Intip Reaksi Keras Kubu Jokowi atas Ucapan Kontroversial Amien Rais

Intip Reaksi Keras Kubu Jokowi atas Ucapan Kontroversial Amien Rais

JAKARTA, dawainusa.com – Dalam tahun politik ini, Ketua Dewan Pembina Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais kerap melontarkan ucapan kontroversial ke hadapan publik.

Beberapa contoh ucapan kontroversial itu misalnya, ia menyebut kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 seperti Aemagedon atau perang Baratayuda.

Baca juga: Amien Rais: Hamba Allah Itu Namanya Prabowo Subianto

Ia juga pernah mengklaim bahwa Indonesia merupakan sebuah bangsa yang pekok atau bodoh. Tidak hanya itu, ia bahkan dengan penuh keyakinan bahwa sesungguhnya negeri ini sedang dihuni oleh beberapa partai setan.

Berbagai ucapan kontroversial Amien Rais tersebut menimbulkan gejolak dan reaksi dari publik. Tidak terkecuali pada Kubu Jokowi, yang merupakan rival Amien Rais pada Pilpres 2019 nanti.

Reaksi Keras Kubu Jokowi atas Ucapan-ucapan Amien Rais

Lalu bagaimanakah reaksi dari kubu Jokowi atas berbagai ucapan yang dilontarkan oleh Amien Rais tersebut? Berikut Dawai Nusa menyajikannya.

Baca juga: Amien Rais Minta Presiden Jokowi Copot Kapolri Tito Karnavian

Amien Rais Tidak Paham Konstitusi

Ucapan Amien Rais yang menyebut kontestasi Pilpres 2019 seperti Armagedon atau perang Baratayuda ditanggapi oleh Sekretaris Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf, Hasto Kristoyanto.

Menurut Hasto, ucapan Amien Rais itu menandakan bahwa sebenarnya ia tidak paham tentang konstitusi. Armagedon yang bermakna suatu bencana besar dan Baratayuda yang menceritakan tentang perang saudara, jelas bertentangan dengan konstitusi.

Konstitusi, demikian Hasto, berbeda dengan hal itu. Karena dalam konstitusi, Indonesia ditegaskan sebagai negara yang sangat cinta akan kedamaian.

“Kalau ada pemimpin yang katakan demokrasi ini adalah perang, Baratayuda dan sebagainya, berarti dia tidak paham dengan konstitusi kita,” ujar Hasto.

Harus Bijak dalam Berucap

Dikotomi partai setan dan partai Allah yang dilakukan oleh Amien Rais mendapat tanggapan dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Luhut Binsar Pandjaitan.

Karena ucapan yang mendikotomi partai dengan kategori setan dan Allah itu, Luhut manasihati Amien Rais untuk lebih bersikap bijak dalam mengeluarkan suatu perkataan. “Kalau sudah tua-tua gitu musti dipilah-pilah lah (jika mengeluarkan pernyataan),” kata Luhut.

Dianggap seperti Orang Asing yang Numpang Tinggal di Indonesia

Amien Rais juga pernah memberikan tanggapan terhadap Undang-undang Migas No 22/2001. Ia menuding bahwa UU tersebut tidak berpihak kepada kaum pribumi atau lebih pro kepada pihak asing. Bahkan saat itu, ia dengan berani menyimpulkan bahwa Indonesia merupakan sebuah bangsa yang ‘pekok’ alias bodoh.

Ucapan Amien Rais itu kemudian ditanggapi oleh Ketua DPP Hanura, Inas Nasrullah. Atas pernyataannya itu, Ina menuding Amien Rais sebagai orang asing yang hanya menumpang tinggal di Indonesia. “Bangsanya sendiri dihina! Dicaci maki,” ujar dia.

Pilpres Bukan Seperti Perang

Ucapan Amien Rais yang menyebut kontestasi Pilpres 2019 seperti Armagedon atau perang Baratayuda juga mendapat tanggapan dari Juru Bicara TKN Jokowi-Ma’ruf Amien, Ace Hasan Syazdily.

Ia mengatakan bahwa politisi senior PAN itu seharusnya berhati-hati untuk mengeluarkan suatu pernyataan. Pilpres, demikian Ace, bukanlah suatu perang yang akan saling menjatuhkan.

“Pilpres itu bukan perang Baratayudha, bukan Armagedon, bukan ajang untuk saling menjatuhkan, melakukan adu program, gagasan dan ide yang terbaik untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi bangsa,” ujar Ace.

Amien Rais Sangat Provokatif

Kalau dilihat kembali pada Pilpres 2014 lalu, Amien Rais juga sempat mengatakan bahwa kontestasi politik lima tahunan itu seperti perang badar.

Saat itu, ungkapan itu ditanggapi oleh Juru Bicara Capres-Cawapres Jokowi-JK, Abdul Kadir Karding. Ia mengatakan, apa yang disampaikan oleh Amien Rais itu sangat provokatif. Apalagi saat itu, ia memakan sentimen berbasis agama.

“Jangan menghadap-hadapkan rakyat dengan statement provokasi-provokasi yang mengadu domba rakyat,” kata Kadir.

Bagi Kadir, Pilpres sejatinya bukan sebuah perang untuk saling menjatuhkan, bukan untuk mencari siapa yang harus menang atau kalah seperti dalam konteks perang.*

COMMENTS