Inilah Akar Skandal Pelecehan di Gereja Menurut Paus Fransiskus

Inilah Akar Skandal Pelecehan di Gereja Menurut Paus Fransiskus

IRLANDIA, dawainusa.com Paus Fransiskus mengatakan kepada sekelompok Yesuit selama kunjungannya ke Dublin bulan lalu bahwa elitisme dan klerikalisme di Gereja adalah penyebab skandal pelecehan di tempat-tempat seperti Amerika Serikat dan Irlandia.

Paus sendiri memahami sesuatu yang jelas di belakang persoalan itu. Menurutnya, pelecehan seksual yang meluas dan menjadi skandal besar adalah wajah dari Gereja yang elitis. Elitisme ini menunjukkan ketidakmampuan Gereja untuk menjadi dekat dengan umat Allah.

Baca juga: Soal Keyakinan Zuckerberg dan Intervensi Pemilu dalam Facebook

Selama kunjungannya ke Irlandia bulan lalu, Paus Fransiskus melanjutkan tradisi untuk mengunjungi Yesuit setempat dalam perjalanannya. Sekalipun pertemuan 25 Agustus tersebut ditutup untuk media, pernyataan Paus itu diterbitkan oleh jurnal yang dikelola Yesuit La Civilta Cattolica pada 13 September.

Kepada sekelompok Yesuit yang berjumlah 63 orang, kebanyakan dari mereka berkewarganegaraan Irlandia, Paus berkata bahwa elitisme dan klerikalisme menumbuhkan setiap bentuk pelecehan. Dia meminta bantuan mereka untuk mengakhiri pelecehan tersebut.

“Carilah obat, reparasi, yang diperlukan untuk menyembuhkan luka dan memberikan kehidupan kembali kepada begitu banyak orang,” katanya seperti dilansir Catholicnewsagensy.com.

Fransiskus percaya bahwa pelecehan seksual bukan pelecehan yang pertama. Yang pertama adalah pengingkaran terhadap hati nurani.

Yesus Datang untuk Membawa Sukacita, Bukan Moral Kasuistis

Ketika ditanyai apa tindakan konkrit yang bisa Jesuit ambil, dia berkata bahwa Gereja harus berani mengecam kasus yang diketahui dan menegaskan kembali bahwa pelecehan seksual adalah konsekuensi dari penyalahgunaan kekuasaan dan hati nurani.

Menyamakan otoritarianisme dan klerikalisme, Fransiskus bertanya, “siapa di antara kita yang tidak mengenal seorang uskup yang otoriter?”

Baca juga: Skandal Seksual Pastur di Jerman, Anak di Bawah Umur jadi Korban

Selamanya di Gereja ada para uskup otoriter dan atasan agama. “Namun, otoritas dalam Gereja dengan otoritarianisme adalah dua hal yang berbeda.”

Selama pertemuan singkat itu, Paus juga merujuk pada pertemuan yang sebelumnya ia lakukan dengan delapan orang yang selamat dari pelecehan seksual, di mana ia juga mendengar kasus-kasus yang dialami mereka. Dia mengatakan kasus-kasus tersebug sangat menyentuh hatinya

“Saya benar-benar tidak dapat mempercayai cerita-cerita yang telah terdokumentasikan dengan baik. Saya mendengar mereka di ruangan lain dan sangat kesal,” ungkapnya.

Kepada komunitas yang ditemuinya, ia mengatakan bahwa ini adalah misi penyelamatan yang harus diatasi. Dia juga mengatakan kepada anggota Serikat Yesus untuk bekerja agar kesegaran Injil dan kegembiraannya dipahami.

“Yesus datang untuk membawa sukacita, bukannya moral kasuistis. Ia datang untuk membawa keterbukaan, belas kasihan,” ungkapnya.

Paus menambahkan, Yesus memiliki ketidaksukaan yang kuat terhadap mereka yang korup. Injil Matius di bab 23 adalah contoh dari apa yang Yesus katakan kepada mereka yang korup. Elitisme dan klerikalisme adalah sumber dari korupsi tersebut.

Selain itu, mengenai menghadirkan wajah Yesus yang berbelas kasih, Paus mengatakan bahwa pengakuan dosa harus menggambarkan belas kasih Yesus, bukannya ruang penyiksaan atau sofa psikiater. “Kita harus menjadi cerminan dari Yesus yang penuh belas kasihan,” kata paus.

“Dan apa yang Yesus minta dari pezina?” Berapa kali dan dengan siapa? Tidak! Dia hanya berkata, Pergi dan jangan berbuat dosa lagi,” ungkapnya.

Sukacita Injil adalah belas kasihan Yesus. Kelembutan ini, demikian Fransiskus, membuat Yesus didekati orang banyak, orang biasa, dan sederhana.

Orang miskin adalah inti dari injil. Oleh karena itu, imam harus bisa meneladani Yesus, bukannya terjebak dalam kepemimpinan struktural yang membuat tugas imamatnya menjadi kaku. Paus menyasar faktor yang begitu fundamental, kenapa pelecehan seksual bisa terjadi di dalam hirarki.

Ketidakpekaan terhadap kemiskinan, kenyamanan dalam ruang elitis imam, dan keberadaan umat yang memperlakukan pastur seperti raja memungkinkan tumpulnya nurani imam untuk merasa peka. Dalam situasi itulah, dorongan-dorongan untuk bertindak keji semakin tidak tertahankan.

Pertanyannya, apakah belas kasih Yesus yang dideskripsikan Paus berarti bahwa pelaku pelecehan seksual harus dimaafkan? Memaafkan memang tugas siapapun sebagai seorang Katolik. Tetapi, itu tidak berarti bahwa pelaku pelecehan lepas dari tuntutan pengadilan.*