dawainusa.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat kembali menyoroti beberapa isu lokal yang masih menjadi perhatian serius pemerintah NTT. Viktor menyebutnya sebagai isu-isu yang memalukan bagi provinsi berbasis kepulauan itu.

Mengutip Antara, Viktor mengungkapkan hal itu melalui rilis media yang disampaikan Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT, Veri Guru.

Baca juga: Setelah Dipotong Pemerintah, Ini Rincian THR yang Akan Diterima PNS

Menurut Viktor, isu-isu yang memalukan bagi Provinsi NTT antara lain tingkat kemiskinan yang mencapai 20,62 persen, jumlah penderita stunting yang mencapai 30,80 persen, serta lama sekolah 7,3 tahun dan kondisi infrastruktur yang masih buruk.

Kemiskinan memang menjadi sorotan utama Viktor. Ia mengungkapkan hal itu dalam sambutannya yang dibacakan Asisten Administrasi Pemerintahan Sekretaris Daerah Provinsi NTT, Jamal Ahmad ketika membuka kegiatan pra Musrenbang Provinsi NTT di Kupang, Jumat (17/4/2020).

Secara nasional, presentase kemiskinan memang mengalami penurunan. Sementara untuk konteks NTT, merujuk data tahun 2019 yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik Provinsi NTT, presentase penduduk miskin di NTT pada Maret 2019 justru mengalami peningkatan dibandingkan dengan keadaan September 2018.

Pada Maret 2019 presentase penduduk miskin di NTT sebesar 21,09 persen, atau sedikit mengalami peningkatan sebesar 0,06 persen poin terhadap September 2018. Namun bila dibandingkan dengan keadaan Maret 2019, terdapat penurunan sebesar 0,26 persen poin.

10 Isu Strategis

Tak hanya menyoroti sejumlah isu yang memalukan, Viktor juga membeberkan 10 isu strategis yang bisa menopang perekonomian di NTT.

Pertama, NTT memiliki lebih dari 400 atraksi wisata yang terhubung dari ujung barat pulau Flores hingga ke perbatasan Negara Republic Democratic Timor Leste (RDTL).

Selain itu, katanya, NTT juga memiliki 12 kabupaten dengan posisi geografi yang berbatasan langsung antara negara asing dengan luas lahan basah pertanian lebih dari 127 ribu hektar dengan lebih dari 37 daerah irigasi, luas dan produksi komoditas perkebunan yang merupakan 10 besar nasional.

Baca juga: Disentil Gubernur NTT ‘Bupati Bodoh’, Ini Tanggapan Bupati Lembata

Menurut Viktor, NTT juga memiliki lahan belum digarap lebih dari 1,5 juta hektar, kualitas rumput laut dan garam industri terbaik di Indonesia, memiliki potensi pengembangan tanaman kelor dengan kualitas terbaik, serta potensi pendapatan asli daerah dan APBD Provinsi lebih dari Rp 6,5 triliun yang terus meningkat setiap tahun.

“Potensi yang ada ini juga didukung dengan konektivitas transportasi darat, laut dan udara telah terhubung ke seluruh wilayah NTT,” tegas Viktor.

Dia juga menegaskan bahwa pembangunan di NTT semakin menggeliat dengan adanya alokasi dana desa mencapai lebih dari Rp3 triliun di 2020.

Ia mengatakan sasaran pembangunan tahun 2020 hingga 2024 adalah meningkatnya kesejahteraan rakyat dan kualitas manusia, menurunnya tingkat kemiskinan dan pengangguran, berkurangnya kesenjangan pendapatan dan wilayah, serta terjaganya keberlanjutan lingkungan dan stabilitas ekonomi.

Sedangkan prioritas pembangunan wilayah di Nusa Tenggara tahun 2020 hingga 2024 yang akan datang sebut Viktor, adalah mendorong percepatan pembangunan daerah berbasis hilirisasi pertanian, perikanan, pertambangan, dan pariwisata dengan memperhatikan lokasi prioritas berdasarkan koridor pertumbuhan dan pemerataan.*