Iwan Manasa: Sumpah Pemuda, Kesempatan Mereguk Energi Persatuan

Iwan Manasa: Sumpah Pemuda, Kesempatan Mereguk Energi Persatuan

JAKARTA, dawainusa.com Sumpah Pemuda memberi kesempatan kepada kita untuk mereguk energi positif dan ide perjuangan dalam kerangka menggelorakan masyarakat, memajukan bangsa, dan menggerakkan negara.

Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Jaringan Pengembangan Pemuda dan Olahraga (Jarbangpora) Iwan Setiawan Arifin Manasa kepada Dawainusa, Minggu (28/10).

Menurut Iwan, energi positif dan ide perjuangan tersebut, selain digelorakan melalau ungkapan kritis, tetapi juga daya kreatif dan keiklhasan untuk mengikat satu demi satu menjadi bersama.

Baca juga: Sindiran Keras PKB ke PSI Soal ‘Dosa’ Parpol Lama

Iwan lalu menarik kembali historitas gerakan pemuda sebagaimana dalam Kongres Pemuda Indonesia II yang diikuti berbagai perkumpulan pemuda dengan latar belakang yang berbeda.

“Namun di balik kebinekaan itu, mereka memiliki elan kebersamaan, mengusung keinginan kuat untuk merdeka. Menjadi Indonesia yang satu,” ungkap Iwan.

Hal tersebut, demikian Iwan, menjadi satu kekuatan tersendiri bagi pemuda sekaligus menjadi landasan untuk membangun karakter pemuda demi Indonesia yang maju dan bermartabat.

“Kini, 90 tahun sesudahnya, kita patut bersyukur karena Indonesia terus dan tetap memiliki banyak pemuda dengan daya kritis dan daya kreatif yang sangat besar,” ungkap Caleg DPR RI Dapil NTT I itu.

Iwan Manasa

Iwan Manasa – ist

Karakter Pemuda dan Tantangan Masa Depan

Di sisi lain, Iwan juga menyoroti soal uapaya yang mesti dilakukan dalam membangun karakter pemuda. Menurutnya, untuk membangun karakter pemuda masa kini perlu menimbang dan memperhatikan kondisi riil kaum muda saat ini, sekaligus tantangan yang mereka hadapi di masa depan.

Iwan mencontohkan, salah satu fitur kaum muda sekarang – orang menyebutnya generasi milenial – adalah sosok aktif yang kapan saja dan di mana saja selalu menyampaikan pendapat kritis dan ekspresi kreatifnya.

Baca juga: Politik Sontoloyo ala Jokowi, Antara Kedunguan Publik dan Kebodohan Elit

“Semua bisa terjadi, karena pernyataan mereka mendapatkan ruang yang paling besar dalam sejarah kita,” ungkapnya.

Karena itu, perlu dengan serius mendorong kaum muda saat ini untuk terus berkarya. Bagi Iwan, teladan, bimbingan, mentoring, internship, kesempatan, adalah cara-cara memupuk mereka.

“Satu pola efektif untuk membangun dan memberdayakan pemuda adalah volunteerism – kesukarelawanan. Dengan bakat dan kemahirannya, satu per satu pemuda sukarela dan teratur memberikan waktu serta tenaga kepada orang-orang maupun komunitas yang membutuhkan,” ungkap alumnus Universitas Gadjah Mada ini.

Mengkawal Proses Perubahan

Menurut Iwan, meskipun pemuda hadir untuk mengkawal proses perubahan, tidak berarti membiarkan mereka bebas melakukan apa saja. arahan dan tuntunan tetap perlu dilakukan.

“Arahan, tuntunan, teguran bahkan tindakan tegas tetap diperlukan agar tindakan mereka tidak kebablasan,” ungkapnya.

Baca juga: Kegenitan Politik di Balik Keberanian PSI Ungkap ‘Dosa’ Partai Lama

Arahan yang sama, demikian Iwan, tetap diperlukan manakala sikap kritis dan kreatif kaum muda terwujud ke dalam tindakan kekerasan fisik atau verbal dan bentuk-bentuk kejahatan lain.

“Misalnya, yang sedang mewabah saat ini, yakni terlibat dalam menyebarkan kebohongan (hoaks),” katanya.

Iwan juga menyentil soal superioritas kelompok tertentu yang cendrung menonjolkan identitas berbasis SARA, yang pada akhirnya semakin memperlebar perpecahan di tengah kehidupan bersama. Di sini, posisi kaum muda menjadi sangat vital.

Karena itu, tindakan menegur dan mengarahkan kaum muda yang terjebak dalam superioritas kelompok semacam ini tetap perlu dilakukan.

“Tindakan mengarahkan dan menegur juga harus diterapkan pada sikap menonjolkan identitas kelompok atau golongan (termasuk suku, agama dan ras) yang seringkali justru meremehkan, mengabaikan, atau meniadakan jatidiri kelompok yang dianggap lain,” tutp Iwan.*