Jelang Annual Meeting IMF-WB, Sampah di Labuan Bajo Segera Ditangani

Jelang Annual Meeting IMF-WB, Sampah di Labuan Bajo Segera Ditangani

Menjelang kedatangan delegatus Annual Meeting IMF-WB pada Oktober 2018 mendatang, persoalan sampah di Labuan Bajo dan kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) terus menjadi perhatian banyak pihak. (Foto: Labuan Bajo - Kompas).

LABUAN BAJO, dawainusa.com Di balik keindahan alam yang menakjubkan, kawasan wisata Labuan Bajo sampai Taman Nasional Komodo (TNK), ternyata penuh dengan sampah. Menjelang kedatangan delegatus Annual Meeting IMF-WB pada Oktober 2018 mendatang, persoalan sampah terus jadi perhatian khusus.

Otoritas Penyelenggara Pelabuhan Labuan Bajo di Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) kemudian mengeluarkan surat edaran bagi kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan untuk menjaga kebersihan.

Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas III Labuan Bajo Jasra Irawan mengatakan, penertiban tersebut untuk mempersiapkan kedatangan para delegatus yang mengikuti Annual Meeting IMF-WB.

“Untuk menciptakan rasa asri dan aman bagi para tamu maka perlu diciptakan lingkungan pelabuhan yang bersih terutama masalah sampah dari kapal-kapal yang bersandar di Labuan Bajo,” ujar Jasra Irawan.

Baca juga: Labuan Bajo Darurat Sampah, KLHK Turun Tangan

Menurutnya, pelabuhan Labuan Bajo saat ini selain digunakan untuk pelabuhan umum, juga berfungsi sebagai pelabuhan wisata yang menjadi pintu masuk bagi kapal-kapal wisatawan yang berwisata bahari di sekitar Manggarai Barat.

Ia mengatakan, ke depan, nahkoda kapal atau agen yang mengurus kapal-kapal untuk mendapatkan Surat Perintah Berlayar (SPB) diwajibkan membawa media plastik penampung sampah yang akan dicatat para petugas.

“Media penampung sampah juga wajib dilaporkan ke petugas Syahbandar sewaktu-waktu kapal pulang setelah melakukan perjalanan atau trip-nya,” tuturnya.

Demi keberhasilan program tersebut, ia juga meminta agar Dinas Lingkungan Hidup Manggarai Barat mendukung melalui pembersihan sampah dan menyiapkan tempat penampungan sampah di pelabuhan secara berkelanjutan.

Masalah Sampah Harus Tuntas Sebelum Annual Meeting IMF-WB Digelar

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, dalam pertemuan pemantapan kerja sama pariwisata antara Pemerintah Provinsi NTT dan operator kapal persiar internasional asal Amerika Serikat, Carnival di Benoa, Bali juga meminta pemerintah daerah untuk menyelesaikan masalah sampah di Labuan Bajo dan TNK.

“Harus ada operasi bersama untuk membersihkan sampah di Labuan Bajo sebagai salah satu dari 10 destinasi unggulan nasional. Saya optimistis sebelum Oktober 2018, kita bisa lakukan itu agar tidak mengecewakan para peserta Annual Meeting IMF-Word Bank yang akan berkunjung ke Labuan Bajo,” kata Menteri Luhut.

Menko Kemaritiman merasa prihatin dengan keadaan Labuan Bajo dan TNK yang penuh dengan sampah. Persoalan ini sangat berdampak pada pesona alam Labuan Bajo dan kawasan TNK yang sudah mendunia.

Baca juga: Pada 2017, Wisata Komodo Raup Pendapatan Sebesar Rp 29,1 Miliar

Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH) telah bekerja sama dengan PT Pupuk Indonesia akan menangani masalah sampah di ujung barat Pulau Flores itu.

“Mulai tahun 2018 ini akan ditangani Kementerian LHK bekerja sama dengan PT Pupuk Indonesia untuk pengolahannya. Kami sudah lakukan koordinasi,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTT Marius Ardu Jelamu, Senin (22/1) lalu.

Menurut dia, masalah sampah di Labuan Bajo menjadi persoalan serius yang terus-menerus disoroti wisatawan, para pelaku usaha, dan pemerintah pusat.

Adapun sekitar 18.000 perserta Annual Meeting IMF-Word Bank yang berasal dari 189 negara akan melakukan pertemuan di Bali selama sepekan. Para peserta berkesempatan pula untuk berkunjung ke Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo (TNK).

Tangani Sampah, Otoritas TNK Bentuk Satgas

Menurut Marius, produksi sampah di Kota Labuan Bajo tercatat sampai saat ini mencapai 112 meter kubik per hari dengan jenis yang beragam.

Bahkan, ungkapnya, masalah sampah di Labuan Bajo terus-menerus disoroti wisatawan, para pelaku usaha, maupun pemerintah pusat.

“Saya bahkan ditelepon langsung wisatawan dari London, Australia, dan beberapa negara lainnya. Mereka mengaku sangat mengagumi keindahan wisata di sana, tetapi catatan mereka terutama pada masalah sampah yang harus dibenahi,” pungkasnya.

Baca juga: Ini 10 Destinasi Pariwisata Menarik di Labuan Bajo

Dalam rangka penanganan masalah sampah tersebut, pihak Otoritas TNK telah membentuk satuan tugas (satgas) bernama Masyarakat Peduli Sampah (MPS) yang bertugas khusus membersihkan sampah di dalam kawasan TNK.

Para petugas MPS ini setiap harinya akan mengambil sampah di berbagai titik kawasan TNK, kemudian mereka kumpulkan ke tempat penampung yang ada di setiap desa, lalu kapal khusus mengangkutnya ke Labuan Bajo. Selanjutnya, sampah akan didaur ulang.

Adapun dalam analisis Otoritas TNK, timbunan sampah terbanyak terdapat di Pulau Komodo, yaitu Desa Komodo dan Wisata Loh Liang serta Pulau Rinca di Desa Pasir Panjang dan Wisata Loh Buaya.*