Ini Profil Emmanuel Alvino, Pria yang Menganiaya ART Maghfiroh

Ini Profil Emmanuel Alvino, Pria yang Menganiaya ART Maghfiroh

JAKARTA, dawainusa.com Tindakan yang dilakukan oleh Emmanuel Alvino (37) atau Pinoy terhadap mantan pembantunya Maghfiroh (28) memang keterlaluan dan di luar batas kemanusiaan.

Lantaran dituduh mencuri uang Rp 1,5 juta saat masih bekerja di rumah Emmanuel, ibu dua anak itu dipukul, digunduli, dan dipersekusi secara kejam.

Tuduhan Pinoy tersebut tidaklah mendasar sehingga tak serta merta diakui oleh Maghfiroh. Maghfiroh pun menerima penyiksaan keji, rambutnya habis dan wajahnya mengalami lebam.

Baca juga: Kisah Maghfiro, PRT yang Dianiaya dan Dibotaki Majikannya

Maghfiroh yang sehari-hari tinggal di Parung Panjang itu lantas melaporkan perbuatan Pinoy ke Polres Bogor. Pinoy pun saat ini telah dipanggil oleh pihak kepolisian untuk bertangnggung jawab terhadap perbuatannya itu.

Emanuel Alvino

Emanuel Alvino (Foto: Facebook)

Kapolres Bogor AKBP Andi M Dicky mengatakan, dalam kasus ini Pinoy diancam dijerat dengan Pasal 365 jo. KUHPidana dengan ancaman pidana di atas 5 tahun.

“Pelaku dikenakan Pasal 365 Jo. 352 KUHPidana dengan ancaman hukuman penjara di atas 5 tahun,” kata Dicky dalam keterangan persnya, Selasa (21/8).

Bikin Ulah di Pilkada DKI Jakarta

Sebelum terlibat kasus penganiayaan Maghfiroh, nama Pinoy pun sudah ramai menjadi perbincangan di media sosial. Pria yang tinggal di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan, itu pernah berulah semasa Pilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 silam.

Pinoy yang selalu tampil dengan rambut botak mengunggah foto kurang pantas terkait para kandidat yang maju dalam Pilgub. Dia membuka sebagian celananya sembari melontarkan kalimat bernada negatif. Dengan entengnya, pria yang menuliskan dirinya lulusan LSPR Jakarta itu menganggapnya sebagai guyonan belaka.

Bikin Ulah di Pilkada DKI Jakarta

Bikin Ulah di Pilkada DKI Jakarta (Foto: Facebook)

Akan tetapi, entah apa yang membuatnya tersadar, pria yang kerap memamerkan fotonya dengan mobil mewah itu mengakui perbuatannya tersebut salah dan tidak mencerminkan kampanye sehat.

Dia pun menghapus foto-foto itu dan meminta maaf terhadap semua kandidat, Agus-Sylvi, Basuki-Djarot, dan Anies-Sandi. Pinoy juga meminta agar publik tak lagi menyebarkan fotonya itu.

Meski begitu, kali ini jejak digital masilah ada sekalipun Pinoy telah menghapusnya. Foto Pinoy itu kembali ramai diperbincangkan publik selepas kasus penganiayaan yang dia lakukan terhadap Maghfiroh.

Memang, selama ini Pinoy yang tercatat mengembangkan sebuah bisnis itu aktif berselancar di media sosial. Unggahannya kebanyakan lagi-lagi tak jauh dari politik yang dihumorkan.

Kronologi Kasus Maghfiroh

Kejadian ini bermula ketika Maghfiroh yang kabarnya baru bekerja selama 1 minggu di rumah EA meminta diri untuk dipulangkan.

Pasalnya, setiap hari, ia selalu diperlakukan secara tidak manusiawi, yakni sering dibentak-bentak bahkan cenderung mendapat perlakuan diskriminatif berkonten SARA dari majikannya tersebut.

Maghfiroh sendiri menjadi seorang pekerja di rumah EA karena diminta dan dianjurkan oleh penyalur dan agen ketenagakerjaan Yayasan Citra Kartini.

Kisah Maghfiro, PRT yang Dianiaya dan Dibotaki Majikannya

Maghfiroh  (Foto: Kumparan)

Pihak Yayasan Citra Kartini sendiri telah mengetahui nasib Maghfiroh di rumah EA yang cenderung diperlakukan secara tidak manusiawi. Mereka juga sudah berjanji akan menjemputnya.

Akan tetapi, janjinya itu tak kunjung datang. Pihak dari Yayasan Citra Kartini justru menganjurkan Maghfiroh untuk tetap bertahan di kediaman EA.

Tidak tahan hidup di bawah situasi seperti itu, Maghfiroh yang merupakan janda dua anak ini akhirnya nekad memberikan keputusan untuk keluar dari rumah EA dan segera melarikan diri.

Melihat Maghfiroh meninggalkan rumahnya, yaitu pada 10 Agustus lalu, EA kemudian bergegas menuju rumah Maghfiroh yang terletak di Parung Panjang. Di sana, EA sempat berbincang-bincang dengan orang tua dan kedua anak Maghfiroh.

Pada saat itu, Maghfiroh diketahui telah mendapat sebuah pekerjaan baru, yakni di sebuah konveksi. Ketika EA berada di rumahnya, Maghfiroh masih berada di tempat kerjanya.

Karena tidak sabar menunggu, EA langsung menyusul Maghfiroh bersama orang tua Maghfiroh menuju tempat kerjanya.

Sesampainya di tempat kerja Maghfiroh yang terletak di kawasan Ruko Permata Parung Panjang, EA langsung mempersekusi dan mengintimidasi Maghfiroh. Ia dituduh telah melarikan uang sebesar Rp 1,5 juta dari rumah EA.

Maghfiroh sendiri menganggap bahwa tindakan EA tersebut merupakan sebuah tuduhan. Karena itu, ia menyanggah bahwa dirinya melakukan hal demikian.

Rupanya, EA tetap ngotot dan menuduh Maghfiroh sebagai pelaku pencurian uang. Karena disanggah oleh Maghfiroh, EA semakin marah bahkan dengan berani ia memukul Maghfiroh di hadapan orang tuanya.

Melihat anaknya itu diperlakukan kasar oleh EA. Ayah Maghfiroh kemudian mencoba melerai sambil memperingati EA agar tidak memperlakukan Maghfiroh demikian.

Meski begitu, EA tetap terus melakukan aksinya dengan kemudian menyeret Maghfiroh keluar dari kompleks dan diculik serta dilarikan secara paksa dengan menggunakan mobil.

Tidak cukup dengan itu, EA juga meminta sopir untuk menghentikan mobilnya dan kemudian menyeret Maghfiroh menuju seorang tukang cukur dan meminta untuk mencukur botak rambut Maghfiroh.

Setelah itu, Maghfiroh di seret kembali ke dalam mobil dan dibawa ke kompleks rumah EA dengan maksud dihadapkan kepada salah satu karyawan rumah tangga terkait dugaan pencurian tersebut.

Maghfiroh sendiri terus mempertahankan dirinya bahwa tuduhan EA tersebut sama sekali tidak benar. Karena terus seperti itu, ia pun kemudian dibawa ke pos keamanan.

Tidak cuma sampai di situ, EA bahkan sempat memposting foto Maghfiroh yang sudah dalam keadaan tersiksa dan kepala botak ke media sosial milik EA. Hal ini dilakukan untuk mempermalukan Maghfiroh di jagat media sosial.

Meski demikian, Maghfiroh terus mengatakan bahwa dirinya tidak bersalah. Karena itu, ia kemudian diseret kembali ke Polsek Pondok Aren untuk membuat BAP.

Pada saat itu, seorang polisi yang berada di Polsek itu yang bénama Nasir juga diduga melihat kembali beberapa pemukulan dan pemaksaan dengan kekerasan yang dilakukan terhadap Maghfiroh.

Sesudah dari Polsek Pondok Aren, Maghfiroh kembali diseret ke pos Satpam komplek perumahan EA. Tidak lama setelah itu, Maghfiroh kembali dibawa ke Yayasan Citra Kartini Jalan Kucica Sektor 9 Bintaro Jaya, sekitar pukul 00.00 WIB malam.