KWI Soal Tudingan Kristenisasi Dalam Kegiatan Baksos Gereja Bantul

KWI Soal Tudingan Kristenisasi Dalam Kegiatan Baksos Gereja Bantul

Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Mgr. Ignatius Suharyo membantah tudingan bahwa kegiatan bakti sosial (baksos) yang diselenggarakan oleh Gereja Santo Paulus di Bantul, Yogyakarta ialah upaya Kristenisasi. (Foto: Mgr. Suharyo sedang berpelukan dengan seorang tokoh Muslim - suaraislam.co - ist)

JAKARTA, dawainusa.com – Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Mgr. Ignatius Suharyo membantah tudingan bahwa kegiatan bakti sosial (baksos) yang diselenggarakan oleh Gereja Santo Paulus di Bantul, Yogyakarta ialah upaya Kristenisasi. Ia menjelaskan, baksos tersebut dilakukan murni sebagai bentuk solidaritas Gereja terhadap masyarakat setempat.

“Tudingan itu sudah pasti tidak benar. Kalau dari pihak Gereja Katolik, Kristenisasi itu sudah masa lampau,” kata Mgr. Suharyo di Jakarta, Jumat (2/2).

Uskup Keuskupan Agung Jakarta tersebut menjelaskan, kegiatan bakti sosial seperti ini dalam perspektif iman Kristiani merupakan bentuk perwujudan iman yang berciri inklusif, yakni tidak memandang latar belakang apapun termasuk agama. Kegiatan baksos di Bantul itu, katanya merupakan bentuk tanggung jawab sosial Gereja terhadap lingkungan sekitar.

Baca juga: Pernyataan MUI di Balik Pembubaran Baksos Gereja di Bantul

“Iman diungkapkan dalam ibadah, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan. Dasarnya adalah bahwa kegembiraan dan harapan, keprihatinan serta kecemasan masyarakat adalah kegembiraan, harapan, keprihatinan dan kecemasan murid-murid Yesus juga,” tutur Mgr. Suharyo.

Penjelasan Mgr. Suharyo tersebut merupakan jawaban terhadap tudingan berbagai pihak termasuk dari  Ketua Dewan Pengurus Pusat Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhyidin Djunaedi yang menilai, baksos Gereja di Bantul itu merupakan upaya Kristenisasi.

Tudingan tersebut juga sudah ditanggapi oleh pihak Gereja Santo Paulus Bantul sendiri.  Ketua panitia baksos, Agustinus Kelikasih menjelaskan, kegiatan itu sama sekali tidak memiliki kepentingan untuk Kristenisasi.

Ia mengatakan, apa yang mereka lakukan melalui kegiatan itu ialah murni sebagai bentuk kepedulian Gereja kepada masyarakat setempat serta demi turwujudnya rasa solidaritas dan persatuan di antara umat beragama. Apalagi, jelasnya, kegiatan seperti ini sudah sangat sering dilakukan Gereja dan baru kali ini terjadi pembubaran.

“Sering, sangat sering. Kita bakti sosial itu di dalam duku (dusun), bahkan hari Bhayangkara kemarin kita lakukan di daerah Potorono, sudah sering, biasa,” jelas Agustinus.

MUI: Ada Kristenisasi Lewat Iming-Iming Sembako

Majelis Ulama Indonesia (MUI) memang sebelumnya menilai baksos yang dilakukan Gereja di Bantul, Yogyakarta tersebut memiliki kepentingan dalam rangka Kristenisasi. MUI mengaku, tudingan tersebut beralasan, sebab  kelompok pembubar baksos tersebut pasti memiliki bukti yang mengindikasikan hal tersebut.

MUI melihat, pihak Gereja sedang memanfaatkan kesempatan melalui iming-iming pembagian sembako guna menarik warga setempat untuk masuk Kristen. Karena itu, MUI mengatakan aksi pembubaran terhadap kegiatan baksos tersebut oleh beberapa ormas yang mengatasnamakan Islam sama sekali tidak bermasalah.

Baca juga: Baksos Gereja Dibubarkan, Sultan dan Bupati Bantul Beda Pendapat

“Saya yakin bahwa penolakan itu bukan serta merta karena anti-umat Kristen, tapi karena sudah ada bukti sebelumnya bahwa kelompok yang bersangkutan menyalahgunakan pembagian sembako tersebut untuk kepentingan agama,” jelas Djunaedi di Jakarta, Kamis (1/2).

Oleh karena itu, Djunaedi mengungkapkan, kegiatan baksos Gereja itu telah melanggar dan bertentangan dengan Peraturan Bersama Menteri (PBM) Agama dan Menteri Dalam Negeri terkait pemberian iming-iming untuk mengajak seseorang berpindah agama.

“Tidak mungkin (ormas radikal) menolak kalau memang tidak ada pelanggaran terhadap PBM itu. Saya yakin bahwa penolakan itu karena sudah ada bukti sebelumnya bahwa kelompok yang bersangkutan menyalahgunakan pembagian sembako tersebut untuk kepentingan agama,” kata Djunaedi

Ia mengungkapkan, kalau memang kegiatan baksos tersebut murni sebagai wujud kepedulian Gereja terhadap masyarakat, seharusnya mereka melibatkan umat Islam untuk melakukannya. Dengan demikian, katanya, tidak ada kecurigaan bahwa kegiatan tersebut merupakan upaya Kristenisasi.

“Harus melibatkan umat Islam, mau bagi-bagi sembako atau apapun. Sehingga tidak ada kekhawatiran dari umat Islam tentang tujuan kegiatan itu,” ungkapnya.

Pembubaran Baksos; Penegasan Bantul Sebagai Kota Intoleran

Aksi Pembubaran baksos yang diselenggarakan Gereja Santo Paulus Bantul tersebut telah mendapat reaksi menohok dari Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI).

Mereka menilai, aksi ormas radikal yang mengatasnamakan Islam tersebut merupakan penegasan bahwa Bantul merupakan kota intoleran di Yogyakarta. Apalagi kata mereka, daerah ini juga menjadi domisili berbagai ormas radikal.

Baca juga: Kronologi Tewasnya Guru Musik Ganteng Setelah Dianiaya Siswanya Sendiri

“Mereka punya sekretariat di wilayah Kabupaten Bantul. Ini juga yang menjadi (pemicu) munculnya peristiwa-peristiwa yang kita tengarai sebagai tindakan intoleransi,” kata Koordinator ANBTI wilayah DIY, Agnes Dwi Rusjiati.

Penilaian ANBTI tersebut memang menjadi antitesis dari julukan yang disematkan pada Kota Yogyakarta sebagai sebuah daerah yang menjunjung tinggi toleransi di Indonesia. Apalagi, masih banyak deretan fakta lainnya yang juga mendukung hal ini.

Adapun pada Januari 2017 lalu, peneliti Center for Religious dan Cultural Studies (CRCS) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (CRSCS), Samsul Maarif, juga menyentil terkait maraknya aksi intoleransi di DI Yogyakarta.

Ia mengatakan, banyak fakta yang bisa membuktikan daerah Yogyakarta sama sekali tidak patut disebut sebagai model kota toleran di Indonesia.

Menurut Maarif, hal itu bisa dibuktikan lewat aksi penolakan Camat Pajangan serta desakan untuk mencopot baliho di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). “Intoleransi menyebar, tampaknya kelompok-kelompok itu mau masuk ke semua lini,” tutur Maarif.

Ia juga menambahkan, membeludaknya kelompok intoleran seperti ini merupakan bukti bahwa negara ini sangat lembek menghadapi mereka. Negara, lanjutnya, sama sekali tidak memiliki daya gigit untuk menghadapi kelompok-kolompok seperti ini. “Pelaku intoleransi kelompok itu-itu saja,” tutupnya.

Kegiatan baksos Gereja Santo Paulus tersebut digelar di rumah Kasmijo, Kepala Dusun Jaranan, Banguntapan, Bantul, Minggu (28/1) lalu. Kegiatan itu dilakukan dalam rangka memperingati ulang tahun Gereja Santo Paulus yang ke-32 sekaligus peresmian paroki dari paroki administratif menjadi paroki mandiri.

Namun, kegiatan tersebut harus batal karena sejumlah pemuda ormas mendatangi tempat bakti sosial dilakukan ketika acara itu baru dimulai. Para pemuda dari sejumlah ormas tersebut kemudian membubarkan kegiatan tersebut.

“Ada sekitar 50 orang dari ormas yang datang, di antaranya Front Jihad Islam. Demi menjaga suasana dan pertimbangan keamanan, kami membatalkan bakti sosial,” jelas Agustinus Kelikasih.

Dalam rencananya, baksos tersebut akan diisi dengan menjual 185 paket sembako murah. Paket itu di antaranya terdiri dari beras, teh dan gula. Ada juga acara bersepeda bersama warga kampung.

Selain bakti sosial, panitia Gereja pada hari yang berbeda telah menggelar tirakatan, syukuran paseduluran dengan mengundang kalangan Muslim. Ada juga ziarah ke sejumlah tokoh.*