Surat Nabi Muhammad SAW untuk Pendeta Nasrani di Gunung Sinai

Surat Nabi Muhammad SAW untuk Pendeta Nasrani di Gunung Sinai

Yang menjadi unik adalah Biara ini tidak hanya menyimpan ribuan manuskrip abad silam dan karya seni Kristen yang mengagumkan, tetapi juga sebuah surat dari Nabi Muhammad SAW, Nabi junjungan sekaligus  pemimpin umat Islam. (Foto: Gunung Sinai - viator.com)

KAIRO, dawainusa.co Tepat di bawah kaki Gunung Sinai, berdiri salah satu biara tertua yang masih berfungsi hingga saat ini. Biara itu adalah Biara Santa Katarina yang didirikan sewaktu Ratu Helena, ibu dari Kaisar Konstantinus memprakarsai pembangunan sebuah Gereja pada tahun 337 Masehi.

Selain itu, di lokasi ini – tempat suci tiga agama besar,  yakni Yahudi, Kristen dan Islam diyakini pula sebagai tempat Nabi Musa melihat bara api dari semak duri yang tak terbakar.

Terkait Biara Santa Katarina sendiri, dalam perkembangan selanjutnya, namanya sempat diganti menjadi Biara Transfigurasi. Hal itu berketetapan dengan pembangunan Basilika Transfigurasi oleh Kaisar Justinus antara tahun 527-565 Masehi. Namun sejak kehadiran relik sang martir di situs ini pada abad ke-9 Masehi, Biara ini lebih dikenal dengan nama Biara St. Katarina dari Alexandria.

Baca juga: Pemerintah Mesir Dinilai Lemah Hadapi Kelompok Teroris

Yang menjadi unik adalah Biara ini tidak hanya menyimpan ribuan manuskrip abad silam dan karya seni Kristen yang mengagumkan, tetapi juga sebuah surat dari Nabi Muhammad SAW, Nabi junjungan sekaligus  pemimpin umat Islam.

Surat yang ditulis tahun 623 Masehi ini berisi tentang perintah Nabi Muhammad untuk menghormati dan melindungi hak asasi dan kebebasan beragama umat Kristen.

Surat Nabi Muhammad SAW Untuk Pendeta Nasrani

Surat Nabi Muhammad SAW Untuk Pendeta Nasrani (Foto: kaskus.co.id)

Terjemahan Surat Nabi Muhammad SAW

Dilansir dari kaskus.co.id, berikut kutipan Bahasa Inggris dan terjemahan dari surat tersebut;

Quote:

“This is a message from Muhammad ibn Abdullah, as a covenant to those who adopt Christianity, near and far, we are with them. (Ini adalah pesan dari Muhammad bin Abdullah, sebagai sebuah perjanjian dengan mereka yang memeluk agama Kristen, baik yang dekat maupun yang jauh, kami bersama dengan mereka).

Verily I, the servants, the helpers, and my followers defend them, because Christians are my citizens; and by Allah! I hold out against anything that displeases them. (Bahwasanya aku, para pelayan, penolong, dan pengikutku membela mereka, karena orang-orang Kristen adalah rakyatku; dan demi Allah! Aku menentang apapun yang tidak menyenangkan mereka).

No compulsion is to be on them. (Tidak boleh ada pemaksaan terhadap mereka).

Neither are their judges to be removed from their jobs nor their monks from their monasteries. (Para hakim mereka tidak boleh diberhentikan dari pekerjaan mereka, dan para biarawan tidak boleh dikeluarkan dari biara mereka).

No one is to destroy a house of their religion, to damage it, or to carry anything from it to the Muslims’ houses. (Tidak boleh ada seorang pun yang menghancurkan tempat ibadah mereka, atau merusaknya, atau memindahkan apapun dari situ ke rumah kaum Muslim).

Should anyone take any of these, he would spoil God’s covenant and disobey His Prophet. (Jika ada yang melakukan hal-hal ini, ia melanggar perjanjian Allah dan tidak mematuhi Rasul-Nya).

Verily, they are my allies and have my secure charter against all that they hate. (Bahwasanya, mereka adalah sekutuku dan dengan mereka aku menetapkan perjanjian yang kuat melawan semua yang mereka benci).

No one is to force them to travel or to oblige them to fight. (Tidak ada seorang pun yang memaksa mereka pergi atau mewajibkan mereka untuk berperang)

The Muslims are to fight for them. (Muslimlah yang akan berperang bagi mereka).

If a female Christian is married to a Muslim, it is not to take place without her approval. She is not to be prevented from visiting her church to pray. (Jika seorang perempuan Kristen dinikahkan kepada seorang Muslim, hal itu tidak boleh terjadi tanpa persetujuannya. Ia tidak boleh dilarang pergi ke gerejanya untuk berdoa).

Their churches are to be respected. They are neither to be prevented from repairing them nor the sacredness of their covenants. (Gereja-gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dicegah dari memperbaiki gereja-gereja itu, ataupun dari kesucian perjanjian-perjanjian mereka).

No one of the nation (Muslims) is to disobey the covenant till the Last Day (end of the world).” (Tidak boleh ada umat Muslim yang tidak mematuhi perjanjian ini sampai Hari Terakhir (kiamat)”

Menurut tradisi, sebuah delegasi dari Sinai memohon perlindungan dari Nabi Muhammad. Hal ini dikabulkan dan sebuah surat ditulis serta disahkan dengan menaruh tangannya di atas dokumen itu.

Pada tahun 1517, Sultan Selim I, dengan mengakui isi dokumen itu, membawanya untuk disimpan dalam perbendaharaan istana di Konstantinopel. Ia pun memberikan salinan untuk disimpan di biara St. Katarina, yang turut disertai gambaran telapak tangan sebagai lambang bahwa dokumen itu disahkan oleh Nabi Muhammad. Dokumen ini sekarang disimpan di Museum Topkapi di Istambul, Turki.

Biara St. Katarina, yang merupakan salah satu dari situs warisan dunia, merupakan rumah dari manuskrip Alkitab, Kodeks Sinaitikus (ditulis 330-350 Masehi), yang saat ini disimpan di British Library.

Di dalam St. Katarina juga terdapat Mesjid Fatima yang baru-baru ini direnovasi. Bangunan ini merupakan sebuah kapel yang berubah fungsi menjadi mesjid pada tahun 1106 dan tepat berdiri di samping gereja Ortodoks, sehingga minaretnya berdekatan dengan menara lonceng gereja.

Mesjid ini menjadi lambang perlindungan dari para kalifa Mesir, termasuk toleransi dari para biarawan terhadap Islam. Penduduk lokal Beduin, Jabaliya, secara turun-temurun memegang kunci mesjid ini.*