemimpin itu adalah bagaimana beliau justru bisa menetramkan, mengademkan, justru kemudian pernyataan itu mengesankan ada memperkeruh suasana,” tuturnya.

Menurut Dahnil, Jokowi sebagai pimpinan politik tertinggi di Indonesia harus menjadi teladan bagi seluruh anak bangsa. Istilah ‘politik sontoloyo’ yang keluar dari mulut mantan Gubernur DKI Jakarta itu harusnya menjadi bahan evaluasi.

“Saya pikir pimpinan politik yang tertinggi hari ini di negeri ini ya pak Jokowi sendiri. Jadi kalau ada politisi yang paling berkuasa hari ini ya pak Jokowi itu sendiri, berarti kalau kemudian itu bentuk kekesalannya, anda bisa membayangkan bagaimana lagi orang lebih kesal dengan ketidakadilan yang hadir hari ini,” ujarnya.

Gerindra Tak Merasa Tersindir

Jokowi memang tak secara jelas mengarahkan peryataannya ke kubu mana. Apakah ke poros oposisi atau ke poros petahana sendiri. Kubu Prabowo-Sandi memberikan komentar soal ini.

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad mengatakan, partainya tidak mempermasalahkan ihwal pernyataan Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang menyebut ada banyak politikus sontoloyo saat ini.

“Ya kalau sindir menyindir, pantun berpantun. Itu biasalah. Enggak usah kita terlalu bahas,” ujar Dasco di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (24/10).

Baca juga: Sejumlah Tanggapan di Balik Politik Sontoloyo ala Jokowi

Toh, ujar Dasco, dia dan kawan-kawan tidak merasa tersindir. “Kita enggak merasa terganggu. Kita enggak merasa dituding kok. Kita juga enggak tahu yang dimaksud Pak Presiden siapa gitu loh, tapi berpikir positif saja untuk terus bekerja,” ujar Dasco.

Sementara itu, Ketua DPP Partai Gerindra Sodik Mudjahid mengkritik keras pernyataan Jokowi. Sama seperti Dasco Ahmad, Sodik juga merasa partainya tidak tersindir dengan pernyataan Jokowi. Bahkan Sodik menuding Jokowi agak stres karena banyak janji-janji yang belum dipenuhi.

“Oh (Gerindra) tidak (tersindir). Saya melihat beliau mungkin agak stres. Stres banyak janji-janji yang belum dipenuhi, stres harus memenangkan sehingga keluar kata-kata seperti itu, kata-kata ‘sontoloyo’. Kemudian sebelumnya juga ada pembohongan. Mungkin beliau dalam keadaan tertekan, dalam keadaan stres,” kata Sodik di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (24/10).

Sodik menduga Jokowi sedang berada di bawah tekanan sehingga berbicara politik sontoloyo. Dia lalu berbicara soal kesantunan.

“Ada juga yang menambahkan, karena dalam keadaan stres, katanya, Jokowi yang terkenal santun sekarang sudah mulai tidak santun lagi. Mungkin karena beliau underpressure,” tutur Sodik.*