Jefri Aquino: Membangun Daerah Tidak Harus Menjadi PNS

Jefri Aquino: Membangun Daerah Tidak Harus Menjadi PNS

RUTENG, dawainusa.com Ayam belum keluar dari sangkarnya. Sementara Jefri dan istrinya sudah terjaga di pagi yang masih gelap itu. Hari ini mereka harus bergeggas lebih awal dari ayam jantan yang sering membangunkan mereka di pagi buta.

Pagi itu, Jefri sekeluarga kedatangan tamu dari barat jauh. Ada dari Amerika dan sebagian lain dari Eropa. Lima bulan terakhir, para pelancong datang silih berganti, menginap sehari dua hari di tempat Jefri sekeluarga yang oleh jefri sendiri memberi nama Sun Rice Home Stay.

Setiap pagi, dia bersama para pelancong berjalan mengitari persawahan menikmati udara pagi sebelum matahari terbit dan para petani di desa bergegas ke sawah.

Baca juga: Baru Terungkap, Pesan Terakhir Pramugari Lion Air: Aku Ingin Terbang Terus

Pria bernama lengkap Yeremias Jefrisan Aquino itu adalah seorang sarjana Pendidikan Bahasa Inggris tamatan STKIP Santu Paulus Ruteng pada empat tahun lalu. Menjadi sarjana, pada awalnya dia pernah frustasi karena ketersediaan lapangan kerja yang kurang sehingga harus menganggur.

Setelah sekian lama berkelana mencari pekerjaan namun tak kunjung dapat, dia akhirnya memutuskan untuk “banting stir” mengadu nasib dengan pekerjaan lain.

Dengan bekal mampu berkomunikasi bahasa asing, ia kemudian menjalankan profesi sebagai pemandu turis di sekitar kota Ruteng,Kabupaten Manggarai,Nusa Tenggara Timur (NTT).

Home Stay milik Jefri

Jefri bersama para tamu – ist

Sempat Menjadi Guru Honorer

Sebelum fokus menekuni profesi sebagai pemandu wisata, suami dari Veronika Sangu ini sempat mengadu nasib menjadi guru honorer di kampungnya di SMK Negeri 1 Wae Ri’i. Profesi ini ia geluti kurang lebih sembilan bulan.

“Saya sempat mengajar di SMK selama sembilan bulan. Dengan honor seadanya saya mengabdikan diri disana walau tidak lama,” kenang dia.

Baca juga: Ini Alasan Pesawat Wings Air Batal Mendarat di Bajawa

Aktivitasnya sebagai guru mulai terganggu saat tawaran untuk menjadi pemandu turis menghampirinya setiap hari.

“Saya tidak mau mengecewakan pihak sekolah dan murid-murid saya. Saya putuskan untuk berhenti menjadi guru dan menerima tawaran menjadi tour guid,” jelas dia.

Jefri bersama para tamu - ist

Jefri bersama para tamu – ist

Membangun SUN RICE HOMESTAY

Semakin hari, tawaran untuk ayah satu anak ini kian banyak. Tawaran itu datang dari berbagai Tour Operator baik di Bali maupun dari luar negeri.

Menurut dia, minat wisatawan untuk mengeksplorasi persawahan indah di sekitar kampungnya sangat tinggi. Persawahan di kampung Kenda, Desa Bangka Kenda memang menawarkan pemandangan luar biasa.

Awalnya kata Jef, para turis jika ingin menikmati pemandangan sawah harus terlebih dahulu dijemput di hotel. Setelah selesai berkeliling di sawah, para turis itu diajaknya menikmati kopi di kediaman mereka.

Baca juga: Baru Terungkap, Pesan Terakhir Pramugari Lion Air: Aku Ingin Terbang Terus

Hal ini kemudian menginspirasi dia untuk membangun penginapan sederhana untuk para turis. Tak butuh waktu lama, akhirnya dia memulai peruntungannya dengan mempersiapkan modal membangun penginapan itu.

“Setiap kali selesai keliling di sawah, mereka (para pelancong), saya ajak ngopi pagi di rumah. Mereka menikmati situasi itu, mereka sangat senang tinggal bersama ditengah-tengah kampung,” ujarnya.

“Saya akhirnya terinspirasi membangun home stay, lalu saya siapkan modal dan mulai mengumpulkan bahan untuk segera membangun,” kenangnya.

Setelah mempersiapkan semuanya, dia lalu membayar tukang dan penginapan yang ia dambakan pun dibangun dengan lancar. Pembangunan penginapan itu membanderol rupiah sekitar Rp.160 juta termasuk biaya tukang.

“Modal untuk pembangunan dan bayar tukang saya habiskan Rp 160 juta. Itu sudah termasuk bayar tukang dan seluruh interior,” jelas dia.

Penamaan Sun Rice untuk tempat itu diakui Jefri tidak terlepas dengan kondisi alam disekitar. Sun yang merupakan kata bahasa inggris mengacu pada matahari terbit sedangkan Rice erat kaitannya dengan persawahan indah di kampungnya.

Kunjungan para sahabat Jefri – ist

Memanen Puluhan Juta Setiap Bulan

Usaha dari pria 29 tahun ini akhirnya berbuah manis. Pertama kali beroperasi, tawaran dari tamu yang hendak menginap pelan tapi pasti meningkat.

Berkat jejaring yang ia bangun, para wisatawan yang sebagian besar dari mancanegara datang dan menginap disana. “Puji Tuhan jumlah tamu terus berdatangan saat pertama beroperasi,” jelasnya.

“Kalau dihitung, sebulan bisa lebih dari sepuluh juta, mungkin karena sekarang musim rame,” katanya.

Manajemen tempat penginapan ini ia tangani bersama istri yang selama ini berprofesi sebagai tenaga medis di puskesmas. Saat ini tempat penginapan itu menjadi sumber penghidupan bagi keluarga kecil mereka.

Jefri bersama para tamu - ist

Para tamu sedang menikmati jamuan malam di rumah Jefri- ist

Sarjana Harus Buat Terobosan

Jalan yang ia rintis dengan menjadi pelaku usaha pariwisata membanggakan keluarga dan warga di kampungnya. Bagi dia, jalan yang ia rintis saat ini bisa menginspirasi para sarjana lain yang saat ini mungkin masih menganggur.

“Harapanya makin banyak yang mau berwirausaha. Semakin banyak sarjana seharusnya makin banyak orang yang menciptakan terobosan,” harap dia.

“Saya pernah mengikuti tes PNS namun gagal. Saya kemudian sadar ternyata membangun daerah ini tidak harus menjadi pegawai negeri. Saya membangun semampu saya untuk memajukan daerah dan tentu bangsa dan negara,” ujarnya.* (Elvys Yunani)

COMMENTS