Jeda Idul Fitri, Tentara Afghanistan dan Militan Taliban Berpelukan

Jeda Idul Fitri, Tentara Afghanistan dan Militan Taliban Berpelukan

Dilaporkan Washington Post, Presiden Ashraf Ghani mengumumkan telah memperpanjang gencatan senjata sepihak dan menyerukan kepada Taliban untuk melakukan hal yang sama. (Foto: Anggota Taliban berpelukan dengan Tentara Afghanistan - BBC)

AFGHANISTAN, dawainusa.com Sebuah peristiwa yang dianggap mustahil terjadi beberapa hari lalu ketika para anggota Taliban Afghanistan berpelukan dengan para anggota pasukan keamanan Afghanistan.

Peristiwa yang banyak menyedot perhatian masyarakat dunia itu terjadi di tengah gencatan senjata tiga hari yang diberlakukan untuk memperingati Idul Fitri.

Dilaporkan Washington Post, Presiden Ashraf Ghani mengumumkan telah memperpanjang gencatan senjata sepihak dan menyerukan kepada Taliban untuk melakukan hal yang sama. Tak hanya itu, Pemerintah Afghanistan juga membebaskan sejumlah militan Taliban dari penjara.

sebetulnya, Presiden Ghani menginginkan gencatan senjata Idul Fitri ini bisa jadi pembuka jalan menuju perdamaian yang lebih langgeng, sekaligus menyerukan Taliban untuk maju ke meja perundingan.

Baca juga: Mengenal Prajurit Gurkha, Pasukan Tangguh dari Pegunungan Nepal

Niat Ghani terekam dalam pidato yang disiarkan televisi setempat beberapa waktu lalu. Ia mengatakan, sekarang para anggota Taliban dapat menerima tunjangan pemerintah seperti warga lainnya.

Video dan gambar yang memperlihatkan berbagai peristiwa bercampurnya tentara Afghanistan dengan militan Taliban dan warga di berbagai pelosok negeri dipublikasikan di berbagai media lokal. Dalam berbagai foto juga tampak para militan bertemu Menteri Dalam Negeri Wais Barmak di ibukota Kabul.

Reaksi Rakyat Afghanistan

Situasi yang harmonis selama masa gencatan senjata antara tentara Afghanistan dan anggota Taliban, disambut girang oleh warga Afganistan. Bahkan mereka sangat terkejut, dua kelompok yang saling bermusuhan ini bisa bersalaman dan saling memeluk satu sama lain.

Seorang warga Kunduz Mohammad Amir kepada Reuters menceritakan kegirangannya saat melihat keakraban anggota Taliban dan polisi Afghanistan. Dirinya tidak percaya mereka bisa berdiri dan berada bersama.

Baca juga: Facebook Berkutat dalam ‘Persaingan Senjata’ dengan Rusia

“Saya tidak bisa mempercayai mata saya. Saya melihat Taliban dan polisi berdiri berdampingan dan melakukan selfie,” kata Mohammad Amir.

Ungkapan kegembiraan yang sama juga dirasakan salah seorang siswa Qais Liwal di Zabul di Afghanistan selatan. Qais  mengatakan, peristiwa keakraban yang terjadi antara anggota Taliban dan Polisi Afganistan merupakn momen Idul Fitri yang paling damai.

“Itu adalah Idul Fitri yang paling damai. Untuk pertama kalinya kami merasa aman. Sulit menggambarkan kegembiraan ini,” kata Qais.

Pantauan Reuters, orang-orang berseru dan bersorak menyambut para militan Taliban saat mereka masuk berbagai kota Afghanistan. Di Jalalabad di Afghanistan timur, warga memberikan berbagai buah-buahan dan makanan kepada para militan.

Kematian pemimpin Taliban Pakistan?

Di Pakistan, Perdana Menteri Interim Nasir-ul Mulk mengatakan, terbunuhnya pemimpin Taliban Pakistan Maulana Fazlullah dalam serangan pesawat tak berawak AS merupakan perkembangan signifikan dalam perang melawan terorisme.

Hal itu diucapkannya setelah berbicara lewat telepon dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani yang mengukuhkan kabar kematian pimpinan Taliban Pakistan itu.

Baca juga: Paus Fransiskus Soal Kesepakatan Denuklirisasi Semenanjung Korea

Panggilan telepon dari Presiden Ghani dilihat sebagai upaya untuk mendapatkan kepercayaan Pakistan dan meningkatkan kerja sama dalam perang melawan militan di Afghanistan, yang banyak pemimpinnya tinggal di Pakistan.

Fazlullah dituding terlibat dalam sejumlah serangan di Pakistan, termasuk pembantaian sekolah di Peshawar pada tahun 2014 yang menewaskan lebih dari 150 orang.

Dia juga dituding sebagai tokoh yang memerintahkan percobaan pembunuhan Malala Yousafzai, yang ditembak pada kepalanya di sebuah bus sekolah, saat ia masih merupakan siswi berusia 15 tahun.

Taliban Pakistan mengatakan, pada saat itu bahwa mereka menembak Malal karena dia “pro-Barat” dan “mempromosikan budaya Barat di kawasan Pashtun”.

Sebelumnya, Taliban mengumumkan penghentian permusuhan selama tiga hari setelah gencatan senjata sepihak hingga Rabu yang diberlakukan oleh pemerintah.

Ini adalah gencatan senjata pertama Taliban sejak pemerintah mereka digulingkan oleh invasi tahun 2001 yang dipimpin AS. Departemen luar negeri AS mengatakan, pasukan AS dan mitra koalisi mereka akan “menghormati gencatan senjata” itu.

Para pejabat mengatakan tidak terjadi serangan apa pun sejak gencatan senjata diumumkan. Pada bulan Februari lalu, Presiden Ghani menawarkan pembicaraan damai “tanpa prasyarat” dan pengakuan Taliban sebagai kelompok politik yang sah jika mereka menghormati aturan hukum.*

Video Anggota Taliban saat merayakan Idul Fitru